Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Buah tangan


__ADS_3

Mobil mewah hitam melaju perlahan, membawa sebuah keluarga kecil untuk berkunjung ke rumah tetua. Aric menyetir mobil sendiri hari ini, dia tidak melajukan mobilnya lebih dari 40km/jam. Dia sangat hati-hati.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Lily untuk ke sekian kalinya.


Sejak tadi, Aric hanya menjawabnya dengan nanti juga tahu. Jawaban yang membuat Lily kesal.


"Ke rumah utama, aku akan membawamu bertemu dengan ayahku," jawab Aric santai.


"Ay-Ayahmu," beo Lily.


Wajahnya pias seketika, apa yang dipikirkan Aric. Tanpa persiapan ia membawa Lily bertemu dengan mertuanya, laki-laki ini memang tidak waras.


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku tidak dandan, dan bahkan tidak menyiapkan apapun untuk ayahmu. Agh ... kau memang menyebalkan, bagaimana aku akan bertemu dengan ayahmu!" marah Lily.


"Dandan apa? Kau masih ingin berdandan seperti apa, hem? kau selalu cantik, Sayang. Lagipula untuk apa kita membawa buah tangan untuk dia, sia sudah punya segalanya," ujar Aric datar, ia terus fokus pada jalanan yang mereka lewati.


"Tetap saja, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya. Seharusnya aku memberikan kesan baik," ujar Lily kesal. Ia melipat kedua tangannya, kemudian menatap keluar jendela.


Aric melirik sekilas pada istrinya, wanita itu pasti kesal. Aric pun menepikan mobilnya, dia tidak tenang jika Lily marah seperti itu.


"Sayang, aku minta maaf. Aku hanya ingin melakukan kunjungan biasa, jadi aku pikir kita tidak memerlukan persiapan apa-apa. Aku juga terpaksa ke sana, telingaku sudah gatal karena ceramah jarak jauh Ayahku itu," bujuk Aric dengan sungguh-sungguh, ia sungguh tidak suka melihat wajah masam istrinya. Atau lebih tepatnya, takut jika sang istri marah berkepanjangan.


Lily melirik Aric dengan mata dingin, pria berjambang itu menggenggam tangan Lily dan menatapnya dengan wajah memelas.


Lily menghentakkan nafasnya, berdecih sebal sambil menarik tangannya dari genggaman Aric. Wajah imut itu, bagaimana Lily bisa marah padanya. Menyebalkan.


"Kapan Ayahmu menelfon?" tanya Lily ketus.


"Sejak sebulan yang lalu dia memintaku untuk membawamu pulang," jawab Aric.


"Sebulan yang lalu? Kenapa tidak memberi tahuku?" keluh Lily, dia bisa dianggap menantu yang tidak baik karena mengabaikan mertuanya.


"Aku sebenarnya malas sekali untuk ke sana."


"Kenapa?" kali ini Lily bertanya dengan nada lebih lembut, ia memperhatikan perubahan raut wajah Aric.


Meskipun tidak begitu jelas, tetapi Lily bisa melihat perubahan itu.


"Berapa lama kau tidak pulang?"

__ADS_1


"Cukup lama," jawab Aric datar.


"Sekarang bagaimana? Apa Istriku masih ingin membeli sesuatu?" tanya Aric, ia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ada beberapa orang di rumah utama?"


"Banyak, Ayah punya banyak asisten rumah tangga."


"Ck, bukan seperti itu, maksudku apa ada saudara yang ikut tinggal di sana?"


"Adikku dan istrinya," jawab Aric dingin.


"Emh ... baiknya beli apa ya?" Lily mengetuk-ngetuk dagunya dengan untuk telunjuk.


Selama ini dia belum pernah mendengar apapun tentang ayah mertuanya, Aric tidak pernah bercerita mengenai keluarganya. Hanya kemarin saja, pria itu menceritakan masa lalu yang ia alami.


"Semangka! kita beli semangka saja Bunda," usul Adam.


Aric dan Lily seketika menoleh kebelakang, mereka hampir lupa kalau Adam duduk di belakang saking asiknya berdebat.


"Kenapa semangka?" tanya Lily pada putra kecilnya.


