Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Menuju Penyelesaian


__ADS_3

Seperti yang sudah Dira duga. Mayen akan angkat bicara ke publik. Kini Dira duduk di kantornya sambil menatap lurus ke arah televisi.


"Saya tak pernah bertemu putri saya lagi sejak usianya lima bulan," ucap Mayen lirih sambil mengapus air matanya.


Dira tertawa sinis. "Bukannya saat usia Bia tiga bulan kamu sudah kabur?" komentar Dira. Rasanya ia ingin memasukan ibu mertuanya itu dalam blender. Dia saja seorang ayah tak tega meninggalkan anaknya sendiri. Makanya ia tak habis akal dengan apa yang dilakukan Mayen.


"Mantan suami saya dan Tuan Kenan bersahabat. Karena itu dia bantu menyembunyikan putri saya. Bertahun-tahun saya mencari putri saya. Hasilnya, saya dengar ia sudah meninggal di kota kecil bernama Emertown. Saya bahkan tak diundang dalam acara pemakamannya dan tak diizinkan datang ke makam itu. Setelah hampir dua puluh empat tahun, saya baru bisa ke makam anak saya."


Dira menggeser-geser dokumen di atas meja. Ini adalah daftar nama orang yang membantu Mayen dan lucunya beberapa ada di jajaran pimpinan KG. Beginilah bisnis, musuh bukan hanya dari perusahaan lain, bahkan bisa dalam tubuh sendiri.


Ia pastikan setelah mulut Mayen ditutup, Dira akan jatuhkan satu per satu orang itu dari perusahaan. "Biarkan saja dia bicara hingga mulutnya berbusa. Kita lihat saja, setelah semua keburukannya diungkap apa ia masih bisa bicara begitu?" tanya Dira pada Daren yang duduk di sofa tamu di kantornya.


Daren mengangkat cangkir teh, menyeruput sedikit lalu menyimpannya lagi. "Masalahmu itu ada-ada saja. Kasihan juga Bia punya ibu seperti itu. Kalau aku jadi dia, lebih baik tak mengakui," komentar Daren.


"Itukan kamu, hatinya sudah jelas buruk," ledek Dira.


Daren mendelik. Tatapan tajamnya menusuk. "Teh di cangkirku masih panas. Sayangi wajahmu itu," ancamnya.


Dira hanya mengangkat bahu. Lagipula ia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri, tapi Daren malah memaksa ingin ikut campur. Katanya tak ingin kehilangan panggung dan terus disebut dalam novel ini.

__ADS_1


"Bia akan bicara ke publik?" tanya Daren.


Dira menggeleng. "Kami sudah bicara berdua. Aku juga sudah memberitahunya kemungkinan ini. Termasuk Mayen yang menggunakan jajaran pengacara untuk mengusut masalah ini ke jalur hukum."


"Jawaban Bia bagaimana?"


"Ia bilang sebelum bicara ke publik, ingin bicara dulu dengan Mayen. Syukur kalau Mayen mau mencabut tuntutan. Kalau tidak, Bia yang akan bertindak."


Daren mengangguk. Adik iparnya ternyata cukup bijak dalam menyelesaikan masalah. "Pantas juga kenapa belakangan kamu ini dewasa dan pemikir. Tidak lagi seenak jidat seperti dulu. Pasti karena bersama Bia," komentar Daren.


Dira tak terima. "Aku yang membuat ia dewasa. Kalau aku tak meninggalkannya dulu, pasti ia tetap manja."


"Aku tak setuju! Kau ini hanya ingin dipuji," protes Daren.


"Untuk?" tanya Daren penuh tanya. Padahal papahnya sudah berharap Dira kembali ke KG.


"Perusahaan yang menjadi investor D-zone memberikanku tawaran pekerjaan yang besar. Perusahaannya kelas internasional. Kupikir ada baiknya bekerja di sana untuk memajukan KG hingga luar negeri," pikir Dira.


Daren menarik napas. Adiknya ini memang penuh dengan ambisi. Sudah bisa dilihat saat sekolah dulu, Dira berprestasi hampir dalam segala bidang. Termasuk dalam urusan membuat anak.

__ADS_1


"Mau pergi sendiri?" tanya Daren.


Dira menggeleng. "Tentu dengan Bia dan anak-anak juga. Makanya aku bilang, ingin menyelesaikan masalah ini dulu. Agensi sudah aku percayakan pada Mr. Pier. Aku juga tak ingin tergesa-gesa. Paling tidak sampai beberapa artis debut tahun ini, aku masih di sini."


Tak ada yang bisa menahan Dira jika mengambil keputusan. "Semoga sukses dengan rencanamu."


Sementara itu di rumah, Bia menggendong Diandre agar anak itu tidur. Ia menonton televisi dan melihat apa yang ibunya lakukan. Beberapa kali Bia menggeleng. Meski menatap wajahnya, sama sekali tak ada rasa dalam diri Bia. Paling tidak rindu atau desiran rasa sayang. Tak ada.


"Jika aku hidup dengannya. Mungkin aku akan pilih menggugurkan Divan dulu. Bagaimana bisa ia setega itu dan sama sekali tak merasa bersalah. Malah menyerang orang yang membiayai hidupnya sedari dulu. Aku malah tak enak pada papah dan mamah," pikir Bia.


Ia duduk di sofa lalu mematikan televisi. Respon orang pada Mayen lumayan semakin dewasa. Akibat masalah Cloena, mereka mulai banyak belajar.


Aku tak mau menghujat siapapun. Kita tak tahu siapa yang salah. Hanya saja pasti keluarga itu ada alasan.


Menurutku sih, kalau dia ibu yang baik. Sebelum memperjuangkan anak yang tak ada, ia harus perjuangkan anaknya yang bersama dia. Usia muda, tapi sudah punyak skandal asusila.


Aku masih merasa bersalah pada Cloena. Sekarang tak mau menghujat lagi.


Pikirkan saja anakmu yang bersama dengan pria tua di hotel. Jangan ganggu keluarga orang yang bahagia.

__ADS_1


Membaca komentar itu malah membuat Bia ingin tertawa sendiri. Memang akan lebih baik ia bertemu dengan ibu kandungnya itu. "Bagaimanapun tanpa dia aku tak lahir. Melahirkan bukan hal yang mudah. Meski dia tak menginginkan aku hidup. Sekali ingin pun hanya untuk uang. Tetap dia ibuku," tekad Bia.


🍁🍁🍁


__ADS_2