Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Dinia dan Kris


__ADS_3

"Miss, biar Dinia yang bukain pintunya!" tawar Divia begitu pintu apartemen mewah mereka berbunyi. Ia memang anak yang rajin. Pagi sebelum sekolah membantu Bia masak juga membereskan tempat tidur sendiri.


Hari ini Dinia libur. Diandre sedang merancang konsep mainannya sendiri. Semacam permainan otak yang sekarang banyak digemari oleh remaja. Ia juga membuat desain untuk rubik dan spinner.


Dini berlari menuju pintu dan membuka daunnya. Matanya terbelalak. "Ya ampun, ganteng," celetuknya.


"Makasih Dinia," ucap Kris yang hari itu datang berkunjung. Dinia tersenyum centil sambil memeluk daun pintu. "Kak Divan ada?"


"Sebelum Dinia jawab, jawab dulu pertanyaan ini," pintanya.


"Apa?"


"Kenapa bumi bentuknya bulat?" tanya gadis itu.


"Mungkin karena berputar pada porosnya hingga partikel ikut memutar sehingga mengeras menjadi bola," jawab Kris.


"Salah. Bumi bentuknya bulat karena yang bentuknya hati itu cintaku sama Kak Kris," ralat Dinia.


"Bocah!" Divan datang sambil mengusap wajah adiknya. "Mamah manggil di dapur, katanya suruh hias kue," usir Divan.


Dinia manyun. Ia berbalik dan berjalan menuju dapur. Tak lama Dinia berbalik. "Kak Kris ... kata papah, mau gak jadi menantunya? Nanti dikasih Dinia jadi pasangan sehidup semati," teriak anak itu.

__ADS_1


Kris tertawa sementara Divan langsung melempar adiknya dengan permen loli yang biasa ia simpan di saku. "Maafin adikku itu, pagi begini nyawanya belum terkumpul semua. Jadi masih gak sadar waktu bilang gitu," alasan Divan.


Kris diajak masuk ke ruang kamar Divan. Bersahabat sejak TK bersama, mereka sudah tak memiliki rahasia masing-masing. Kris dan Divan kuliah di kampus yang sama. Hanya berbeda fakultas. Lain dengan Divan yang memiliki banyak waktu berghibah ria dengan teman jojobanya, Kris hampir selalu cepat meninggalkan kampus demi urusan bisnis.


"Manda apa kabar?" tanya Divan menanyakan kabar adik perempuan Kris. Sekarang anak itu harusnya sudah kelas tiga SMP.


"Dia lagi ke Bandung. Sama mamah memeriksa perkembangan toko rotinya. Diandre mana? Katanya mau ikut jalan ke Indonesia hunting foto pantai?" tanya Kris sambil duduk di kursi tamu di kamar Divan. Meski sudah berusia 21 tahun, kamar Divan masih penuh dengan elemen Pororonya. Namanya juga hobi karena merasa berarti, ia kumpulkan segala pernik Pororo. Kebanyakan malah hadiah dari Davina dan hasil desain Diandre.


"Nunggu liburan sekolah dulu katanya. Meski nakal, dia masih rajin sekolah," jawab Divan yang duduk di sofa saling berhadapan dengan Kris.


Tak lama Dinia datang membawa minuman dan camilan. Sebenarnya banyak pelayan yang bisa melakukan itu, tetap saja Dinia mau berusaha maju terus pantang mundur. Bukan sekadar Kris adalah penerus Darwin, wajah tampan dan kepribadiannya cocok dijadikan calon suami. "Rajin sekali adikku ini," puji Kris.


Dinia berkacak pinggang. "Jangan gitu ya? Aku bantu mamah masak dan cuci baju. Meski di sini ada pelayan sepuluh, dua tugas itu aku kerjakan sendiri!" kilah Dinia. Ia melirik ke arah Kris. "Bagaimana? Calon istri idaman banget, kan?" tanyanya sambil menyandarkan pipi di atas telapak tangan.


Divan cekikikan. "Woy, Reynold apa kabar?" 


Kesal juga. Dinia mengambil bantal lalu meleparnya ke arah Divan. "Kak Divan sama Diandre sama resenya! Bilangin mamah!" ucap Dinia kesal. Ia berdiri lekas berlari ke dapur. 


"Dasar pinguin jelek! Beraninya nyebut nama Reynold di depan jodohku!" omel Dinia.


Divan masih tertawa puas mengerjai adiknya. "Ya ampun, dari semua pria kenapa dia malah godain kamu, sih? Apa gak ada lagi yang seumuran?" 

__ADS_1


Kris menyeruput teh ungu hasil dari campuran teh hijau, goji berries, serai, biji delima, bunga cornflower dan bunga telang. Dinia memang suka meracik teh. Kris tersenyum. "Dinia yang buat ini, kan?" tanya Kris. 


Divan mengangguk. "Diakan hobinya kayak ibu-ibu ... merajut, merangkai bunga dan racik teh," ledeknya. 


"Dia keren," puji Kris pendek, tapi membuat Divan tertegun. Bisa dilihat oleh Divan sudut bibir Kris tersenyum. 


"Woy! Kamu gak ada niatan jadi adik iparku, kan?" tanya Divan penasaran. Kris tak membalas, ia hanya menyeruput tehnya lagi kemudian tersenyum


Sementara itu, Dinia masih merasa kesal di dapur sampai-sampai ia berhasil menghancurkan kentang rebus hingga benar-benar halus. Bia sendiri merasa seram melihat putrinya menatap kosong dengan mata tajam begitu. Sisi beruang dirinya yang turun pada si bungsu. 


"Din, kamu kenapa?" tanya Bia. 


Dinia melirik ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Masa Kak Divan ngejelekin Dinia depan Kak Kris. Kan, Nia mencoba jadi wanita sempurna supaya pas dia jadikan istri. Nia juga dekat sama Manda. Adiknya Kak Kris sudah setuju jadikan Nia calon kakak ipar," adunya.


Bia menggeleng. "Bukannya kamu lagi dekat dengan Reynold?" tanya Bia bingung. Ini seperti kemelut percintaanya dengan Sunny dan Dira dulu. Inginnya jadi istri Dira, tapi yang dekati hanya Sunny.


"Dia malah PHP, mah. Gak ada kejelasan. Dinia pengen punya suami kayak papah. Tanggung jawab, gak banyak ngatur dan demokratis. Kak Kris itu contohnya," jelas Dinia


Bia mengusap rambut putrinya. "Ada apa sih, kamu sama Divan ngomongin calon terus? Cuman Diandre kayaknya yang masih santai."


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2