
Seluruh dunia akan bangga pada Dira. Meski ia sibuk manggung dan shooting juga pemotretan, Dira menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Ia bahkan mendapat IPK tertinggi di kampus.
Begitu nama Dira Gavin Kenan dipanggil, Dira berjalan ke atas panggung ditemani suara tepukan tangan para tamu acara wisuda siang itu. Ia mendapat penghargaan juga menjadi perwakilan mengucap janji wisuda.
"Lanjut S2, Dir?" tanya rektor dari Heren University. Dira mengangguk. Meski ia bercita-cita jadi penyanyi, ia juga tidak akan melupakan tujuan hidupnya untuk belajar ilmu management bisnis.
Khusus untuk Dira, banyak sekali dosen hingga panitia wisuda yang mengajaknya berfoto hingga ia cukup lama di atas sana. Ernesto dan Maria sampai tertawa melihat bagaimana anaknya kesulitan turun dari panggung.
"Selamat putraku, meski buat banyak masalah kamu tetap buat Papah bangga," ucap Ernesto membuat Dira nyengir kuda.
"Tentu harus tahu diri anakmu ini. Sejak kecil biasa hidup mewah dari keringat kamu, Pah. Coba kalau seperti Bia." Maria mengusap rambut Dira.
"Anak mamah itu sebenarnya Dira apa Bia?" protes Dira.
"Sekarang kalian berdua anak Mamah. Hanya saja kamu lebih nakal."
Selesai prosesi, keluarga itu berfoto di depan kampus. Ernesto, Maria, Dira, Daren - Kakak Dira juga Dustin - Adik Dira datang untuk berfoto di hari bahagia itu. Tak lupa Sora juga Emelie. Ezra membantu mengambilkan foto. Berbeda dengan Dira, Ezra dan Kelvin baru akan di wisuda awal tahun depan. Mereka kuliah di universitas swasta termahal di Emertown.
"Kakak bangga, meski sibuk kalian semua bisa lulus kuliah. Sayang menantu papah satu lagi tak bisa datang."
Dira menunduk. Ia juga ingin berfoto dengan keluarga kecilnya di depan kampus. "Tak apa, dua tahun lagi setelah Dira lulus S2, giliran mereka berdua yang menemani aku wisuda."
"Gak mau jadi berempat?" tanya Daren.
Jelas Dira menggeleng. "Divan belum lima tahun," tegasnya.
"Kasihan anak itu, baru juga merasa diasuh papanya setelah dua tahun, masa harus bagi waktu sama adiknya," komentar Sora yang langsung diiyakan oleh Dira.
__ADS_1
Heren University, tempat Dira selama ini menuntut ilmu selama tiga setengah tahun akhirnya harus ditinggalkan. Bukan hanya lulus dengan IPK tinggi, Dira juga lulus lebih cepat. Ia mengambil banyak SKS dalam satu semester. Meski begitu, banyak materi yang ia minta kelasnya secara online dan ia ikuti disela waktu bekerja.
Gedungnya sendiri bernuansa modern dengan tujuh lantai dan enam gedung perkuliahan serta empat gedung kantor tempat penelitian, perpustakaan dan ruang rektorat.
Dari luar, Heren University terlihat seperti rumah kaca yang tinggi. Meski begitu, halamannya sangat hijau dengan rumput dan pepohonan. Belakangan kampus ini menjadi contoh kampus modern di Livetown. Tentu saja, Heren University adalah kampus milik pemerintah yang menjadi kampus pencetak SDM unggul sehingga masuk kampus ini dilakukan ujian yang ketat.
"Kamu S2 di Heren lagi?" tanya Ernesto.
Dira menggeleng. "Aku berencana memajukan Kenan Manufacture di Emertown. Papah tentu tak ingin pabrik yang menjadi cikal bakal Kenan Grouph harus bangkrut, kan?" tanya Dira.
Ernesto menepuk pundak Dira. "Papa butuh kamu di Black tower. Kamu tahu sendiri kakakmu bahkan terlalu sibuk mengurus perusahaan. Papah harap kalian bisa saling bekerja sama."
"Pah, Kenan Manufacture peninggalan Kakek. Nenek juga sudah berpesan agar menjaganya. Dira janji, setelah pendapatan pabrik maju, Dira akan kembali ke Heren," timpal Dira.
Ernesto menggeleng. "Aku berharap banyak padamu, Nak. Tentang pabrik, Papah janji akan memberikan suntikan dana lagi. Pabrik itu bukan butuh dirimu, hanya butuh idemu dan Kelvin juga Ezra bisa menjalankannya."
