
Dira sebenarnya masih marah, sayang amarahnya kalah melihat wajah Divan yang sedang gusar. Di kursi belakang, ia melipat tangan sambil sesekali melirik tajam ibu dan ayahnya.
"Divan dak sayang agi. Papah sayang mamah, mamah sayang papah. Divan lupain, Divan sendili agi," curhatnya.
Bia dan Dira tak mampu berkata. Mereka salah memang meninggalkan Divan di aula sekolah. Untung anak itu mandiri mencari tante dan oomnya sehingga tak hilang.
"Cukup! Jangan baik-baik Divan agi. Divan dak pelcaya. Kalian palcu smua!" omelnya lagi.
Bia dan Dira menggeleng. Semakin lama anak itu semakin pintar bermain drama Korea. "Mungkin sudah besar dia jadi penerus Cloena," komentar Bia sambil berbisik takut Divan mendengarnya. Syukur anak itu tertarik dengan pemandangan ladang jagung yang sudah dipanen dan kini hanya menjadi lahan kosong luas ditutupi salju.
"Bikin olaf!" serunya sambil duduk melompat-lompat di jok mobil.
"Jadi anak kecil enak, ya. Marah langsung hilang cuman gara-gara salju, tapi kesal di sini malah gak hilang-hilang," keluh Dira.
Bia mendelik. "Gitu saja masih jadi bahan omel, apa kabar yang tiga tahun barengan?" sindir Bia.
Dira mendengkus. "Tiga tahun barengan kalau masih ingat, pantas saja. Ini cuman barengan sebulan, tapi masih ingat ... kelihatan banget bucinnya." Dira tak mau kalah. Sejak dulu Sunny memang jadi satu bagian paling mengganjal untuk Dira. Apalagi kalau Bia sudah tiba-tiba curhat kesal dengan Reta - istrinya Sunny.
Bia menyandarkan kepala di bahu Dira. "Kok aku seneng ya ... lihat kamu cemburu. Unyu-unyu gimana," ledek Bia.
Divan melirik ke arah jok depan. Lagi-lagi melihat ayah dan ibunya bermesraan, membuat ia rindu dengan pororo dan oginya.
Ponsel Dira berdering. Lekas ia perika layar ponsel. Telpon dari ibunya. "Aku pikir dari wartawan yang viralin video aku nonjok mantan kamu," kelakarnya. Bia ikut tertawa.
"Dira, kamu bisa pulang ke Heren? Tolong bantu Daren gantikan papahmu. Kami akan pergi ke luar negeri, sahabat papahmu meninggal," ucap Maria begitu Dira mengangkat telponnya. Terlihat Dira berpikir lumayan lama sampai harus menepikan mobilnya.
"Mamah tahu Dira ingin hidup damai di sini, kan? Kenapa malah di suruh balik lagi?" protes Dira dengan wajah merajuk seperti anak kecil.
"Hanya beberapa hari, setelah itu kamu bisa ke Emertown lagi. Kamu itu kenapa sih gak pernah sedikit saja wujudin keinginan Mamah."
Akhirnya kalimat kunci seorang ibu itu mampu membuat Dira tak bisa menolak. "Hanya beberapa hari saja, ya?" tegas Dira.
"Iya, putraku sayang."
"Aku berangkat besok dengan Bia dan Divan. Kalau ditinggal nanti Bia gak bisa tidur," canda Dira.
Bia yang kesal langsung memukul lengan Dira. "Gak gitu, mah! Dira yang gak bisa tidur kalau gak ada aku!" ralat Bia.
__ADS_1
"Nenek!" panggil Divan dari jok belakang. Dira menekan tombol speaker ponselnya.
"Divan! Cucu Nenek yang ganteng," puji Maria.
"Nek, Divan tadi ditigal papah sama mama, lho!" adunya.
Dira dan Bia menunduk. "Ditinggal bagaimana?" tanya Maria bingung. Bia dan Dira menyimpan telunjuk di depan bibir. Inginnya Divan berhenti mengungkap kebodohan mereka saat reuni tadi.
Divan tersenyum licik. Ia mengulurkan tangan. "Beli mobin tuk, ya?" pintanya. Bia dan Dira mendengus. Terpaksa mereka mengangguk.
"Ditinggan bobo sendili, Nek," jawab Divan setelah yakin ia akan membeli truk mainan baru.
"Ouh, Divan sudah besar. Harus belajar bobo sendiri, ya?" nasehat Maria.
"Iya, Nek. Divan udah cuweg (swag), kan," timpalnya.
