Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Silakan Marahi Saja Dia


__ADS_3

Baik Ezra, Kelvin, Sayu juga Ana - semua dipanggil oleh Bu Suli meski malam sudah larut. Melihat kedatangan Bia dan Dira membawa Divan tentu menjadi sebuah dentuman besar untuk guru mereka itu. Terlebih selama ini dia selalu percaya keduanya anak yang pintar dan Dira selalu menjaga Bia dengan baik.


"Coba ulangi di depan sepupumu ini," tegas Bu Suli. Sejak tadi Divan yang sedang tertidur di pangkuan Bia menjadi objek yang paling disorot oleh orang-orang yang baru tiba di rumah itu.


Kembali Dira menghela napas panjang. Ia condongkan tubuhnya sedikit ke depan sambil menggenggamkan kedua tangannya. "Anak ini putraku dan Bia," aku Dira pada gurunya itu. Kembali Bu Suli menelan kekecewaan. Awalnya ia pikir itu hanya candaan Dira dan Bia saja.


Kelvin mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa? Maksudnya? Kalian dulu itu ...."


"Jelaskan sekalian! Kamu seorang pria harusnya yang bertanggung jawab menjelaskan ini!" Jelas sekali wajah Bu Suli tengah menahan emosi. "Sebelum itu, kamu baringkan dulu anakmu di kamar, Bi. Biar Analis yang mengantar."


Bia mengangguk. Bu Suli memanggil putri satu-satunya, Analis yang lebih tua dari Bia enam tahun. Analis mengantar Bia menuju kamar tamu.


"Bagian kamu yang jelaskan bagaimana bisa kalian punya anak?" tegas Bu Suli.


Dira sudah siap dihakimi. Bagaimanapun ia sadar posisinya memang salah. "Jangan salahkan Bia. Apa yang kami lakukan dulu hingga memiliki anak itu, berawal dari inisiatifku sendiri," jelas Dira.


Mendengar itu Kelvin menggelengkan kepala. "Saat SMA?" tebak Kelvin.


Dira mengangguk. "Jadi dari SMA kalian sering melakukan hal seperti itu dan kamu masih tega ninggalin dia dengan Cloena?" Tak tahu mengapa, dulu saja Kelvin masih kesal karena Dira meninggalkan Bia. Sekarang lebih kesal karena tahu Bia ditinggalkan setelah kesuciannya direnggut.

__ADS_1


"Waktu itu aku gak tahu kalau dia hamil. Dia juga gak bilang," jawab Dira.


"Terus kalau dia gak hamil kamu bisa seenaknya gak tanggung jawab? Di Heren tinggal bersama tanpa pernikahan memang masih wajar, tapi kamu besar di Emertown. Kamu tahu adat kota ini. Kalau bukan kamu,ย siapa yang mau menerima Bia setelah keadaanya begini? Pernah mikir sampai sana?" omel Ezra.


"Itulah, tingkah kamu sejak dulu sering seenaknya! Sampai gak mikir perasaan orang lain!" Kelvin menambahkan.


Biasanya Dira bisa menimpali kedua sepupunya ini. Namun, karena kesalahannya, ia memilih menerima omelan mereka. Sepupunya juga menjadikan ini kesempatan balas dendam.


"Ibu selalu percaya kamu bisa menjaga Bia dengan baik. Nyatanya pagar itu sendiri yang makan tanamannya. Lebih bodoh lagi, ibu izinkan kamu bersama wanita itu. Tanpa ibu tahu jika Bia menderita sendiri akibat menahan rasa malu."


Habis sudah Dira malam itu terkena nasehat panjang dan omelan. Ia merenungi perbuatannya sejak mengetahui keberadaan Divan sehingga ia sudah siap dengan semua cercaan ini.


Bia mengangguk. "Tante kena serangan jantung karena tahu aku hamil," aku Bia. Ana dan Sayu terbelalak. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana Bia saat itu.


"Lalu saat Tante kamu meninggal, siapa yang urus?"


"Tetangga. Karena kami juga gak punya kerabat." Bia memelintir sisi jahitan taplak meja di depannya sambil menunduk melihat lantai.


Dira sama syoknya. Bia tidak menceritakan masalah ini padanya. Ia juga belum sempat bertanya.

__ADS_1


"Tetangga juga yang nolongin kamu?" tanya Bu Suli semakin jelas agar ia tahu sejauh apa penderitaan gadis itu.


Bia menggeleng. "Setelah pemakaman tante, aku diusir. Jadi aku tinggal di motel beberapa hari sampai dapat tempat tinggal sekarang. Banyak orang yang tidak menerimaku. Aku juga gak mungkin menyembunyikan kehamilanku."


Bu Suli mengusap dada. "Jadi kamu sendirian?" tanyanya yang langsung mendapat jawaban berupa anggukan di kepala Bia. "Lalu siapa yang menemanimu melahirkan?"


"Gak ada. Aku sendirian. Ke rumah sakit juga sendiri, pulang juga sendiri." Meski sambil tersenyum jelas terlihat guratan kepedihan di wajah Bia.


Dira yang paling merasakan itu. Jika harus, ia ingin mengutuk dirinya sendiri. Dalam benak, ia membayangkan betapa Bia kesulitan dengan perut yang semakin membesar berjalan sendiri ke rumah sakit sambil kesakitan. Namun, ia yakin kenyataan akan terlihat jauh lebih buruk dari apa yang ia bayangkan.


"Kenapa gak minta bantuan orang lain?" tanya Sayu sambil memegang bahu Bia.


"Divan lahir pas malam tahu baru. Aku gak enak kalau ganggu orang lain lagi pesta. Bahkan sama dokter dan susternya pun sampai sekarang masih merasa malu kalau ketemu." Bia begitu polos saat mengutarakan alasannya.


"Kamu dengar itu! Saat dia kesulitan begitu kamu di mana? Tiap malam tahun baru kamu pasti jalan-jalan ke luar negeri dengan wanita itu. Sementara Bia harus melewati semua itu sendirian. Enak banget hidup kamu, Dir!" Ezra masih belum puas mengomeli Dira.


"Harusnya kamu bilang sama kami. Biar kami seret Dira ke kamu," tekan Kelvin.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


Daun keramatnya ganti ah bosen.


__ADS_2