Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Tak Ada Judul


__ADS_3

"Kenapa ke sini lagi? Apa kamu senang suami kamu ke sini dan mengancamku?" tegur Cloe begitu melihat Bia duduk di sampingnya. Ia baru bangun dari tidur setelah mendapat suntikan obat penenang.


Bia datang atas izin Dira sekarang. Hanya saja syaratnya di luar sana ada dua bodyguard menunggu. "Dira tahu aku ke sini dan aku berniat meluruskan semuanya. Jangan pikirkan apa yang Dira katakan kemarin. Kami ingin hidup tenang, jadi kami gak akan ikut campur masalahmu lagi," jawab Bia.


Cloe mendengkus. Ia memunggungi Bia kemudian kaget karena ada wajah anak kecil di sisi ranjang satunya lagi. "Kenapa bawa anak segala, sih?" protes Cloe.


Bia menggeleng. Sementara Divan mempertajam sorot matanya. "Aku lucu, loh. Napa dak suka? Ibu-ibu cmua tayang Divan!" protes Divan. Anak itu berjalan memutari ranjang pasien dan datang ke pelukan ibunya.


"Aku gak bisa ninggalin Divan sendirian," jelas Bia.


"Kalau begitu jangan ke sini!" Cloe sadarnya itu jadi-jadian. Kalau lagi miring dia kumat lagi.


"Aku gak mau Dira disalahkan kalau kamu sampai bunuh diri. Makanya aku pastikan kamu masih hidup," celetuk Bia.


Sungguh itu menusuk batin Cleona. Tak mau ambil pusing, Cloe tak menimpali lagi perkataan Bia. "Kalau mau di sini, suruh anakmu diam. Aku mau tidur," tegasnya lalu menarik selimut dan berbaring.


Bia mengangguk. Ia pergi ke sofa lalu menggelar mainan Divan di sana. Syukur Divan sangat betah selama mainan dan camilannya tersedia. Bia masih mencoba bertahan sampai Cloe bangun dan menceritakan masalah Haley.


"Males tantenya," komentar Divan karena masih melihat Cloena berbaring sementara ia sudah berganti empat babak pertarungan mobil.


Bia menempelkan telunjuknya di bibir Divan. "Tante itu orang dewasa, anak baik tentu bicara yang sopan pada tante. Benarkan?"

__ADS_1


Divan mengangguk. "Tantenya sakit?" tanya Divan. Bia mengangguk. "Makan ekim banak-banak?"


Bia menggeleng. "Tante banyak makan hati," jawab Bia.


Divan ber-ouh. "Hati ayam pa sapi?" Seperti biasa, Divan malah semakin kepo.


Orang yang ditunggu bangun, ternyata pura-pura tidur. Ia tersenyum geli mendengar ocehan anak itu.


"Ma, jawab Divan napa. Itu hati ayam pa sapi?" tekan Divan.


"Ayam. Makan hati ayam, tapi gak dimasak," jawab Bia bohong.


Cloe bangkit. Ia tatap anak yang duduk di samping Bia sambil membawa truk. "Siapa bilang aku gak punya. Aku punya kompor dan gak makan hati ayam mentah. Aku juga gak tua," ralat Cloe dengan nada sewot.


Bia menutup telinga Divan. "Jangan kasar kalau ngomong sama anak kecil," protesnya.


Cloe mendengus. "Makanya aku gak suka anak kecil. Kalau ngomong gak dipikir dulu," protesnya


"Kamu juga kalau ngomong gak pernah dipikir dulu!" balas Bia sama sinisnya.


"Cukup. Kemarin suaminya, sekarang istrinya yang ngatain aku gak make otak!" Setelah itu Cloe kembali memunggungi Bia.

__ADS_1


Bia sampai menggeleng-geleng. Untung Divan lebih memilih tak peduli dan bermain dengan mobilnya. Anak itu tertawa sesekali ketika mobil yang ia mainkan berguling-guling di lantai. Itu mengusik sisi lain perasaan Cloe yang sudah lama tertidur. Bagian yang ia kubur dalam karena menyakiti begitu ia ingat.


Cloe mengintip sesekali, kemudian ia kembali bangkit dan duduk di tempat tidur sambil menurunkan kakinya. Bia sempat kaget melihat Cloe tiba-tiba turun. Ternyata wanita itu masih duduk di sana.


"Kau membesarkan anak itu sendiri?" tanya Cloe. Suaranya masih ketus seperti biasa.


"Memang Dira tak bilang kalau aku ini yatim piatu dan tak punya saudara?"


Cloe menggeleng. "Dia bilang kau punya tante. Aku pikir kau tinggal dengan tantemu," jawab Cloe.


Bia menarik napas. Ia menunduk lalu kembali melihat ke arah Cloena. "Tanteku meninggal setelah tahu aku hamil. Setelah itu aku hidup sendiri, aku tinggal berpindah dari satu motel ke motel lain, kadang menginap di sauna. Mereka tak mau menerima wanita hamil sebelum menikah. Orang-orang Emertown berpikir wanita sepertiku hanya membawa sial," jawab Bia.


Sempat bola mata Cloe melirik ke samping karena terkesiap dengan jawaban Bia. Setelah itu ia kembali menatap Bia dengan pandangan kaku seperti biasa. "Kalau kau hilangkan anak itu, orang tidak akan tahu, kan? Kenapa begitu naif?"


"Karena aku seorang ibu. Aku tak tahu perasaan ibu lain yang tega membuang anaknya, tapi aku hanya tahu kalau aku lebih memilih kehilangan dunia daripada anakku. Aku tak punya keluarga. Aku kehilangan keluargaku. Namun, aku punya dia, dia keluargaku," tegas Bia sambil mengusap rambut Divan.


Sementara Divan sendiri hanya melirik ke arah Bia lalu main lagi. Ia tak mau ambil pusing dengan obrolan ibu-ibu nanggung ini.


"Darimana kaupunya kekuatan seperti itu?" tanya Cloena. Matanya berkaca-kaca mendengar pernyataan Bia.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2