Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Yang sebenarnya


__ADS_3

Darren terkapar lemah, ia jelas bukan tandingan Aric. Nafas Aric terenggah, tangannya penuh darah, tetapi bukan miliknya. Meskipun tubuh Aric juga terluka karena pertarungan mereka. Apalagi lika saat kecelakaan helikopter sebelumnya belum seperti pulih.


"Kenapa kau diam? Bangun, lawan aku! Kau ingin membunuhku bukan? Ayo bunuh aku, Bangsat!"


Aric menarik kerah baju Darren, sebuah pukulan kembali dia berikan di perut laki-laki itu, Darren kembali terjerembab ke lantai karena pukulan Aric.


"Uhuk ... huek !" Darren kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Ia kemudian mengusapnya dengan kasar.


Darren menatap Aric dengan bengis, sorot matanya penuh amarah dan kebencian. Ia seolah-olah ingin mencabik tubuh pria itu, rasa bencinya pada Aric sudah sangat mengakar, hingga Darren ingin meminum dan memakan darah Aric.


Namun, sejak dulu, sejak Aric di bawa markas oleh tetua. Darren selalu merasa tersisihkan, ia yang awalnya adalah kesayangan Benjamin Netanyahu seorang ketua mafia yang terkenal bengis dan tak mengenakan ampun. Dia membawa pulang Darren saat Benjamin berada di negara C, saat itu dia hanya berandalan kecil yang berusia 10 tahun.


Dia di bawa pulang ke markas, dilatih dan di rawat dengan baik. Darren merasa menemukan rumah, di sana semua menyayanginya memperlakukan dia dengan istimewa. Namun, itu tidak berlangsung lama. Saat Benjamin membawa Aric dan bundanya ke markas.


Darren mulai merasakan perbedaan, Aric anak yang pendiam dan tak banyak bicara. Ia lebih suka bergabunglah dengan para anggota saat berlatih daripada ikut dengan Darren berlatih. Darren merasa Benjamin lebih menyayangi Aric, karena dia lebih banyak menghabiskan waktu untuknya.


Waktu berlalu, kedua tumbuh menjadi sosok pemuda yang tangguh. Namun, Benjamin lebih memilih Aric untuk menjadi pemimpin kelompok mereka, Darren tidak terima. Dia yang pertama datang, dia yang pertama kenal dengan Benjamin, tetapi kenapa? kenapa Aric yang mendapatkan segalanya.


"Kenapa? kau tidak bisa mengalahkan ku Darren. Terima saja itu!"


Aric menunduk, mencengkeram kedua pipi Darren hingga mulutnya terpaksa terbuka. Aric mengeluarkan sesuatu dari saku, sebuah botol bening berisi cairan berwarna ungu.


Dengan paksa Darren menelan cairan itu, karena Aric menutup rapat mulutnya dengan paksa. Rasa panas menjalar di tenggorokannya, sangat panas hingga membuat mata pria itu berkaca-kaca.


"Jangan khawatir, ini hanya sedikit sirup manis untuk mu," ucap dengan seringai.


Aric melepaskan tangannya dengan kasar,ia bangkit dan menjauhi dari Darren yang masih terkapar di lantai.

__ADS_1


"Kau bisa membunuhku, tapi aku juga sudah kalah," ucap Darren dengan suara yang mulai serak.


"Kalah? Kalah dari pengecut seperti mu? jangan mimpi." Aric memungut kemeja, ia memakainya sambil melihat Darren dengan mata yang meremehkan.


"An-anak buahmu sudah habis, a


Ak-Aku su ..dah mem ..bunuh mereka se ...mua," nafas Darren terengah-engah hanya untuk mengatakan itu.


"Hem .. benarkah? Benarkah itu Marquis?"


Marquis yang sedari tadi hanya menjadi penonton akhirnya maju, ia bangkit dari tempat ternyamannya.


"Tentu tidak A, aku tidak sebodoh itu. Aku masih sayang kepalaku," jawab Marquis Kang sambil bergidik ngeri membayangkan bogem mentah Aric.


Mata Darren melebar, ia tertawa dengan mulutnya yang merah. Darren menertawakan dirinya sendiri, dia kalah sejak awal dia sudah kalah. Sejak Aric datang ke markas, sejak itu dia sudah kalah. Tawa Darren tanpa suara, ia sudah tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali.


