Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Bia!" panggil Melvi ketika melihat Bia dan Divan sudah duduk di kursi sebuah cafe. Melvi berlari dan langsung memeluk Bia dengan erat. Bia sampai meneteskan air mata karena rindu pada Melvi. Syukur Melvi bilang dia dan Jared akan datang ke Heren untuk memesan beberapa keperluan toko.


Bia mengajak mereka bertemu untuk sekadar menraktir dan memberikan mereka hadiah. "Divan! Kenapa belum gede juga?" tanya Melvi.


Divan manyun lalu melotot. "Baru juga tiga bulan gak ketemu, masa tiba-tiba dia sudah masuk SMP?" Bia menepuk lengan Melvi.


"Rasanya sudah lama banget, Bi. Di toko juga kamu sudah ada yang ganti. Mrs. Carol apalagi. Dia sampai minta ingin video call Divan terus. Namun, tetap saja kangen katanya."


"Iyalah, Mrs. Carol yang rawat Divan dari umur dua minggu. Pasti sama sayangnya denganku. Aku juga kangen Emertown. Di sini banyak polusi, orang-orangnya juga sangat kaku dan sulit di dekati."


Divan tanpa sengaja menyentuh es krimnya hingga belepotan ke pipi. Jared mengambil tissue dan memberikannya pada Divan. Anak itu mengambil tissue itu dan mengucapkan terima kasih. "Sama-sama," jawab Jared sambil mengusap rambut Divan.


"Suami kamu gak ikut datang?" tanya Melvi. Bia menggeleng. Bahkan sudah tiga malam Dira tak pulang. Ia melenguh. "Berita di televisi juga masih sering masang-masangin dia sama Cloena Parviz. Jadi hubungan kalian belum diungkap?"


"Menunggu Desember, Mel. Sampai kontrak dia habis dengan agensinya. Sampai sana harus banyak sabar." Bia mengaduk kopinya.


Permasalahan hidupnya semakin pelik semakin bertambah usia. Pada umur dua puluh satu tahun, orang lain masih kuliah atau bekerja dan main dengan teman-temannya. Namun, Bia harus mengurus anak dan terlibat peliknya urusan rumah tangga.


"Hubungan kalian baik-baik saja, kan? Kok kamu seperti sedang banyak pikiran?" tanya Melvi khawatir.


Bia menunduk. Ia mengetukkan jari di meja. "Pertama kali aku bertengkar dengannya. Jadi galau sendiri. Dia bahkan gak pulang," jawab Bia.


Melvi sampai tersedak. "Gak pulang? Ke mana? Yakin gak nyungseb ke rumah perempuan lain?"


Jared menyikut lengan Melvi. "Harusnya kamu semangatin dia, bukannya malah bikin dia takut," nasehat Jared. Dia jadi semakin menemukan arti hidup setelah kena omel Melvi setiap hari.


Terlambat karena wajah Bia sudah memucat. Belum lagi belakangan mereka jarang tidur bersama karena Dira sibuk manggung. "Apa jangan-jangan Cloe godain dia dan mereka barengan lagi?" Bia gemetaran.


Jared menghela napas. "Jangan berpikir negatif dulu, Bi. Mungkin dia lagi emosi jadi butuh menenangkan diri. Kalau pulang dalam keadaan emosi bukannya malah akan buat dia dan kamu semakin memanas."


Kali ini Bia mencoba menelaah nasehat Jared. Ia mulai membuat kepalanya lebih dingin. "Iya, Jar. Mungkin memang begitu. Dira kalau sudah marah memang sering menyendiri. Kalau gak gitu, dia pasti uring-uringan." Bia mengusap dada lalu kembali meminum kopinya.

__ADS_1


Tadi malam Dira sempat menelpon beberapa kali. Bia karena asik karokean dengan Divan sampai tak mendengar. Mau nelpon balik juga gengsi. Jadi Bia nunggu saja sampai Dira nelpon lagi.


Melvi menggeleng. "Gak, Bi. Kamu harus hubungi dia dan minta kepastian. Kalau sampai diam-diam dia ketemu perempuan lain, sama saja kamu dibegoin."


"Mel, jangan begitu loh! Kasihan Bia. Kamu ini kenapa, sih?" omel Jared.


"Ini demi kebaikan Bia dan hubungannya ke depan. Belum lagi mereka sudah punya anak."


Lagi-lagi Bia jadi murung. Ia juga bingung bagaimana harus menghadapi semua ini. Sepertinya ia kembali ke masa saat ia sedang mengandung Divan dulu. Ia ditempa dilema antara takut dan butuh.


