
"Vina jangan sedih, ya? Divan nanti telpon sama pesan ke Vina. Divan kangen pasti, tapi Divan harus kumpul uang beli pesawat tuh," jelas Divan.
Air mata mengalir dari mata Davina. Ia membayangkan akan merasa kesepian. Apalagi selama ini dia bukan anak yang mudah bergaul. "Vina ikut Divan saja boleh?" tanya Vina.
Dengan tegas Divan menggeleng. "Keluarga Vina sedih nanti. Gak apa, Divan temenin Vina di hape, kok." Dengan erat ia peluk Davina.
Bia dan Dira melihat dari kejauhan. "Rasanya jadi ingat waktu kamu nganter aku sebelum ke Heren," ucap Dira.
Bia melirik suaminya yang sudah terlihat sedih. Ingat sekali dalam kenangan bagaimana Bia mengantar Dira ke stasiun kereta dan drama sabun dimulai keduanya saat Dira dan Bia tak mau saling melepas pegangan tangan.
"Kira-kira, anak itu nanti apa bakalan jadi menantu kita, nggak?" tanya Bia sambil cekikikan.
"Jangankan mikirin jodoh, Divan sepatu saja masih suka kebalik," protes Dira.
Divan sudah hampir selesai bermain drama. Dia memegang tangan Davina memeluk gadis kecil itu lagi kemudian melepaskan pelukannya. "Vina yang baik, ya. Sering kirim Divan pesan. Telpon juga," pesannya sambil berjalan menjauh. Davina mengangguk dengan air mata berlinang.
Divan sama sedihnya. Ia juga menangis. Bahkan beberapa kali ia melihat ke belakang untuk melihat Davinanya. "Divan pergi dulu cari nafkah," ucap anak itu.
Dira dan Bia bingung antara merasa sedih dan ingin tertawa melihat kelakuan putranya. "Davina cantik, Tante pergi dulu, ya!" pamit Bia. Ia berjalan menuju Davina dan memberikan pelukan pada Vina.
Davina mengangguk. Mau tidak mau ia harus menerima kenyataan jika Divan harus pergi jauh darinya. Guru-guru pun ikut mengantar kepergian Divan hingga teras gedung.
__ADS_1
Divan menarik napas. Ia naik ke dalam mobil. Begitu Dira menutup pintu, Divan membuka kacanya. "Davina! Divan sayang Vina!" serunya.
Vina menghapus air matanya. Ia berlari memeluk gurunya dengan penuh kesedihan. Divan juga sama. Ia memeluk Bia sambil menangis tersedu-sedu. "Divan masih main sama Vina juga, tapi Divan mau pesawat," keluhnya antara cita-cita dan perasaan.
Mobil Dira melaju menuju bandara terdekat. Diandre seperti biasa tampak senang melihat pemandangan di luar sementara Divan masih tersedu-sedu.
"Kakak pasti bisa. Awalnya mungkin sedih seperti saat kakak meninggalkan sekolah pertama. Lama-lama kakak pasti biasa," nasehat Dira.
Turun dari mobil, sopir dari keluarga Kenan sudah menunggu di bandara untuk membawa pulang mobil Dira. Beberapa pelayan membantu menurunkan koper pakaian. Mereka naik pesawat sendiri yang merupakan pesawat komersil milik KG yang disewakan hanya untuk orang-orang tertentu.
Diandre melihat sekeliling bandara. Banyak orang di sana. Divan juga masih sesegukan di gendongan Dira. Masuk ke ruang tunggu, keluarga Dira menunggu di sana untuk berpamitan.
"Kalian berangkat sekarang?" tanya Ernesto. Dira mengangguk. Ia peluk erat papahnya. Dira selalu hidup berjauhan dari orang tua hingga Ernesto lebih luas melepaskan putranya kini. "Ingat, kita harus tahu diri ada di negeri orang lain. Posisikan diri sebagai tamu."
"Ganti keriput? Gak ah," protes Divan. Ernesto sampai terkekeh.
Maria menggendong Diandre. Anak itu menurut saja digendong neneknya. "Nek, ni inu," celotehnya. Maria hanya mengangguk sedang Diandre menyentuh wajah neneknya.
"Diandre makin besar, makin baik, ya?" pesan Maria. Diandre mengangguk.
Daren, Sora dan Emelie juga ikut mengantar. Sungguh sangat berat meninggalkan keluarga dan menempuh hidup mandiri di tempat orang lain. Hanya dengan begitu kita mampu melebihi batas diri dan merasa puas.
__ADS_1
Himbauan untuk masuk pesawat sudah terdengar. Dira mengecek jam dan memang sudah waktunya untuk pergi. "Pah, Mah ... Dira pergi dulu. Doakan kami di sana sukses," pamit Dira.
Keluarga itu kemudian berjalan menempuh masuk dalam kehidupan baru. Mereka akan bertemu dengan Manhattan dan kemewahannya.
"Kamu takut?" tanya Dira.
Bia menggeleng. "Ada kamu di sisiku. Selama kamu ada, aku gak takut," timpal Bia.
Diandre dan Divan sudah lari duluan naik pesawat. Ini kali pertamanya Diandre naik kendaraan udara ini. Dira melihat ke belakang. Orang tuanya tak ada lagi dalam pandangan. Ia tahu, mulai dari kini hanya tinggal mereka berempat.
"Kita ada waktu pulang ke Livetown juga, kan?" tanya Bia.
Dira mengangguk. "Tentu kita harus berkumpul di hari tertentu demi keluarga," jawab Dira.
"Kamu sudah pamitan dengan ibu kamu?" tanya Dira.
"Iya, ibu tak merespon apapun. Seperti biasa ia lebih fokus dengan Ceril," keluh Dira.
"Kan ada aku," timpal Dira sambil mengecup kening istrinya.
Mereka tiba di kabin pesawat yang hanya memiliki empat kursi duduk. Divan dan Diandre sudah memilih tempat duduk.
__ADS_1
Bia melihat ke jendela. "Sampai Jumpa lagi nanti Livetown. Nanti pasti aku pulang lagi," pamit Bia pada tanah airnya sendiri.
🍁🍁🍁