Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Aku mungkin pernah sayang padamu jika saja ...


__ADS_3

Keduanya berhadapan, dua orang yang pernah merasakan hidup bersama selama tiga tahun. Cloe tersenyum geli melihat Dira benar datang menjenguknya. Dari semua orang yang meminta bertemu, hanya Dira yang ia izinkan datang.


"Masih marah?" tanya Cloe. Ia mengaitkan anak rambutnya di belakang kedua daun telinganya.


Cloena yang dulu begitu sensitif masalah fashion, kini begitu pasrah memakai seragam tahanan. Wajahnya polos tanpa make up dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. "Aku sudah mulai membayar perbuatanku pada Drabia. Jadi jangan marah lagi," tambah Cloe.


Dira melipat tangan di depan dada. "Kenapa masih berpikir bodoh? Memang tak ada cara lain menghukum Haley Alvonz selain membunuhnya? Kau masih punya masa depan, kenapa malah mengubur masa depanmu sendiri demi menghancurkan pria itu?" tegur Dira. Ia masih tak terima dengan keputusan Cloe.


"Aku 'kan bilang, aku tidak membunuhnya. Aku hanya mengantarkan dia pada anaknya. Biar di sana, dia bisa menjaga anaknya sendiri selayaknya seorang ayah," timpal Cloe.


Dira mengembuskan napas dengan berat. "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Dira mencoba mengerti jalan pikiran Cloena.


"Aku hanya bertanya kenapa ia biarkan anak kami dibunuh keluarganya. Dia bilang anak itu pantas mati karena menghalangi jalannya. Anakku, yang aku lahirkan dengan susah payah. Pria yang harusnya menjadi pelindungnya malah menyebut anak itu pantas mati demi masa depannya dan perusahaannya," jawab Cloena.


Dira memalingkan wajah. Ia mengembungkan pipi lalu meniupkan udara pelan karena tak kuasa menahan sedih. "Dengar. Sekarang jangan pikirkan apapun lagi. Maafkan Haley Alvonz, dia sudah mendapat hukumannya. Jangan benci dirimu karena Drabia, Bia sekarang ada aku di sisinya. Sayangi dirimu, kamu gak salah apa-apa. Kamu wanita yang baik."


Pandangan Cloena menurun. Matanya basah. "Dira, kenapa aku gak boleh bahagia?" tanyanya dengan suara yang lirih.

__ADS_1


"Kau bisa bahagia Cloe. Dengan memaafkan. Bia pernah bilang, dengan menghukummu waktu tidak akan kembali pada tiga tahun lalu. Ia tetap pernah sendiri dan tantenya tak akan hidup lagi. Kau juga. Dengan menghukum Haley dan Gwen, tidak akan membuat anakmu kembali hidup."


Cloe menunduk. "Dira, apa sekali saja kau pernah cinta padaku?" tanya Cloe. Dira tertegun. Tatapan mata Cloe begitu hangat menatapnya.


"Sejak Haley meninggalkanku dengan Gwen, aku tak pernah mau membuka hatiku pada pria lagi. Aku hanya berpikir ingin punya pasangan yang lebih kaya darinya dan membuat dia menyesal. Saat tahu kamu dari keluarga Kenan, aku hanya peduli karena itu."


"Tapi kamu begitu penyayang. Kamu lembut, perhatian dan bertanggung jawab. Aku sadar mulai tak peduli dengan Haley juga Gwen. Di mataku hanya ada Dira. Aku jatuh cinta lagi, padamu. Aku sempat lupa apa tujuanku. Aku hanya berusaha agar kau tak tahu masa laluku, menjauhkan kamu dari masa lalumu dan membuat kamu tetap di sampingku."


Cloe mengusap air matanya. "Bahkan saat kamu bilang ingin punya anak dariku, hatiku senang sekali. Aku menyesal. Jika saja ayah dari anakku itu kamu, anak itu masih hidup sampai sekarang."


Cloe tertegun. Dia memang bodoh. Jika saja tak terpancing ucapan Gwen jika Dira tak akan mendapat warisan keluarga Kenan dan kembali bersikap tamak pada harta, Cloe tak akan kehilangan Diranya.


