
Sepertinya bidikan Dira tepat sasaran. Dua bulan menyiapkan brand pakaian buatan Kenan Manufacture. Pakaian anak itu laku keras di pasaran setelah launching pertamanya. Pakaian khusus musim gugur yang Divan pasarkan melalui video-video aktivitasnya. Meski musim gugur masih akan datang bulan depan.
Nama Divan menjadi trending topik hingga membuat banyak orang tua menjadikan nama itu sebagai pilihan untuk memberi nama putranya. Masalah mulai muncul ketika banyak agensi yang menawari Divan menjadi model iklan. Tentu sebagai orang tua Dira menolak. Dia hanya sekadar menyalurkan bakat anaknya karena itu semua video hanya direkam dengan keinginan Divan sendiri.
Keluarga Dira memang tengah menjadi sorotan media lagi. Banyak yang penasaran hingga meminta keluarga itu membuka channel YT sendiri. Bahkan cara Bia berdialog dengan Divan disarankan netizen agar membuat channel khusus pengasuhan untuk ditiru ibu-ibu muda.
Sayangnya Dira masih bingung bagaimana cara ia melaunching brand pakaiannya secara resmi untuk go public. Brand itu baru dilaunching melalui website resmi dan media sosial Dira.
"Apa itu?" tanya Bia melihat email yang tengah di perhatikan Dira.
"Tawaran mengisi talk show. Mereka ingin wawancara secara langsung," jawab Dira.
"Kamu tolak?" tanya Bia penasaran.
Dira mengangguk. "Mau bagaimana lagi? Acaranya di Heren dan Diandre tak mungkin kita bawa ke sana. Selain itu, kemarin aku sudah bilang tak bisa kembali ke dunia itu, kan?"
Bia mengangguk. Ia hargai keputusan suaminya itu. Dira memang tengah sibuk dengan bisnis baru untuk memajukan pabrik kakeknya. Ia kalau sudah bertekad tidak bisa dihentikan.
__ADS_1
Bia berjalan ke sofa. Di sana ia duduk sambil menyandarkan punggung. Sementara Dira kembali mengerjakan dokumen perencanaannya. Iseng, Bia mengetik nama Dira di pencarian web. Ia kaget banyak berita yang menyebutkan lagu-lagu Dira masuk dalam banyak chart musik bahkan menduduki posisi satu.
Bia menarik napas. Sebentar lagi Dira akan merayakan hari debutnya. Hampir satu tahun ia vakum dari dunia di mana cita-citanya ada. Meski ia bilang menolak tak ingin kembali, jiwanya adalah musik. Dari sana ia merasa bahagia.
Bia turun dari sofa. Ia berjalan ke ruangan kerja Dira yang kosong karena barang-barangnya dipindah ke sana. Hanya satu yang tersisa, sebuah gitar yang tersimpan dalam tasnya.
Bia mengambil gitar itu. Ia meyakinkan diri. "Dulu aku yang dukung cita-cita kamu. Sekarang juga sama," tekadnya. Bia membawa gitar itu ke kamar. Dira masih mengetik di laptop. Ia tak menyadari Bia datang sambil membawa gitar.
"Dir, nyanyiin lagu romantis buat aku, donk. Aku kangen masa-masa pacaran dulu," pinta Bia.
Dira berpaling padanya. Pria itu terkejut melihat Bia sudah membawa sebuah gitar di tangannya. "Anak-anak lagi tidur. Nanti dengar suara gaduh, mereka bangun," tolak Dira.
Mendapat paksaan seperti itu mau tidak mau Dira menurut juga. Ia ingin membuat istrinya bahagia. Diambilnya gitar dari tangan Bia lalu keduanya berjalan menuju halaman belakang. Mereka duduk di tangga teras saling bersebelahan.
Dira menyetel gitarnya. Ia mencoba menemukan nada yang pas disetiap senar gitar bersejarah yang menemaninya dari sejak audisi hingga menjadi artis populer. Gitar itu beristirahat berbulan-bulan lamanya, selama Dira mengubur mimpinya di masa lalu.
Hingga Dira yakin ia sudah puas dengan nada yang dihasilkan gitar, Dira mulai memainkan intro lagu tersebut. Jemarinya masih begitu lincah memetik gitar. Ia menarik napas, mencoba menyanyikan verse lagunya. Namun, suaranya tertahan. Ia malah berhenti, menunduk sejenak lalu berusaha memulai dari intro sayangnya ketika mulai bernyanyi lagi, Dira kembali terdiam.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bia heran. Dira menggeleng. Ia simpan gitarnya di atas lantai teras. "Kok berhenti? Tadi sudah bagus loh!"
"Gak bisa, Bi. Gak ada feelnya," timpal Dira sambil mengusap wajah dengan telapak tangan.
"Sudah gak ada feel sama aku? Gitu?" sindir Bia sambil berkacak pinggang dan membelakangi Dira.
Dira menggeleng. "Bukan itu, Bi. Gak ada feel nyanyinya. Bukan cuman nyanyi lagu buat kamu, nyanyi lagu Barney juga gak tahu kenapa suaraku gak keluar. Seperti tertahan dan gak bisa," jelasnya.
Bia mengerti apa yang terjadi dengan Dira kini. Dia mati rasa akibat sudah lama berhenti. Lebih dari itu, ia merasa keinginanya sudah membuat kehidupannya berantakan, memisahkan dengan keluarga, anak juga cinta. Rasa kecewa yang akhirnya membuat ia mengubur apa yang ia sukai.
Bia merangkul lengan Dira. Ia menepuk-nepuk pelan lengan itu. Ditatapnya Dira dengan senyuman terkembang di bibir. "Kamu mau tahu suatu cerita?" tanya Bia.
Dira mengangguk. Kali ini Bia berusaha membuka kembali memorinya. "Suatu hari ada anak kecil yang senang menari. Dia selalu senang menari hingga ke mana pun sering membawa sebuah radio kecil. Sampai radionya rusak. Ia minta radio baru dari orang tuanya. Sayang, orang tuanya menolak."
Dira tertawa. "Aku tahu siapa anak itu. Yang sering mengalungkan radio kecil di lehernya. Drabia Azura Louis," timpal Dira.
"Aku mau lanjut cerita, nih! Diam dulu!" tegas Bia. Baru menarik napas untuk melanjutkan cerita, tiba-tiba terdengar Divan memanggil sambil menguap-nguap.
__ADS_1
"Mah, Diandre bangun. Basah bajuna," ucap Divan.
🍁🍁🍁