
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah utama. Gerbang besar dibuka oleh dua orang penjaga saat mobil Aric masuk. Aric menghentikan mobilnya di depan rumah itu, ia tidak langsung turun. Sejenak Aric menatap bangunan itu, sebuah rumah yang bertembokkan prinsip-prinsip dan aturan-aturan para tetua terdahulu.
Aric tersenyum getir, ibunya bahwa belum pernah masuk ke rumah itu selama hidupnya.
Lily menyentuh bahu Aric. Pria itu menoleh dan memberikan senyuman hangat untuk istrinya.
"Ayo kita turun," ajak Aric.
"Mari."
Aric turun dari mobilnya, ia kemudian berjalan memutar dan membuka pintu untuk istri dan anaknya.
Kedatangan mereka, langsung di sambut oleh seorang wanita berusia 60 tahunan. Dia tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca melihat Aric.
"Tuan muda," panggil wanita itu.
Merasa ada yang memanggilnya, Aric seketika menoleh. Wanita itu terus menatapnya dalam, ada rasa rindu dan kebahagiaan yang sangat terpancar dari sorot matanya.
"Bi Asih, apa kabar." Aric berjalan mendekati wanita itu, karena wanita itu diam terpaku melihat Aric.
"Baik Tuan muda, Baik. Bagaimana kabar Anda? sudah sangat lama.. Akhirnya saya bisa melihat Tuan muda lagi." Bulir-bulir bening jatuh dari sudut matanya yang mulai keriput.
"Baik, terima kasih sudah bertahan di sini."
Wanita bernama Bi Asih itu menggeleng, sambil menyeka air matanya.
"Bagaimana Tuan bisa berterima kasih, ini sudah tugas saya. Saya sudah seharusnya ada di sini."
Lily hanya berdiri di samping mobil, ia mengandeng tangan Adam sambil terus melihat Aric.
"Aric," panggil Lily.
Pria itu menoleh, ia kemudian mengajak Bi Asih berjalan mendekat pada isterinya.
"Bi, perkenalkan ini istriku Lily dan ini adalah anakku Adam. Sayang, ini adalah Bi Asih," tutur Aric memperkenalkan mereka.
Lily segera meraih tangan tangan wanita itu lalu menciumnya dengan takzim. Bi Asih terkejut, ia hendak menarik tangannya tetapi tangan kecil Adam dengan sigap langsung menangkapnya lalu melakukan hal yang sama dengan Bundanya.
"Nyonya, saya tidak berhak menerima penghormatan seperti ini," ujar Bi Asih.
Lily tersenyum, ia melihat sang suami yang terus memperhatikan Bi Asih.
"Kenapa Bi, Anda adalah orang yang lebih tua dari saya. Sudah seharusnya saya menyapa Anda dengan baik, apalagi sepertinya Anda sangat penting untuk suami saya," tutur Lily dengan senyum tulus di bibirnya.
__ADS_1
"Tuan muda, Anda sungguh beruntung memiliki istri sebagai Nyonya." Mata tua Bi Asih kembali berkaca-kaca.
"Tentu saja Bi, aku sangat beruntung."
Seorang laki-laki tampan menatap momen pertemuan itu dengan wajah sinis, dia tidak lain adalah Ahnan. Orang yang paling membenci Aric.
"Tuan Besar pasti sangat senang dengan kedatangan kalian, mari masuk," Ajak Bi Asih.
Lily dan Aric mengangguk, mereka berjalan dengan saling bergandengan masuk ke rumah besar itu.
"Wah ...wah ... Angin apa yang membawa Tuan muda berkunjung ke mari," ujar Ahnan sinis, ia melangkah mendekati Aric dan istrinya.
Aric hanya diam, ia terlalu malas untuk meladeni adik laki-lakinya itu. Aric menggenggam erat tangan Lily dan Adam , ia melangkah begitu saja melewati Ahnan.
"Tuan Ahnan, Tuan muda sudah begitu lama tidak datang berkunjung. Sebaiknya Tuan Ahnan tidak mengganggunya." Bi Asih mencoba menghalangi langkah Ahnan yang hendak menyusul Aric.