"Soalnya Adam pengen makan semangka," jawab Adam dengan menyengir memamerkan jajaran giginya yang putih.


"Ok, kita ke toko buah sekarang." Aric membenarkan posisi duduknya mulai menyalakan mesin mobil.


"Eh ... tunggu, kita beneran beli semangka?" cegah Lily.


Aric mengangguk, sementara Adam bersorak kegirangan sambil melompat kecil..Ia sangat menyukai buah berwarna merah itu.


"Apa ini tidak terlalu biasa?" Lily memegang tangan Aric yang sedang mengemudi.


Lily merasa cemas, keluarga Aric jelas bukan orang sembarangan. Mereka bermartabat, kaya raya dan terhormat. Bagaimana dia bisa berkunjung dengan hanya membawa sebuah semangka ke sana.


Seharusnya sebagai menantu dia membawakan sesuatu yang lebih baik. Paling tidak sesuatu yang ia buat dengan tangannya sendiri, itu akan terlihat lebih tulus.


"Jangan khawatir, apapun yang kita bawakan untuknya, dia pasti akan suka." Aric mengecup punggung tangan Lily.


"Ih ... kau tau apa?!"

__ADS_1


Lily menarik tangan. Dengan bertopang dagu Lily melihat kearah luar, dia benar-benar frustasi seperti ini. Aric tidak mengerti bagaimana gugupnya Lily sekarang.


Aric terkekeh melihat tingkah istrinya, kenapa begitu cemas. Aric mau datang ke sana saja sudah merupakan suatu berkah untuk laki-laki tua itu, sejak kematian ibu Ahnan Aric sudah tinggal sendiri di mansion miliknya.


Dia lebih memilih hidup tenang dengan kesendiriannya, daripada harus bertemu dengan adiknya itu. Apalagi di tambah satu anggota baru, yang membuat Aric semakin muak untuk pergi ke sana.


Selama perjalanan Lily sibuk memikirkan apa yang akan si belinya, sementara Aric dengan santainya berkaraoke bersama Adam, dengan menyalakan lagu.


Setelah lima belas menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di sebuah toko buah yang cukup besar. Aric segera turun untuk membukakan pintu mobil, setelah membantu istrinya turun. Aric mengendong Adam di pundaknya.


"Selamat datang, mau cari apa?" sambut sang penjaga toko.


"Semangkanya berapa?" tanya Lily sambil memilih buah berbentuk bundar berwarna hijau itu.


"Satu kilonya 8 ribu, Nyonya," jawab penjaga toko itu.


"Tolong pilihkan dua. Yang benar merah dan tua ya."


"Baik Nyonya." Penjaga toko itupun dengan cekatan mengambil dua semangka dengan ukuran cukup besar.


Lily memutus untuk memilih buah - buahan yang lain. Dia memilih melon dan beberapa buah lainnya.


"Apa ini cukup, Sayang?" sindir Aric, bukan masalah seberapa banyak uang yang ia habiskan untuk membeli buah-buahan itu.


Namun, ia seperti memindahkan toko buah kedalam bagasi mobilnya.


"Dua semangka, tiga melon premium, lima kilo kelengkeng, leci, mangga, alpukat, pepaya, apel, kiwi, jeruk, buah naga, pisang, dan anggur ... Emgh aku rasa cukup," ujar Lily mengabsen satu persatu buah yang ia beli.


"Sebentar untuk apa buah sebanyak ini, Sayang?" tanya Aric berbisik.


"Tentu saja untuk ayahmu, aku tidak tahu apa yang dia sukai. Kenapa apa kau keberatan?" Lily menatap tajam dengan bibir cemberut.


"Tentu saja boleh, apapun yang kau inginkan."


"Baguslah, lagi pula ini semua salahmu. Mengajak aku tanpa persiapan," tutur Lily masih dengan nada kesal.


Aric menghela nafasnya. "Iya maaf, ini semua salahku. Jangan marah lagi, Ok."


Aric mengecup pipi Lily singkat. Lily terkejut, seketika ia menyentuh bekas bibir Aric di pipinya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, ini di tempat umum."


Wajah Lily memerah, apalagi penjaga toko yang senyum-senyum melihat Aric menciumnya membuat Lily semakin malu.


__ADS_2