"Bi, kamu ingat waktu kamu hamil dulu? Karena kamu gak berani, kamu harus sengsara sendiri dan besarin Divan sendirian. Belajar dari itu, kamu juga harus belajar lebih keras pada Dira. Dia jangan gantung kamu begini. Kalian harus berkomunikasi. Apalagi sempat ada perempuan lain diantara kalian." Melvi memegang tangan Bia dan meracuni pikiran perempuan itu.


Bia mengangguk-angguk. Melvi benar, ia selalu saja mengalah. Kali ini dia harus tegas. "Iya, aku akan hubungi Dira nanti. Sekarang saatnya kita senang-senang. Sudah lama kita gak ketemu, kan? Aku mau main sama kalian. Aku kangen."


Mereka jalan-jalan di taman air mancur. Divan lari-lari di bawah air mancur sampai pakaiannya setengah basah. Syukur Bia sudah membawa baju ganti. Anak itu sudah lama tidak keluar rumah. Akan lebih baik ia main di lingkungan luar.


"Anakmu tuh! Lagi PDKT!" tunjuk Melvi pada Divan yang sedang memberi permen pada anak perempuan. Jared dan Bia sampai tertawa. "Dia sama ganteng sama Bapaknya, masih kecil saja sudah laku."


Bia menyenggol lengan Melvi. "Tuh, ada Jared!" Bia sengaja menyenggol Melvi hingga saling berbenturan bahu dengan Jared. Kontan Melvi dan Jared kaget.


"Apa sih, Bi! Ogah tahu!" tolak Melvi.


"Dia bukan tipe aku," tolak Jared juga. Bia sampai tertawa. Mereka menolak, tapi pipi Melvi dan Jared sama-sama memerah.


"Kalian selama aku pergi pasti lebih sering berdua, masa gak ada apa-apa," ledek Bia. Melvi dan Jared bersamaan menggeleng.


"Gak lah!" timpal mereka barengan. Lagi-lagi Bia terkekeh. "Ngomong saja barengan. Memang cocok!" Bia bertepuk tangan.


"Sudah, Bi. Gak asik kamu ini. Gak gitu juga ah," tolak Melvi sambil menunduk malu.


"Aku doain kalian lekas sadar, menikah dan punya anak buat temannya Divan."

__ADS_1


"Mamah!" panggil Divan sambil berlari dan memeluk Bia. Ia kelihatan kaget dan ketakutan. Sedari tadi bercanda dengan Melvi, ia tidak memperhatikan Divan.


"Ada apa?" tanya Bia.


"Divan difoto," jawabnya.


Bia melihat ke arah yang Divan tunjuk. Ada beberapa orang yang memegang hp dan mengarahkannya ke arah mereka. Bia terkejut dan langsung menutup wajah anaknya.


"Maaf, itu anak yang bersama Hugo, kan?" tebak salah satu dari mereka.


Bia menggeleng. "Bukan, ini anak saya," jawab Bia.


"Anaknya lucu, Miss. Mirip dengan keponakan Hugo yang viral di instagram," timpal orang yang satunya.


Melvi kebingungan sendiri. Belakangan ia jarang melihat perkembangan dunia hiburan jadi tidak tahu masalahnya.


"Maaf, Mbak. Ini anak saya," tegas Bia. Ia menggendong Divan lalu berdiri dan mundur beberapa langkah.


"Dia keponakannya Hugo, kan?" Mereka masih yakin dengan wajah Divan yang sama dengan foto yang Hugo upload.


"Ada apa, Bi?" tanya Jared dan Melvi.


"Divan pernah foto sama Hugo dan diupload ke internet," jawab Bia.


Melvi mencoba mencari jalan tengah. "Maaf ya semuanya. Ini salah paham. Teman saya dan anaknya tidak ada hubungan apa-apa dengan Hugo. Teman saya hanya fans dan kebetulan Hugo senang lihat anaknya yang lucu," jelas Melvi.


Mereka yang mendengar itu mengangguk mengerti. "Tapi boleh kita minta foto dengan anaknya kan, Miss?" pinta salah satu dari mereka.


"Maaf ya, bukan saya gak menghargai kalian semua. Tapi, anak saya ketakutan. Dia tidak biasa diperhatikan banyak orang. Maaf ya," ucap Bia sambil menunduk.


🍁🍁🍁

__ADS_1


🤗 makasih atas sumbangan votenya. Yuk yang belum sumbangin poinny bisa bantu sumbang 🙏😉


__ADS_2