
Jari-jari kekar Aric bertaut dengan jemari lentik istrinya. Lily tak lagi duduk di kursi roda, ia berada diatas pangkuan Aric.
Aric duduk di atas ranjang, dengan Lily yang bersandar pada dadanya yang bidang. Jagoan kecil mereka baru saja terlelap, saat Adam bangun sia seperti wartawan kecil yang menanyakan kejadian kemarin.
Lily bersyukur Adam tidak sadarkan diri selama mereka diculik, mata kecilnya tidak harus melihat semua adegan berdarah di sana.
"Sayang, apa dia baik-baik saja?" tanya Aric sambil mengusap lembut perut Lily.
"Dia baik, dia sangat kuat seperti ayahnya," jawab Lily dengan menatap wajah Aric penuh kasih.
Aric tersenyum, dikecupnya kening Lilly dengan lembut. Aric kembali merengkuh tubuh sang istri dalam dekapannya, suami istri itu melihat kearah yang sama.
Ranjang disebelah mereka, dimana seorang malaikat kecil yang Tuhan kirimkan untuk keduanya.
"Adam ingin adik perempuan," celetuk Lily.
"Lalu bagaimana hasil USG? apa kata dokter?"
"Belum kelihatan, mungkin dua atau tiga bulan lagi." Lily menggosokkan wajahnya di dada Aric.
"Tidak masalah, jika yang ini laki-laki kita bisa membuat lagi, dua tahun sekali sepertinya tidak buruk," ujar Aric tanpa ragu.
Lily mencubit gemas perut Aric, hingga laki-laki itu meringis kesakitan.
"Sayang, kenapa dicubit. Kan sakit," rengek Aric manja.
"Biarin, emangnya aku kucing apa? dua tahun sekali punya anak," ketus Lily, dengan mencebikan bibirnya kesal.
Aric terkekeh, ia mencium gemas pipi Lily dan semakin mempererat pelukannya.
"Aku ingin punya keluarga besar, kau tahu tidak enak rasanya jadi anak tunggal."
Lily terdiam, meskipun Aric punya seorang saudara. Tetapi nyatanya Aric tidak diterima oleh mereka, Lily bisa mengerti perasaan suaminya. Karena dia pun tidak jauh berbeda, diasuh dan dibesarkan oleh keluarga terpandang bukan berarti dia bisa melakukan dan mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan untuk sekedar kasih sayang, Lily harus berjuang.
Guntur Wiguna memang tampak sangat menyayanginya. Namun, itu baru terjadi setelah Lily, terus-menerus memperoleh juara satu di sekolah. Dati mulai sekolah dasar sampai kuliah, Lily berkerja keras untuk itu, untuk memperoleh hasil terbaik. Agar sang ayah perduli dan melihatnya.
Aric kembali bermain dengan jemari Lily, Aric sangat menyukainya.
"Kau suka dengan tanganku?' tanya Lily. Aric mengangguk.
Lily tersenyum getir, ia memperhatikan tangan Aric yang lebam dan lecet dibeberapa bagian. Lily membayangkan bagaimana Aric menahan sakit saat tiga orang itu memukulinya, meski Helena bilang Aric pernah mengalami hal yang lebih buruk.
Namun, tetap saja ini pertama kali bagi Lily melihat Aric seperti itu. Berlumuran darah dan penuh luka, ia tidak bisa membayangkan apa saja yang dialami oleh suaminya selama ini.
"Kau masih ingat pertama kali kita bertemu, Sayang?"
Lily mengerutkan keningnya, untuk kesekian kalinya Aric menanyakan hal yang sama.
__ADS_1
"Saat di hotel," jawab Lily dengan ragu. Karena Aric selalu terlihat kecewa saat Lily menjawabnya.
Benar saja, Aric menghela nafas berat. Lily sedikit menarik kepalanya, agar bisa melihat Aric.
"Salah ya? katakan di mana sebenarnya kita pernah bertemu? kau terus saja bertanya dan saat aku menjawabnya kau terlihat seperti itu," protes Lily.
"Seperti apa?"
"Seperti ini, masam!" ketus Lily.
Aric tergelak, ia mencubit gemas hidung mungil istrinya.
"Karena kau masih saja tidak ingat, dan aku selalu mengingatnya."
"Kalau kau ingat, katakan. Jangan bertele-tele seperti ini. Aku hanya ingat saat pertama kita adalah hal yang paling mengerikan bagiku, saat kau merenggut kesucianku!" bentak Lily kesal.
Aric terdiam, sedikit melonggarkan tangannya dari jemari Lily. Namun, Lily segera menggenggamnya erat, sebuah pergerakan yang membuat Aric terkejut.
"Tapi ... Sekarang aku tidak menyesalinya, pertemuan kita mungkin tidak begitu menyenangkan. Tapi, aku sangat bahagia karena pada akhirnya Tuhan menyatukan kita." Lily mengecup dada Aric yang terbuka.
