Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Keputusan Yang Tak Bisa Dirubah


__ADS_3

"Mamah beluang ... mamah beluang ... o al yu ... hil ay em ... hil ay em ... how du u do," Divan menyanyi di ruang keluarga pagi itu setelah sarapan. Ia sampai sengaja menepuk perutnya saat mengucapkan kata mamah beruang.


"Sekarang papah pororo," request Bia. Divan malah menggeleng. Bia manyun. "Kenapa giliran papah malah gak dibikin lagu lucu," protes Bia.


"Papa dalak!" celetuk Divan lalu berlari dan bersembunyi di balik sofa. Bia sampai tertawa dibuatnya.


Dira yang sedang makan kacang almond kontan berhenti mengunyah. "Papah galak, tapi kalau mau apa-apa mintanya pasti sama papah. Divan gimana?" protesnya. Divan terkekeh. Ia mengintip.


Dira lekas mengambil ponsel. "Van, mau Papah kasih coklat banyak, gak? Nyanyi dulu, Papah rekam," tawar Dira.


Sekarang ia tak peduli dengan netijen. Ia ingin merasakan seperti orang tua lain, merekam kelucuan anaknya dan menguploadnya ke media sosial.


Divan mengangguk. Ia lekas kembali ke tempat semula. Beberapa kali ia ambil napas untuk menghaluskan suaranya. "Head and soder knis en gus knis end tus. En ay en mot ir en mot en nos." Divan menyanyikan lagu head and shoulders dengan versinya sendiri sambil menggoyangkan pinggang.


"Lihat!" Divan lekas mendekati papahnya dan melihat video hasil rekaman Dira.


"Sekarang biar Papah kirim ke inaagam," celetuk Dira meniru ucapan Divan.


"Jangan! Kamu mau anak kita jadi sasaran hujatan," protes Bia.


"Kita lihat saja hasilnya. Apa sepagi ini mereka sudah siap menggosip?" tantangnya. Benar saja, Dira menjadikan video itu instast*ry dan memberi teks "Jagoanku" di postingan.


Berhasil, dalam waktu satu menit komentar bermunculan. Dira membaca satu per satu. Isinya lebih banyak pertanyaan dibandingkan hujatan.


Apa benar dia anakmu?


Kenapa kau baru mengenalkannya kini?


Yakin dia anakmu? Tapi memang mirip. Aku tak yakin jika wanita itu menipumu


Dia titisan Dira Kenan

__ADS_1


Bagaimana dengan Cloena melihat semua ini?


"Sepertinya ada yang sudah klarifikasi jika Divan itu anakku." Dira menyimpulkan sendiri ucapan netizen.


Bia mengangguk. Ia baru mengaktifkan ponselnya dan chat dari Ana juga Sayu langsung masuk. "Bi, alumni sekolah kita memberi keterangan wartawan tentangkau. Tetanggamu juga," isi chat Sayu.


Bia mendengus. Sudah ia sangka keadaannya akan menjadi sumber pansos untuk semua orang di masa lalunya.


"Rasanya aku ingin menyobek mulut mereka," umpat Bia ketika melihat salah satu link berita online. Dira melihatnya.


"Dira Kenan menikahi janda muda," dengan lantang Dira membacanya sampai tertawa. Lekas Bia memukulnya dengan bantal sofa. Diantara berita yang membuat sakit hati, ada saja berita yang mengocok perut.


Karena penasaran, Dira membaca link berita itu. "Wanita itu mengandung lalu menikah. Setelah bercerai dengan suaminya, ia mengurus anaknya sendiri."


Bia mendengus lagi. Konon yang memberi keterangan adalah orang yang satu kampus dengannya. Mereka hanya tahu Bia mengandung saja, setelah itu bukannya Bia menghilang.


"Mereka pintar sekali membuat ide cerita. Kenapa tak buat novel saja, ya?"


Dira menepuk pundak Bia. "Istriku, janda semakin di depan," tekan Dira.


Bia tersenyum sinis. "Kau mendoakanku jadi janda. Baiklah, karena aku tak mau bercerai satu-satunya jalan hanya ...."


"Kau menyuruh aku mati?" potong Dira.


"Aku gak bilang, kamu yang mikir sendiri," ledek Bia melancarkan serangan.