"Minggir! Dasar pelayan tua sialan!"
Mendengar hardikan Ahnan pada Bi Asih, Aric menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menghampiri Bi Asih yang di dorong oleh Ahnan, wanita tua itu hampir terjatuh andai Aric tidak menolongnya.
Aric menangkap tubuh Bi Asih yang terhuyung ke belakang. Ia membantu Bi asih untuk berdiri dengan tegap lagi.
"Bi tolong antarkan Lily dan Adam bertemu Ayah, sekalian tolong suruh pelayan untuk mengambil buah di bagasi mobilku, katakan untuk segera menyajikannya pada istri dan anakku."
"Baik, Tuan muda."
Aric menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya, aura membunuh Aric menguar mengintimidasi lawannya.
Ahnan yang mendapatkan tatapan begitu tajam, hanya bisa diam dengan kaki gemetar.
"Jaga sikapmu, kau adalah wajah dari Gulfaam!" ujar Aric memperingatkan.
"Hemp ... untuk apa aku mendengarkan ucapan anak haram seperti mu."
Tangan Aric mengepal, rahangnya mengeras menahan amarah. Tangan Aric terulur, mencengkram leher Ahnan dengan kuat.
"Diamlah, tutup mulutmu sebelum aku menutupnya."
"Egh ...!" erang Ahnan, ia merasa sakit dan sesak do dadanya.
Ahnan memukul-mukul lengan Aric, tetapi pria besar itu tidak bergeming sama sekali. Melihat wajah Ahnan yang mulai berubah warna, Aric pun terpaksa melepaskan, mau?"
Aric melepaskan tangannya dari leher Ahnan, laki-laki itu terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang terasa sakit.
__ADS_1
Aric segera melangkah bergegas menyusul anak dan istrinya menuju ruang baca milik ayah.
"Aric!" panggil seorang wanita yang tengah hamil.
Aric memutar bola malas.
"Bisa tidak penghuni mansion ini tidak membuatku tenang," gumam Aric pelan.
Setelah sekian lama, akhirnya Veronica bisa melihat Aric lagi. Dengan mata berbinar Veronica menghampiri Aric.
"Aric, bagaimana kabarmu?" tanya Veronica, ia menatap Aric dengan penuh damba.
"Adik ipar, aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat. Jika tidak ada urusan, aku harus segera bertemu Ayah. Istri dan anakku juga tidak akan terbuka.
"Istri, anak?" beo Veronica dengan terkejut
"Aric apa kau sudah melupakan ku, masa-masa indah kita. Apa kenangan itu tidak berarti apa-apa untukmu.
"Apa yang kau katakan, lebih baik Adik ipar jaga diri baik-baik."
"Kau bohong kan? Tidak mungkin, kau pasti berbohong!" teriak Veronica
Aric sangat malas untuk meladeni perempuan itu, ia pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan Veronica yang marah.
Sementara itu di ruang kerja.
Adam duduk di pangkuan Hadid, anak kecil itu duduk sambil menikmati semangkuk semangka yang sudah di potong dadu, memudahkan Adam untuk memakannya.
"Kau sangat mirip dengan Aric saat kecil dulu," ucap Hadid.
"Tentu saja, dia anakku tentu saja mirip aku," sahut Aric yang baru saja masuk ke ruang baca itu.
Hadid dan Lily menoleh.
"Ayah!" pekik Adam riang, ia hendak turun dari pangkuan Hadid, tetapi pria itu menahannya. Ia seolah tak rela berpisah sejenak dari cucunya itu.
Meskipun baru bertemu. Namun, Hadid sudah sangat menyayanginya.
"Maaf membuatmu menunggu." Aric mengecup lembut kening Lily.
"Apa yang kau lakukan, ada Ayah di sini," bisik Lily malu.
Bukannya menjawab, Aric malah langsung duduk di sebelah Lily lalu memeluknya dengan posesif.
__ADS_1
"Aric, lepaskan. Kau membuatku malu," bisik Lily.
Pria itu sepertinya tuli, ia tidak menghiraukan bisikan Lily sama sekali.