
Divan duduk di kursi taman saat istirahat. Temannya yang lain sudah mengajak bermain lagi. Divan menggeleng. Punggungnya terasa sakit akibat terlalu aktif bermain bola. Anak-anak TK itu sedang bermain bebas setelah istirahat makan.
Guru-guru mengawasi di sisi lapangan. "Divan main lagi?" tawar salah satu guru. Lain dengan sekolah dulu, guru di sini lebih banyak guru muda. Mereka tahu perkembangan media sosial sehingga pertama Divan datang ke sekolah langsung menjadi perbincangan para guru.
"Gak. Divan encok," keluh Divan.
Ibu gurunya tertawa mendengar ucapan anak itu. "Kamu tahu encok dari mana?" tanya gurunya penasaran sambil mengusap kepala Divan yang tertutup topi putih.
"Itu papah sakit pinggang. Kata dokter encok," jawab Divan. Daya ingatnya sangat tinggi padahal kejadiannya terjadi sebelum Diandre lahir.
"Papah Divan masih muda, loh. Masa encok?" tanya gurunya sambil terkekeh. Divan menggeleng. Nyatanya dokter memang bilang begitu karena tak tahu kalau Dira tengah ngidam.
"Divan main lagi!" serunya. Ia langsung melangkah ke tengah lapangan dan bermain lagi. Divan mudah bergaul meski baru lima hari sekolah di sini. Temannya juga sudah banyak dan seperti biasanya dia menjadi pemimpin untuk anak lain. Ke mana ia pergi, temannya mengikuti seperti anak bebek dan induknya.
"Tendang sini. Guling!" seru Divan. Dari sisi lapangan. Temannya menuruti dan lekas menendang bola ke sisi Divan. Namanya anak kecil, permainan mereka sebatas saling tendang dan tangkap bola.
Perasaan Divan terpaku akan sesuatu. Ia melirik ke samping kanan. Ada seorang anak perempuan dengan rambut sebahu mengintip dari tiang gedung sekolah. Begitu matanya bertemu dengan mata Divan, anak itu langsung berlari. Roknya bergerak-gerak lucu.
Mata Divan berkedip-kedip lalu ia tertawa. "Lucu!" ucap Divan. Lesung pipitnya sampai terlihat jelas karena begitu melengkungnya ia tersenyum.
"Divan! Bola mana?" panggil temannya yang merasa kesal karena Divan malah tertawa cekikin sendiri sambil memeluk bola padahal temannya menunggu bola dari tadi.
__ADS_1
Divan mengangguk. Lekas ia berikan bola pada temannya dan mengejar anak perempuan yang tadi mengintip dari balik tiang gedung.
"Divan mau ke mana?" panggil gurunya. Divan tak menimpali. Hanya gurunya membiarkan karena Divan berlari ke arah gedung di mana guru lain juga ada untuk mengawasi.
Divan tahu anak tadi berlari ke arah sini, menuju barisan kelas di mana kelompok A bermain. Divan mengintip satu per satu kelas. Senyumnya terkembang ketika ia temukan anak perempuan itu tengah duduk sambil memeluk lutut diantara barisan tempat duduk.
Itu bukan kelas Divan. Hanya karena rasa penasaran, ia masuk ke dalam ruang kelas itu. Divan mendekati gadis kecil yang mengenakan jepitan pita di sisi kanan rambut pendek sebahunya.
"Kamu siapa?" tanya Divan. Anak perempuan itu mendongak. Ia kaget melihat Divan lalu menutup wajah dengan telapak tangannya. Divan tersenyum. Ia dekati anak perempuan itu dan duduk berlutut di depannya.
Ada badge nama di kemeja seragamnya. "Davina," baca Divan. Anak itu memang sudah bisa membaca meski belum lancar. Ia belajar sendiri dari buku-buku yang dibacakan orang tuanya.
Divan menunjuk badge di seragam Davina. "Baca ini? Vina gak bisa baca loh," ucap Davina. Wajahnya tampak terpukau dengan kemapuan Divan.
Yang dipuji semakin tak tahu diri. "Divan baca itu, itu ... bisa juga!" sombong Divan.
"Wow!" seru Davina.
"Kamu tahu aku gak? Aku di tv ada, yutub juga, loh!" Divan semakin tinggi hati sementara Davina semakin terpukau.
"Tahu Vina. Mamah nonton Divan juga. Divan main sepeda, belanja, belajar. Divan nangis juga," timpal Davina. Awalnya Divan merasa bangga. Mendengar kata menangis, hatinya ciut.
__ADS_1
"Itu boongan," kilah Divan. Ia tak mau harga dirinya jatuh. "Oom Teo jahat, nih!" batinnya. Divan tak tahu jika dalam konten YTnya ada adegan ia sedang menangis.
"Divan artis, kan," tegas Divan.
Davina mengangguk. "Vina suka nonton Divan. Suka," ungkap Davina dengan wajah memerah.
"Ouh, Davina ibu daster juga." Divan main sebuat saja. Ia selalu berpikir jika orang yang suka padanya adalah ibu daster.
Davina menggeleng. "Vina orang," kilah Vina.
Divan mengangguk. "Iya. Vina lucu, ya? Kayak Diandle," ucap Divan. Davina mengedip-ngedipkan mata. Tangan Divan mengangkat. Ia cubit dengan gemas pipi Davina. "Kamu lucu," puji Divan lagi.
Davina bukannya merasa takut. Justru anak itu malah tertawa senang. "Main sama Divan mau?" tawar Divan. Davina mengangguk. Tangan Divan mengulur dan lekas Davina balas. Kedua anak itu berdiri dan berjalan. Tiba-tiba Davin menahan langkah mereka.
"Divan sini!" ajak Davina. Anak perempuan itu menuntun Divan ke tempat duduknya. Davina membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah boneka dari sana.
"Ouh, pororo!" seru Divan. Wajah Davina memerah. Ia senang melihat Divan takjub karena pororonya.
"Vina beli pororo banyak. Nanti Divan ke rumah Davina, ya? Main pororo sama-sama," ajak Davina. Divan mengangguk.
🍁🍁🍁
__ADS_1