Dira mencubit gemas pipi istrinya. Sementara Bia memukul-mukul dada bidang Dira. Dalam keadaan begitu, Divan menjadi yang terlupakan di sini. Anak itu membawa boneka pororonya lalu berjalan ke kamar.


"Pololo, kangen ogi?" tanya Divan. Ia tak mau ambil pusing karena sudah bisa melihat ibu dan ayahnya bercanda hingga main pukul-pukulan.


Tiba-tiba ponsel Dira berdering. Lekas Dira menghentikan aksinya dengan Bia. Rambut mereka sampai berantakan bukan karena iya-iyaan. "Aku angkat dulu," izin Dira. Itu Mr. Pier.

__ADS_1


"Kau ini! Kenapa sulit dihubungi dari kemarin? Kau tahu kekacauan apa yang kau buat?" omel pria itu. Ia pusing mendengar tuntutan ganti rugi atas Dira.


"Berapa? Biaya yang harus aku ganti?" Dira langsung pada intinya. Belum Mr. Pier menjawab, Dira sudah main tebak. Hanya ada dua kontrak dengan brand dan lima jadwal manggung. "Jual apartemenku. Ada dua mobil di sana, jual juga. Itu cukup."


Mr. Pier menepuk jidat. "Bukan itu, Dira. Lepas dari biaya yang harus kau ganti, namamu lebih penting. Kau yang selalu dipuja-puja kini mendadak jadi bahan hujatan karena menikahi janda dan meninggalkan Cloena. Apa kau ingin meninggalkan dunia yang mengangkat namamu dengan kesan yang buruk?"


Dira mendengus. "Istriku bukan janda, kau tahu itu! Satu lagi, aku tahu akhirnya akan begitu. Tidak ada yang akan memaafkan pria yang meninggalkan kekasihnya dalam keadaan hamil. Aku akan buat klarifikasi besok. Biarkan saja dulu. Bilang itu bukan tanggung jawabmu," tegasnya.


Setelah itu ia menutup telpon. Mr. Pier merasa kecewa. Ia masih belum bisa memengaruhi pikiran Dira. Pria itu sumber uangnya yang paling banyak.


"Pimpinan departemenmu itu kenapa sangat keras kepala, ya?" komentar Bia.


"Apalagi, setengah keuntungan agensi berasal dariku. Itu yang ia kejar," jelas Dira.


Bia menggeleng. Karena uang, manusia sampai mengesampingkan rasa sosial. Dira menelpon Matteo. Tak lama Matteo langsung mengangkatnya. "Teo, siapkan beberapa wartawan yang bisa dipercaya. Katakan aku akan memberikan klarifikasi besok. Kemungkinan aku harus meninggalkan Heren secepatnya. Kisahku di tempat ini sudah waktunya berakhir," jelas Dira.


Mendengar itu hati Bia serasa terenyuh. Bagaimana bisa? Demi berada di posisinya selama ini, Dira rela berjalan sendiri. Sekarang ia akan meninggalkan semua itu? Bia bangkit dan menepuk pundak Dira.


"Dir, bagaimana bisa begitu saja. Ingat perjuangamu selama ini."


"Teo, lakukan. Aku mohon bantuanmu," ucap Dira lalu menutup telpon. Ia berpaling pada istrinya. "Ini keputusanku. Aku tak mau tinggal di kota ini lagi. Lebih tenang ada di Emertown."


Bia memeluk Dira. Ia sandarkan wajah di dada bidang suaminya. "Jangan bohongi diri kamu. Aku istrimu, aku bisa mengerti. Dalam keadaan apapun aku gak akan nyerah, Dira. Aku gak mau perjuangan kamu sia-sia. Apalagi karena aku."


"Sayang, aku kehilangan semua bukan karena kamu. Itu semua kesalahanku, aku yang memilih jalan itu." Dira mengecup kening istrinya. "Aku lelah, Bi. Aku ingin bahagia seutuhnya. Bukan hanya sebatas tertawa di depan orang lain dan kesepian kala sendiri. Aku ingin lewati hari-hariku dengan kalian yang membuat hidupku sempurna," tegas Dira.


"Lalu apa yang mau kamu lakukan dengan wartawan itu?" tanya Bia.


Dira mengangguk. "Aku akan luruskan semuanya. Tentang kamu, tentang Divan. Aku akan mundur dengan baik-baik dan meminta maaf atas perilakuku. Meski mereka tak akan memakluminya," jelas Dira.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2