Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Beruang lawan aer kemasan


__ADS_3

"Mah, Papah nangis. Kacian." Divan mengadu pada Bia yang tadinya tengah menyiapkan makan malam untuk keluarga Ernesto Kenan. Meski sedang berduka tentu mereka harus mengisi energi agar bisa melewati hari esok.


Divan menarik-narik tangan Bia agar ibunya mengikuti. Bia menurut saja. Divan membawanya melewati ruang tamu dan lorong-lorong ruangan hingga tiba di depan pintu putih berdaun dua.


"Tuh, Papah cana!" tunjuk Divan. Bia mengangguk. Ia tahu itu kamar Dira. Pelan-pelan Bia membuka pintu dan melihat Dira duduk di sisi tempat tidur sambil memeluk lutut dan menangis. Hati istri mana yang tidak terenyuh melihat suaminya seperti itu.


"Papah nangis," ucap Divan lagi lirih.


"Divan makan malam dulu. Biar Mamah yang hibur Papah ya?" saran Bia. Divan mengangguk. Anak itu langsung berlari kembali ke ruang makan.


Bia masuk dan menutup pintu kamar Dira pelan-pelan. Ia hampiri Dira dan menepuk punggung suaminya itu. "Makan dulu, kamu sarapan sedikit tadi."


Dira mengangkat kepala sambil mengusap air mata. Ia pegang pergelangan tangan Bia seolah meminta pertolongan. Bia duduk di hadapan Dira kemudian memeluknya erat.


"Bi, kenapa selama tiga tahun ini aku ninggalin Nenek. Padahal dia kesepian. Dia sering menghubungiku, tapi aku sibuk. Aku ini memang jahat, Nenek pasti kecewa padaku." Dira meratap dalam pelukan Bia.


Tak ada kata yang bisa Bia keluarkan untuk mengomentarinya. Bia hanya mengusap rambut Dira dan menepuk punggungnya pelan-pelan.


"Sedari kecil Nenek yang selalu menemani dan mengajariku. Justru setelah aku sukses, aku melupakan Nenek begitu saja. Kenapa ia harus punya cucu kurang a jar sepertiku."


Kamar itu hanya terdengar suara tangisan Dira. Pintu menuju halaman terbuka. Terasa dingin angin meniup masuk ke dalam kamar seolah mengucapkan rasa bela sungkawa.


"Boleh aku tanya?" Bia menghapus air mata suaminya. "Apa Nenek bilang kamu kurang a jar atau bilang dia benci padamu?" tanya Bia. Dira menggeleng.


"Menurut kamu Nenek itu pembohong apa orang yang jujur?"


"Tentu saja Nenek orang yang jujur." Dira bingung kenapa Bia bisa menanyakan hal itu.


"Apa Nenek bilang dia sayang kamu?" tanya Bia lagi. Dira mengangguk. "Karena Nenek jujur, ia mengatakan yang sebenarnya. Nenek sayang kamu. Mungkin dia kecewa, tapi kasih sayangnya mengalahkan semua. Nenek juga ibu kamu, kan? Aku juga seorang ibu, meski Divan nakal aku tetap bisa memaafkannya. Karena aku seorang ibu," jelas Bia.

__ADS_1


Mendengar itu Dira sedikit tenang. Bia tetap memeluk Dira. Ia tahu Dira butuh teman berbagi. "Kamu tahu apa yang aku lihat di matamu ketika kita bertemu kembali?" tanya Bia.


"Apa?"


"Kesepian," jawab Bia.


Dira mendongak. Ia melihat wajah istrinya. Tanpa Dira duga, akhirnya ada juga seseorang yang bisa melihat jauh ke dalam hatinya.


Dira tersenyum. Ia balas pelukan Bia. "Bagaimana aku gak kesepian. Teman main gila-gilaanku jauh di Emertown. Di sana gak ada yang bisa aku ajakin maling ceri, ngebut di jalan, main ke pantai dan piknik."


Bia terkekeh. "Memang apa gunanya pacarmu kalau begitu. Bukannya pacar itu teman berbagi?"


"Teman berbagi tempat tidur maksudnya?" kelakar Dira yang langsung mendapat cubitan pedih di lengannya. "Maaf. Galak banget, aku lagi sedih, kan?"


"Orang sedih mana yang inget masalah gituan! Dibaikin malah ngelunjak!" omel Bia. Ia menarik lengan Dira. "Ayok bangun, makan dulu. Cuci muka, jangan nangis terus. Divan lihat tuh, nanti dia bilang papahnya cengeng."


...🍁🍁🍁...


