
"Apa maksudnya ini? Kalian tak bisa menghentikan ini!" protes Mayen. Ia cukup percaya diri awalnya. Namun, setelah pendukungnya mundur, ia mulai kelabakan.
Satu per satu musuh yang mendukung Mayen mundur dari pertempuran setelah skandal salah satu yang terkuat dari mereka diangkat ke publik. Mereka sudah terlanjur percaya diri akan menang mengingat Mayen membuat takluk Ernesto bertahun-tahun. Sayangnya mereka salah karena senjata Mayen sudah tak berfungsi lagi.
"Tak apa jika ibumu harus mengalami semua ini?" tanya Maria. Bia sedang belajar merajut. Dulu ia belajar dari nenek, sekarang dari mertuanya.
Bia menggeleng. "Bia sudah menemuinya dan memberitahunya tentang masalah ini, tapi ibu lebih memilih meneruskan masalah ini. Bia tak bisa melarang. Bukannya tak mau menolong, hanya setidaknya ia mendapat efek jera," timpal Bia.
Maria memegang tangan Bia. "Kamu masih menganggap ia ibumu?"
Dengan yakin Bia mengangguk. "Bia akan selalu menjenguknya meski seminggu sekali, ia senang atau tidak. Hanya seperti yang Bia katakan, kasih sayang ada batasnya. Bia hanya akan memberikan uang untuk kuliah Ceril saja, selebihnya tidak. Untuk biaya hidup, biar mereka belajar menggunakan uang dengan bijak," tegas Bia.
Maria tersenyum. "Ini baru menantu mamah. Wanita yang hebat dan kuat," puji Maria. Bia memegang tangan Maria dan menyentuhkan telapak tangan itu ke pipinya. "Papah cerita bagaimana dulu mamah menjaga Bia waktu bayi. Terima kasih," ucap Bia.
Maria mengangguk. "Kan, aku sudah bilang tak punya anak perempuan. Ada kamu, rasanya seperti punya anak perempuan sendiri. Makanya kamu jangan hilang lagi seperti beberapa tahun lalu," pinta Maria.
Bia terkekeh. Ia masih merasa bersalah akibat mengandung Divan dan kabur. Ternyata selama itu, mertuanya mencari Bia. Memang sulit mencari orang di Emertown. Akibat kebanyakan yang tinggal di sana orang tua, mereka jarang memperhatikan tetangga.
"Mau mamah cerita tentang Dira?" tanya Maria.
Bia mengangguk. "Kamu mau tahu kenapa waktu Dira balita, mamah tinggal di Emertown?" Maria memberi Bia pembuka yang memancing rasa penasaran.
__ADS_1
"Dari lahir kalian ini sudah sering sama-sama. Waktu kamu dibawa ke Emertown, Dira sering nangis dan sakit-sakitan. Ujungnya waktu mamah datang ke pernikahan ayah dan bunda kamu, Dira megang tangan kamu erat sekali. Dilepaskan langsung mengamuk dia," cerita Maria.
Mendengar itu rasanya Bia merasa geli. Setiap kali dari Heren di bawa ke Emertown, Dira selalu drama dulu tak mau dipisah dengan kamu. Makanya kita buat keputusan tinggal di Emertown sementara waktu. Ternyata sulit LDR sama papah. Dira diberi pilihan ikut ke Heren atau di Emertown, dia kekeh ingin di sini. Katanya di Heren gak ada Bia."
Bia rasanya ingin tertawa. "Lho, Dira bilang sama Bia gak mau ke Emertown karena papah galak dan gak ada yang jagain nenek," ralat Bia.
Maria menggeleng. "Mana ada. Kalau mau jaga nenek, dia gak akan main setiap hari sama kamu."
Bia mengangguk. "Dira memang gak bisa dipercaya," protesnya.
"Diandre!" panggil Dira sambil mengejar putranya yang kabur mencari Bia. Lekas benang dan jarum rajut Bia simpan di meja. Tangannya meraih Diandre dan menggendong anak itu.
"Dia aktifnya seperti Dustin dulu. Sama sekali gak mau diam," komentar Maria sambil mengelap keringat di kening Diandre. Anak itu terlihat ngos-ngosan, papahnya juga.
"Divan mana?" tanya Maria. Ia melirik ke pintu dan tak melihat cucunya yang satu lagi.
"Divan sama papahkan kolega sejati. Mana ada dia ingat Dira kalau sedang bersama kakeknya," cerita Dira.
Maria tertawa. Dia kaget saat mendengar Divan bisa main catur setelah Ernesto ajari. Padahal di rumah tak ada yang bisa. Dira saja meski dasarnya pintar, ia malah mengantuk saat diajak main catur.
"Cucu mamah itu sudah punya gebetan di sekolahnya," cerita Dira. Ia menatap Bia sambil duduk di balkon ruang keluarga. "Siapa itu namanya?" tanya Dira.
__ADS_1
"Davina?"
Dira menepukan tangan. "Iya, itu. Namanya Davina. Sampai minta diantar main ke rumah anak itu kemarin. Jam tujuh malam baru minta dijemput," cerita Dira lagi.
"Anak gak jauh dari orang tuanya. Kamu malah menginap di rumah Bia dulu," ledek Maria. Dira merasa tertohok akan ucapan itu.
"Dira khawatir. Masa dia main sama anak perempuan. Kalau ikuti jalan ninja Dira bagaimana?" keluh Dira.
Bia menggeleng. "Jangan doain gitu juga kali, Pah. Siapa tahu Divan lebih lurus dari kamu," kilah Bia.
Dira mengangguk. "Kamu gak apa-apa? Ibu kamu masih menghubungi?" tanya Dira.
Bia mengangguk. "Ia minta agar kita gak bawa kasus ini ke jalur hukum. Papah sudah mencabut tuntutan atas kasus penelantaran anak. Mudah-mudahan ibu jera," jawab Bia.
Dira mengangguk-angguk. "Kamu yang tabah menghadapi ibu kamu. Pasti ada jalan untuk semua masalah," nasehat Dira.
Bia mengangguk pasti. "Apa Ceril masih berhubungan dengan pengusaha beristri itu?" tanya Bia penasaran. Ia ingin adiknya berubah, tak melakukan kesalahan seperti Mayen. Karena itu, Bia memberinya biaya kuliah.
"Apa yang kamu harapkan dari adik kamu itu? Dia disewakan apartemen mahal, barang mewah dan makanan enak. Semua itu lebih baik baginya daripada kuliah. Tak perlu ikut campur terlalu banyak, bagi kamu mereka masih keluarga ...."
"Bagi mereka aku bukan siapa-siapa. Aku tahu. Memang lebih baik biarkan saja. Itu pilihan mereka. Sekarang aku bagian keluarga ini dan milik kamu, Pah. Lebih baik fokus pada kalian bertiga," Bia melanjutkan kalimat Dira. Dengan anggukan, Dira menimpali kalimat Bia.
__ADS_1
🍁🍁🍁