"Papah!" panggil Divan begitu Dira keluar dari mobilnya. Dira masih mengenakan pakaian wisuda demi bisa berfoto dengan keluarga kecilnya meski di rumah. Divan mencium pipi Dira dengan gemas. Ia terlihat berbinar melihat toga hitam yang dikenakan Papahnya.
"Selamat, ya," ucap Bia. Dira memeluknya dengan erat sambil menggendong Divan.
"Aku masih berharap kamu kuliah lagi," ucap Dira.
Bia menggeleng. "Siapa yang jaga Divan? Aku gak mau dia diasuh orang lain."
"Bukannya sekarang kuliah bisa online, Bi. Kamu bisa daftar kelasnya. Yang penting kamu penuhi harapan orang tuamu. Kamu ini anak yang cerdas. Sayang kalau tidak lanjut kuliah. Divan juga akan semakin besar. Dia mulai akan sibuk sendiri nanti. Sebelum kalian program untuk anak kedua, lebih baik kamu kuliah dulu," saran Maria.
Bia mengangguk. Ia juga ingin sebenarnya. Ia melihat Divan kemudian Dira. Suaminya mengangguk dengan ekspresi memberi semangat. "Iya, Mah. Bia akan daftar tahun depan. Mudah-mudahan Divan gak punya adik dulu."
__ADS_1
Mereka berjalan menuju halaman belakang. Disana, Bia siap berfoto dengan keluarga Kenan. Ia juga mengambil foto bertiga dengan Divan juga Dira. Selesai berfoto, Bia dan Dira mengantar orang tua Dira ke depan rumah karena mereka akan pulang. Barulah giliran keluarga kecil itu merayakan hari mereka bersama.
"Papah, tiup!" pinta Divan agar Papahnya meniup gelembung lagi. Dira mengangguk saja. Begitu ia meniup gelembung, Divan berlari menangkap gelembung dan memecahkannya sambil tertawa. Anehnya tawa Divan menular hingga Dira dan Bia tertawa juga.
Divan mengambil gelembung sabunnya dari Dira. Ia meniup dan menangkap gelembungnya sendiri.
"Dia mulai senang main sendirian," komentar Bia. Dira mengangguk. "Mungkin karena usianya sudah mau tiga tahun."
"Sampai sekarang masih kesal karena tak kebagian ngasuh dia dari bayi," keluh Dira.
Bia berkacak pinggang. "Kamu kan dapat bagian ngasuh Cloena," sindirnya. Dira mencubit gemas pinggang Bia. "Lho, aku berkata benar tahu!"
"Benarmu itu terdengar menyebalkan!" protes Dira.
Mendadak Dira mengingat sesuatu. Beberapa hari ini Bia muntah-muntah dan ketakutan hamil lagi. "Bukannya kamu tadi pagi ke dokter kandungan?" tanya Dira penasaran hasil pemeriksaan istrinya.
Bia mengangguk. "Iya, syukurnya hanya karena salah waktu makan. Aku juga program tunda kehamilan tadi. Dokternya menyarankan agar waktu kita main malam dijadwal agar programnya sukses."
"Mana bisa? Orang mau begitu munculnya tiba-tiba. Lagian bukannya belakangan kita juga jarang berhubungan?"
Mata Bia mendelik ke arah suaminya. "Yang salah siapa? Kamu kalau gak sibuk manggung pasti diem di studio sampai berjam-jam. Istri kamu dibiarkan tidur sendiri. Ya sudah aku tidur saja sama Divan!"
Dira terkekeh. Ia kadang lupa punya istri. Kalau tidak konsen juga, ia sering menyetir pulang ke apartemen. "Mungkin karena lelah, pikiranku jalan ke mana saja."
Bia memijiti punggung suaminya. Dira kalau sudah kerja bahkan tak ada waktu untuk diri sendiri. Dira berbalik dan memeluk Bia. Mendadak ia ingat foto yang ditunjukkan Cloe. Bukan orang lain, ia takut jika Bia yang melihatnya. "Aku harus cari cara agar foto itu hilang dari ponsel Cloe," batin Dira.
"Kamu wisuda hari ini, kenapa malah sedih? Jadi gak bisa ketemu teman sekelas yang cantik?" tegur Bia. Dira menggeleng. Ia semakin erat memeluk Bia dan mengecup leher istrinya. Divan melihat dari kejauhan dan manyun. "Bedua agi! Divan lupain!" protesnya sambil menepuk jidat.
__ADS_1
🍁🍁🍁