Setelah Maria menutup telpon, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah. Namun di tengah jalan, Bia meminta berhenti di sebuah mini market. "Aku mau makan es krim," pintanya.
"Ini musim dingin, sayang. Nanti kamu sakit lagi. Besok kita ke Heren, loh!" tolak Dira.
"Katanya diet," ledek Dira. Bia hanya terkekeh. Musim dingin memang bukan waktu tepat untuk diet.
Dira membuka pintu mobil. Ia turun dan berjalan menuju mini market untuk membelikan istrinya camilan.
Bia melirik ke belakang. Divan sedang duduk sambil mengangkat-angkat kakinya. "Kamu lagi apa?" tanya Bia.
Divan menggeleng. "Mah, Divan bisa jadi besal?" tanya Divan terlihat wajahnya penuh dengan beban.
"Besar? Gendut?" tanya Bia kurang mengerti apa yang dimaksud oleh putranya.
"Dak mau kayak mamah, kayak papah loh. Cini ... cini otot-ototan." Divan menunjuk lengan kanan dan kirinya.
Bia tertawa. Bagi anak laki-laki, papah itu memang selalu jadi idola, setidaknya sampai ia kenal dengan dunia luar. "Coba Divan ikut gym sama papah. Kan papah suka angkat-angkat besi gitu. Makanya ototan," jelas Bia.
Divan menggeleng. "Dah coba, belat. Divan macih kecil lho, dak bisa bawa belat-belat," tolaknya.
"Iya, karena masih kecil makanya belum ada ototnya."
__ADS_1
Divan menepuk jidat. "Mamah ini dak ngelti. Divan tadi bilang, loh. Ental besal. Divan bisa otot-ototan?" tanyanya lagi.
Bia menggaruk kening. "Maaf. Mungkin bisa. Divan itu setiap hari nambah tinggi. Nanti juga akan sebesar papah. Tunggu saja," nasehat Bia.
Divan mengangguk. "Dak apa deh. Enak masih kecin tuh. Gedong papa, telus kasih uang," ucapnya licik sambil mengangkat-angkat alis.
Tawa Bia dan Divan membahana. "Papah udah tuh!" tunjuk Divan melihat Dira di mesin kasir, terlihat jelas pemandangan itu dari jendela kaca mini market.
Namun, Dira lumayan lama di sana hingga menghabiskan waktu bermenit-menit lamanya. "Apa ada masalah?" pikir Bia.
Bahkan hingga sepuluh menit kemudian, Dira masih ada di sana. Bia lama-kelamaan khawatir. Ia berniat turun dari mobil, untung Dira terlihat keluar dari mini market sambil membawa dua keresek besar camilan.
"Dia beneran niat batalin dietku," keluh Bia.
"Mamah minta tu, aneh!" komentar Divan sambil menunjuk-nunjuk Bia. Jelas, Bia malu sendiri disadarkan putranya.
Dira berlari menuju mobil sambil menahan rasa dingin akibat suhu di luar sana. Pria itu masuk menuju pintu di samping kemudi. Cepat-cepat Dira menutup pintu mobilnya lagi.
"Ini." Dira menyimpan dua keresek besar di pangkuan Bia. Istrinya menerima paket lengkap itu.
Tangan Bia membuka keresek dan memeriksa apa saja yang suaminya beli. Ketika ia keluarkan salah satu kemasan camilan, Bia tertegun. Di kemasannya tertulis kata "i love you".
Bia terkekeh. Ia periksa semua kemasan camilan dan sama. Dengan spidol hitam, Dira menulis kata itu dalam semua kemasan camilan yang ia beli. Wajah Bia merona malu. Ia terharu. "Apa-apaan ini? Apa sejak tadi kamu lama di sana buat menulis ini?" tanya Bia.
"Aku gak tahu gimana caranya buktikan pada netizen jika aku sayang kamu. Sudah kasih bunga, tetap saja diragukan," celetuk Dira. Bia tertawa kecil mendengarnya.
Dira mengusap bagian belakang kepalanya sambil nyengir. Wajahnya merona malu. "Baguskan, bikin kamu jatuh cinta, biar gak lirik mantan lagi," jawabnya.
Bia mencubit pipi Dira. "Bisa saja ini papahnya Divan. Manisnya," puji Bia.
"Bukannya suami kamu?" ralatnya.
"Papah Divan!" protes Divan dari jok belakang. "Ini papah Divan, ini mamah Divan," tegasnya.
"Iya ... iya ...," ucap Bia dan Dira barengan.
🍁🍁🍁
__ADS_1