Aric semakin mengeratkan pelukannya, kata-kata Lily begitu menghangatkan hatinya.
"Sore itu hujan sangat deras, kau memakai seragam biru putih dengan tas punggung berwarna pink dipunggungmu."
Lily diam, ia tidak begitu paham dengan apa yang Aric katakan. Namun, ia mendengarkan cerita Aric dengan seksama.
"Aku mengatakan hal itu? wah puitis sekali, tapi aku tidak ingat kapan itu terjadi," ucap Lily.
Aric menghela nafas panjang.
"Hah, sudahlah. Kalau kau memang tidak ingat," ujar Aric putus asa.
"Pfft ... hahaha, kau lucu sekali kalau ngambek." Lily mencubit gemas kedua pipi Aric.
"Jadi kau ingat?" Lily menggeleng.
"Tentu saja aku ingat, tapi aku tidak tahu kalau itu kamu Suamiku. Aku hanya ingat pernah bertemu dengan seorang remaja, yang penampilannya sangat memprihatikan. Tubuhnya basah, kotor dan samar aku mencium bau darah dari tubuhnya. Aku kasihan jadi aku memberikan permen terakhir milikku," ujar Lily panjang lebar.
Aric mengecup lembut kening Lily, kemudian perlahan turun ke dua kelopak mata, hidung dan pipi. Aric menjeda sejenak, menatap lekat dua mata bening istrinya dengan memuja. Aric menyatukan bibir mereka, bergerak pelan dan penuh kelembutan.
Sebuah ciuman penuh kasih, sebuah ciuman untuk menyatakan besarnya cinta mereka.
"Aku sangat mencintaimu," Ucap Aric setelah melepaskan pagutan bibir mereka.
"Aku juga mencintaimu," jawab Lily dengan pasti.
Aric mengusap lembut rambut sang istri, kemudian menyatu bibir mereka lagi. Kali ini lebih dalam, memaggut dengan penuh rasa lapar. Aric memegang tengkuk Lily untuk memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Lily pun memejamkan matanya, menikmati ciuman Aric yang begitu menggebu.
"Ehem!"
Lily terkejut, ia berusaha untuk melepaskan diri dari Aric, tetapi pria itu semakin menahan dan menciumnya lebih dalam.
Lily mendorong tubuh Aric menjauh, tetapi tenaganya tak cukup besar. Tak kehilangan akal, Lily mengigit bibir suaminya agar bisa terlepas.
Dengan terpaksa Aric melepaskan bibirnya, Ia melemparkan tatapan tajam pada pria berbaju putih yang baru saja masuk ke kamar rawat itu. Sementara Lily, wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Aric.
"Pengganggu," gerutu Aric.
Sam hanya bisa bersabar, ia berjalan mendekati ranjang.
"Istrimu butuh istirahat," ucap Sam tanpa mempedulikan tatapan Aric yang seolah ingin menguliti dirinya.
"Nyonya, bisa Anda turun sebentar,?saya ingin memeriksa pasien tidak tahu diri ini." Lily mengangguk mengiyakan, dia berusaha turun. Namun, Aric mencegahnya.
"Dia akan tetap di sini!" tegas Aric.
"Astaga Aric, Aku tidak meminta dia meninggalkan ruangan ini, aku hanya memintanya untuk turun dari pangkuanmu, agar aku bisa memeriksa keadaan mu," ujar Sam mulai tidak sabar.
melihat hal ini Lily pun berusaha untuk membujuk suaminya yang keras kepala.
"Aric, aku lelah ingin tidur sebentar," kilah Lily.
"Kalau begitu tidurlah di sini."
"Sempit, aku mau tidur di ranjangku," pinta Lily memelas.
Dengan berat hati, Aric membiarkan Lily beranjak dari pangkuannya.
Akhirnya Sam bisa melakukan tugas sebagai dokter, ia memeriksa keadaan Aric paskah operasi.
"Aku ingin pulang sekarang," ucap Aric tak terbantahkan.
"Baik, aku akan mengurusnya, sore ini kau dan keluarga kecilmu bisa pulang." .
Sam diam sejenak, wajahnya terlihat sendu.
"Katakan apapun yang ingin kau katakan," tukas Aric.
"Aku turut prihatin dengan kejadian ini, tapi aku harap kau tidak membenci Lusius," Sam berkata dengan begitu serius.
Aric hanya diam, ia tidak membenci Lusius. Tetapi Aric merasa marah dengan apa yang sudah Lusius lakukan pada keluarganya.
"Datanglah untuk yang terakhir, dia hanya punya kita," ucap Sam sebelum meninggal Aric.
__ADS_1
Lily yang sedari tadi pura-pura tidur, mencuri pandang pada suaminya. Raut wajah Aric begitu berbeda, terlihat tenang tapi ada raut wajah kesedihan di sana. Lily merasa penasaran dengan sosok Lusius dalam kehidupan Aric, tetapi ia tidak ingin bertanya sekarang. Dia yakin, suatu saat Aric akan menceritakannya.