"Cloe dan Dira kembali bersama?" Bia membaca tagline di acara berita itu. Ana mengangguk. "Katanya Cloe terlihat dekat dengan Dira juga Tante Maria. Jadi mereka pikir Cloe dan Dira baikan."


Bia menggeleng-gelengkan kepala. Padahal keluarga ini tengah berduka, mereka sempat-sempatnya menulis berita seperti ini. Bia keluar dari kamar menuju pintu depan rumah Dira di Emertown. Tadinya ia berniat mengambil sandalnya yang tertinggal. Namun, Bia dikagetkan akan keberadaan Cloe di sana.


"Kamu? Ngapain di sini?" Suara Cloe begitu keras dan tinggi saat menginterogasi Bia. Ia seret Bia menuju halaman yang sepi. Tangannya begitu kencang meremas lengan Bia hingga Bia merasa kesakitan.


"Awas ya kalau sampai kamu berani godain Dira lagi! Aku sudah peringatkan sebelumnya. Jangan sampai aku bikin kamu lenyap dari dunia ini!" ancam Cloe. Bia gemetaran.


"Aku cuman ingin bilang rasa belasungkawa, kok. Kemarin gak sempat karena gak enak. Jadi hari ini baru datang," jelas Bia sama tingginya.


Cloe menjambak rambut Bia. "Apapun itu! Aku gak mau kamu dekat-dekat dengan keluarga Dira. Kamu itu cuman sampah di sini. Harusnya tahu di mana tempat kamu!"

__ADS_1


"Bagaimanapun, Nenek Benedith itu sangat aku sayangi. Kalau aku tak datang bukannya gak sopan." Bia tak mau kalah. Ia balas jambak rambut Cloena. Perempuan itu kalau tak dilawan pakai fisik, tak mempan.


Cloe mendorong Bia hingga punggung  Bia terbentur ke tembok dengan keras. "Heh, jangan bohong, ya! Aku tahu kamu itu cuman manfaatin keadaan! Dengar! Aku gak mau kamu ada di sini lagi. Lebih baik pergi dari sini dan jangan halangi jalanku untuk menarik simpati Dira dan keluarganya. Aku tekankan! Dira itu milikku!" Telunjuk Cloe menunjuk-nunjuk wajah Bia.


Bergetar sudah tubuh Bia. Ia meremas tangan lalu kembali berdiri dan menampar Cloe. Sempat Cloe terhuyung, tapi berhasil bangkit dan meraih tubuh Bia. Tak mau kalah, Bia cubit tubuh Cloe. Kemudian mereka main jambak-jambakan.


"Dasar wanita ja lang kasar!" umpat Bia.


"Kamu wanita miskin murahan!" balas Cloe.


Cloe semakin menjadi, ia dorong Bia dari samping hingga terjatuh ke rumput.


"Cloena!" bentak Dira yang datang dari dalam rumah. Rupanya ada pelayan yang melihat kejadian itu dan mengadu.


Dira berjalan mendekati kedua wanita itu. Ketika berada dekat dengan Cloe, dengan keras Dira menampar perempuan itu. "Lebih baik kamu yang pergi dari sini. Aku muak lihat wajah kamu."


Cloe memegang pipinya yang kesakitan. "Dira, kenapa kamu tega berbuat begini padaku?"


Dira membantu Bia berdiri dan menepuk-nepuk dress Bia yang kotor. "Pergi sekarang juga sebelum aku semakin marah!" usir Dira.


"Aku melakukan ini semua karena aku cinta kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Kenapa kamu gak ngerti, sih?"


"Cukup Cloe! Kamu gak butuh aku, yang kamu butuh hanya uangku. Jangan takut, aku gak akan minta uang ganti untuk apartemenmu. Satu lagi, apa yang kamu ucapkan waktu itu sama sekali tak bisa aku maafkan. Apalagi sekarang kamu nyakitin Bia lagi. Aku makin muak lihat wajah kamu. Sebelum aku ungkap seperti apa kamu ini sebenarnya, lebih baik berhenti mengangguku!" tekan Dira.


Cloe masih berdiri di sana. Napasnya begitu kencang. Ia balik menampar Dira. "Kurang a jar! Kamu pikir bisa meninggalkan aku begitu saja setelah apa yang kita lakukan? Kita lihat nanti, aku pastikan kamu bertekuk lutut meminta kembali padaku."


Dira tertawa sinis. "Mimpilah Cloe, sebelum kenyataan menyadarkanmu jika kau ini bukan manusia!"


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


Perang dimulai 🇮🇩🇮🇩🇮🇩


__ADS_2