"Marquis, bawa dia. Rawat dia dengan baik," ujar Aric.


Aric berjongkok di sebelah Darren, pria itu sudah tidak bisa mengerakkan tubuhnya, racun yang di berikan Aric melumpuhkan syaraf-syarafnya. Dia bisa mendengar, tapi tidak bisa berbicara, ataupun bergerak seperti orang normal.


"Hiduplah dengan tenang mulai sekarang, bagaimanapun aku berjanji pada Benjamin untuk tidak membunuhmu apapun yang kau lakukan padaku."


Aric mengambil nafas dalam, ia duduk berselonjor di lantai, rasanya sudah lama sekali ia tidak seperti ini dengan Darren. Ya, sejak Darren menganggap ia adalah saingannya.


Aric mencondongkan tubuhnya kebelakang ia menggunakan kedua tangan untuk menopang tubuhnya.


"Kau tahu kenapa Benjamin memilihku untuk memimpin kelompok kita, dia ingin melindungi mu."

__ADS_1


Darren terkejut, ia hanya bisa melirik Aric dengan matanya yang memelotot.


"Dia tidak ingin kau berkecimpung di dunia hitam ini sepertinya," ujar Aric dengan pandangan mata yang menerawang ke langit-langit.


"Kau adalah anaknya, anak satu-satunya Benjamin. Dia sudah mencarimu selama bertahun-tahun. Kau dan ibumu terpisah dengan Benjamin saat mereka di serang oleh musuh. Pada saat itu Ayahmu belum sekuat dan setangguh saat kita bersamanya, dia hanya kelompok kecil yang berusaha bertahan. Ibumu di bawa oleh musuh saat kau berusia dua tahun."


"Benjamin menyesal karena tidak bisa melindungi kau dan ibumu. Dia ingin aku mengantikanmu untuk melindungimu, dia ingin kau hidup tenang. Menjalani kehidupan seperti orang normal lain," Aric menjeda ucapannya.


Aric menoleh menatap wajah Darren yang melihat langit-langit ruangan itu. Ia berusaha mencerna apa yang baru saja Aric katakan padanya, apakah semua itu benar? tapi kenapa Benjamin tidak pernah mengatakannya. Sampai laki-laki itu menutup usia, dia tidak mengatakan kebenaran kalau Darren adalah darah dagingnya.


"Hais ... sebenarnya aku sudah berjanji untuk membawa rahasia ini sampai ke neraka. Tapi aku rasa kau berhak tau kebenarannya, Benjamin. Ayahmu terlalu malu padamu untuk jujur, dia takut kau akan membencinya saat kau mengetahui kalau dia ayahmu, ayah yang payah. Yang tidak bisa melindungi anak dan istrinya sendiri."


"Sekarang sudah aku katakan semua, terserah padamu kedepannya. Apa kau masih ingin melanjutkan kebencian dan dendam tak bergunamu itu. Tapi saat ini hidupmu ada di tanganku."


Aric bangkit dari duduknya, beberapa orang masuk bersama Marquis. Mereka membawa Darren pergi dari markas White Clown.


Aric memerintahkan Marquis untuk membawa Darren ke sebuah vila di pegunungan, dan merawatnya dengan baik. Memberikan kehidupan yang nyaman untuk pria lumpuh itu.


Aric keluar dari gedung markas, dilihatnya bekas pertempuran anak buahnya dan orang-orang Darren. Banyak anggota Darren yang mati, sementara anggota white Clown juga mengalami luka berat.


"Rey. Kumpulkan semua orang!"


"Baik Tuan."


Rey segera mengumpulkan semua anggota dan juga anggota Darren yang masih hidup, di depan markas.


"Terima kasih kalian sudah bertarung dengan baik untuk menjaga rumah kita! Kalian yang terbaik!" Teriak Aric menyemangati anggotanya.

__ADS_1


Semua orang berteriak riuh mendengar ucapan Aric. Awalnya mereka cukup terkejut saat melihat Aric tanpa topeng. Namun, mereka pun menerima dengan baik.


"Untuk kalian, jika kalian ingin bergabung bersama white Clown. Aku akan memberi kesempatan, jika tidak aku tidak akan memaksa, tapi tidak ada yang bisa bernafas setelah keluar markas ini!" tegas Aric dengan seringai.


__ADS_2