"Jika saat itu kau tahu Bia tidak meninggalkanmu, perasaanmu tidak akan begitu, 'kan?" Cloe sadar diri.


"Itu sudah terjadi. Aku pernah berpikir dia meninggalkanku, dia juga berpikir aku meninggalkannya. Aku pernah menghadirkan kamu dalam perasaanku. Sekarang aku sangat mencintai Bia juga menyayangi anakku. Kenyataannya sudah berjalan seperti itu. Satu-satunya cara agar kita tak menyesal, hanya menerimanya dengan lapang dada."


Ucapan Dira menohok pikiran Cloena. "Aku tahu bukan hal yang mudah bagimu memaafkan orang yang membunuh anakmu. Aku saja seorang ayah tentu akan dendam, apalagikau seorang ibu. Ini semua sudah jalan yang kau ambil. Semua efek karena jalan itu sudah terjadi. Jangan menyesal apalagi menyalahkan dirimu sendiri. Anakmu mungkin korban dari orang tuanya yang hanya mementingkan masa depan masing-masing, tapi kamu dan Haley juga korban dari orang tua yang juga memikirkan masa depan mereka sendiri."

__ADS_1


Cloe mengambil sesuatu di dalam kantong pakaiannya. Selembar kertas yang sudah ia berikan tulisan di dalamnya dan ia lipat dengan rapi. "Aku boleh minta tolong? Setidaknya untuk terakhir kali. Berikan surat ini pada Drabia. Aku tidak menemuinya, bukan karena tak suka. Aku malu karena membuat dia menderita demi menghapus penderitaanku sendiri. Satu lagi, tolong jenguk makam anakkku sesekali. Tinggalkan bunga di sana. Selama di sini, aku mungkin tak bisa mengunjunginya lagi. Orang lain mungkin pikir aku lupa padanya. Tidak, aku selalu diam-diam datang ke sana."


Dira mengangguk. Ia terima surat itu dari Cloena. "Tak perlu membantu mengurangi masa tahananku. Aku di sini ingin tenang. Setidaknya orang tuaku tak akan menuntutku mencari uang lagi. Biar aku dihukum karena membiarkan anakku mati juga anakmu kehilangan seorang ayah."


Dira bangkit dan berjalan mendekati Cloena. Ia peluk wanita itu dan menepuk punggungnya pelan. "Aku janji akan mencari keadilan untuk anakmu. Banyak makan dan jaga kesehatan. Maaf karena dulu tak bisa menolongmu. Aku janji, aku dan Bia akan selalu menjenguk anakmu. Untuk itu, jadilah wanita yang kuat."


Cloena tak pernah menangis di depan orang lain. Ia tak ingin dilihat menjadi wanita yang lemah. Namun, sekali ini saja ia ingin menangis hingga ia puas. Sekali ini saja ....


"Aku takut Dira. Kalau saja dulu aku berani melapor pada polisi, aku tidak akan pernah menyakiti Drabia, juga tidak akan melibatkanmu dalam kesulitanku. Aku hanya ingin teman, aku hanya ingin orang lain peduli padaku, tapi mereka semua menutup mata. Tak seorangpun menolongku. Mereka diam saja melihatku menggendong mayat anakku di pangkuan karena takut pada keluarga Alvonz. Karena itu aku hanya ingin sekali saja bahagia. Aku ingin diperhatikan oleh mereka, aku ingin mereka peduli padaku. Aku tak punya siapa-siapa," keluh Cloena. Tangisnya pecah dipelukan Dira.


"Hei, kau punya aku dan Bia. Kami temanmu. Selama kami ada, Gwen dan keluarga Alvonz tak akan berani menyakitimu." Dira melepas pelukannya.


Ia tatap mata Cloena yang sudah basah. "Aku akan menghancurkan mereka dengan bukti yang kau berikan padaku. Sampai mereka merasakan yang kau rasakan. Sampai mereka tahu, rasanya tidak dipedulikan siapa pun," janji Dira.


🍁🍁🍁


Ending dari kisahmu tergantung jalan yang kamu ambil. Apakah jalan Bia atau jalan Cloena?

__ADS_1


__ADS_2