Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Papah Sayang


__ADS_3

Lambaian tangan Dira menjadi perhatian Divan dan Diandre pagi itu. Mata keduanya tak lepas melihat ayah mereka masuk ke dalam mobil dan tak lama meninggalkan sisi teras. Diandre langsung menangis sesegukan sambil memegang bahu ibunya dalam gendongan. Divan masih diam, sesekali menengok ke arah gerbang lalu menengok ibunya.


"Papa," panggil Diandre lirih. Isakannya membuat hati yang mendengar merasa tersayat. Bia menimang-nimang putranya sambil memperlihatkan mainan kesukaan Diandre, tapi anak itu masih saja menangis.


Usia Divan sekarang sudah empat tahun enam bulan. Sebentar lagi ia mau masuk sekolah. Sedang Diandre menginjak usia satu tahun, kini dia sedang suka-sukanya membuat berantakan rumah dan lebih lekat dengan ibu serta ayahnya. Karena itu, ketika Dira tadi meninggalkan rumah untuk pergi ke Amerika selama dua minggu, Diandre menangis sampai tangannya memukuli Bia.


"Diande, jangan nangis, malu tahu! Liat sama nenek-nenek, tuh!" komentar Divan sambil mengusap punggung adiknya.


"Makasih kakak Divan sudah mau menenangkan Diandre. Mungkin kakak Divan punya cara lain?" tanya Bia sambil sedikit menunduk agar Divan bisa sejajar dengan Diandre.


Divan mengusap adiknya. "Diande main sama kakak, yuk! Main lempar balok," saran Divan. Anak itu tahu, kalau hanya mainan Diandre yang bisa dilempar dan dirusak karena terbuat dari bahan yang lebih kuat. Sementara mainan sendiri ia jaga baik-baik.


"Kak Divan mau ikut lempar juga?" tanya Bia lagi. Divan menggeleng. "Divan sudah empat tahun, mamah. Sudah jaga mainan sekarang. Diandre masih satu tahun, belum tahu tanggung jawab," jawab Divan.


Mendengar kakaknya bicara, Diandre berhenti menangis. Hanya sisa cegukannya. Mata merah dan basahnya menatap Divan dengan lirih sambil mengulurkan tangan.


"Wah, Diandre sepertinya ingin main dengan kakak." Bia menurunkan Diandre ke lantai. Divan mengangguk. Ia pegang tangan Diandre dan menuntunnya ke kamar. Mereka mulai tidur di kamar yang sama. Hanya Bia menyesuaikan ukuran meja tempat mainan Divan agar hanya Divan yang bisa meraihnya, sedang Diandre tidak.


Bia mengikuti kedua putranya. Rutinitas ibu muda ini di Heren masih sebatas menjaga anak. Bia sempat mendaftar kuliah, hingga akhirnya memilih mundur akibat tak mood. Jiwa pelajarnya hilang setelah jiwa keibuannya mulai meratui.

__ADS_1


Kadang-kadang Bia sering pergi ke salon sambil membawa kedua putranya meski harus diikuti pengawal. Vlog Divan semakin ramai dan bahkan beberapa kali anak itu dapat undangan masuk televisi. Sedang D-zone semakin luas pemasarannya hingga sampai ke Amerika.


"Kakak besok diantar mamah ke acara talk shownya, ya?" tanya Bia.


Dengan yakin Divan mengangguk. Divan jarang tampil di televisi karena hanya mengikuti jadwal libur Dira. Hanya saja acara yang satu itu, sudah Dira terima sebelum dia tahu ada pertemuan bisnis di New York.


"Dian, liat ini!" tunjuk Divan membangun menara hingga sepuluh tingkat dengan kubus. Hanya jiwa Diandre membuat bayi itu langsung menghancurkannya. Divan tak merasa kesal, ia malah tertawa senang karena gemas melihat Diandre yang sampai terjatuh hanya karena tak sabar menghancurkan menara buatannya.


Permainan kedua kakak dan adik yang memiliki jiwa sosial berbeda tahapan itu hanya sebatas, Divan membangun dan Diandre yang menghancurkan.


"Mah!" panggil Divan memberikan sebuah mainan mobil-mobilan. "Kenapa ini ada di mainan Diandre?" tanya Bia bingung dengan suara lembutnya.


Divan nyengir. "Divan lupa simpan, jadi Diandre ambil. Nanti hati-hati, deh," timpalnya.


Divan ikut cekikikan. "Diande lucu!" serunya sambil mencubit gemas pipi Diandre.


Siang mulai datang. Diandre mengantuk dan ia tidur siang dalam pelukan Divan. Bia menatap kedua putranya dengan tenang lalu ia membereskan mainan Diandre. Bia tak pernah meminta Divan membereskan mainan Diandre kecuali jika ia ikut bermain. Alasannya, Divan juga harus memiliki otoritasnya sendiri. Ia harus mulai paham jika ada hal yang menjadi tanggung jawabnya dan ada hal yang bukan. Tak seharusnya ia mengambil tanggung jawab orang lain, jika begitu nanti ia mudah kalah dalam pergaulan.


Selesai membereskan mainan Diandre, Bia turun ke lantai bawah. Ia hendak makan camilan siang. Karena harus memperhatikan kedua putranya makan, Bia kadang harus makan jika ada waktu senggang seperti ini.

__ADS_1


"Nyonya, undangan dari Tuan Matteo." Seorang pelayan memperlihatkan sebuah undangan pada Bia. Dengan wajah berbinar, Bia membukanya.


"Akhirnya dia nikah juga dengan Cynthia," ucap Bia senang sambil membuka undangan untuk melihat tanggal pastinya.


Selesai makan, Bia kembali ke kamar. Ia berniat mengecek keadaan putranya. Takut-takut Diandre bangun dan mengganggu Divan. Pelan-pelan Bia membuka pintu karena takut terdengar dan mengganggu.


Wanita itu kaget, mendengar suara sesegukan di dalam sana. Divan sedang duduk di meja belajarnya sambil memegang tablet di tangan. Ia menangis hingga terdengar suara isakan berkali-kali.


"Papah," panggilnya lirih. Sesekali tangan mungilnya mengusap air mata yang keluar. Bia menarik napas panjang. Ia dekati Divan pelan-pelan dan memeluknya dari belakang.


Divan kaget mengetahui ibunya ada di sana. Ia tadi menangis setelah Bia pergi agar tak diketahui Bia. Sayang, perasaan ibu tak bisa dibohongi.


"Nanti sampai di Amerika, papah pasti video call Divan. Papah juga sedih loh, papah pasti di sana juga kangen. Di sini kalau Divan menangis, ada mamah yang meluk. Di sana kalau papah menangis karena Divan menangis, siapa yang peluk papah, ya?"


Divan mengusap air matanya. "Divan gak boleh nangis?" tanyanya.


Bia menggeleng. "Gak apa-apa. Nangis boleh, kok. Itu artinya Divan merasa sedih dan kangen sama papah. Divan sayang papah makanya gak mau papah pergi. Hanya menangis lama-lama bisa buat mata bengkak dan papah ketika video call pasti lihat," jelas Bia.


Divan mengangguk. "Iya, Divan sudah lama nangisnya. Sekarang berhenti dulu, ya?" tanya Divan.

__ADS_1


Bia mengangguk. Divan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Bia. "Papah pasti pulang, kan?" tanya Divan. Bia membalasnya dengan anggukan.


🍁🍁🍁


__ADS_2