Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Benalu


__ADS_3

Kata orang meski manusia berusaha sekuat apapun menciptakan sebuah perpisahan, maka takdir yang akan mempertemukan. Seperti Dira yang tanpa sengaja bertemu dengan Divan. Bia juga tanpa sengaja bertemu dengan Mayen.


Hanya saja insting seorang ibu dari Mayen seakan hilang. Lain dengan Dira yang merasakan satu ikatan ketika bertemu Divan, Mayen tak begitu. Ia sama sekali tak mengenali putrinya. Bahkan merasa pun tidak.


"Memang, mamah baru tahu?" tanya Ceril saat mereka tengah ke salon berdua. Anak dan ibu itu sama sekali tak merasa malu meski banyak orang mengenali wajah Ceril akibat video yang viral. Ceril tetap aktif di media sosial. Ia malah senang mendapat hujatan karena itu ia mendapat banyak tawaran wawancara di televisi. Bahkan Ceril juga berakting seolah dilecehkan.


"Kupikir istrinya itu secantik pacarnya dulu, siapa itu ...." Mayen nampak berpikir panjang. "Ituloh, Ril. Yang dipenjara itu?"


"Cloena Parviz?" tanya Ceril. Mayen mengangguk. Ia sangat ngefans pada Cloena. Banyak ibu-ibu yang suka dengan dramanya. Para ibu itu akrab dengan artis sinema, lain jika penyanyi.


"Bahkan Mamah kenal Dira itu ya karena pacarnya Cloena," tambah Mayen.


"Aku malah gak kenal Cloena. Aku suka Dira. Dia ganteng, suaranya merdu. Mamah kenapa gak bilang kenal sama papahnya, sih. Kalau kenal dari dulu, pasti Ceril sudah dapetin Dira sekarang," keluh Ceril.


Mayen mengusap rambut putrinya. "Sabar anakku, lagipula kemarin kamu dapat hadiah dari pengusaha tas itukan?" tanya Mayen. Ceril mengangguk. Namanya mungkin tercoreng karena kasus video. Sayangnya kecantikannya tetap saja membuat para pria buta.


Mayen kenal dengan banyak pengusaha akibat teman selingkuhnya dulu yang juga pengusaha. Ayah Ceril sebenarnya masih hidup, hanya karena masalah dengan keluarga Kenan dulu, pria itu bangkrut. Mayen meninggalkannya karena mendengar Lousiano menjadi sosok berpengaruh di Kenan Grup. Hanya saja Mayen tak tahu di mana kantor mantan suaminya itu dan juga tempat tinggalnya.


Begitu ia tahu Lousiano tinggal di Emertown, justru Lousiano sudah meninggal. "Kalau saja anakku masih hidup, harusnya aku juga bisa mendapat harta warisan Lousiano. Pasti hidupku tak akan begini. Sayang anak itu ikut mati juga," pikir Mayen sambil melihat hasil pekerjaan hairstylist pada rambutnya.


Ernesto sempat menjelaskan jika Ana meninggal sejak bayi. Hanya Mayen tak percaya. Ia nekat pergi ke Emertown beberapa hari lalu. Di sana ia menemukan makan mantan suami dan keluarganya, juga makam Ana yang berada jauh dengan mantan suaminya. Mayen juga tak mendengar jika tak sepeserpun harta Lousiano yang masih tersisa. Semua sudah dijual oleh mantan adik iparnya, Rubi.


Keputusan Rubi memang tepat. Menjual semuanya dan membawa Bia juga ikut menimbun jejak Bia dari Mayen.

__ADS_1


"Kalau dipikir kesal juga, ya? Melihat suami ganteng kaya begitu, eh istrinya biasa saja. Memang nemu di mana sih dia itu," Mayen lagi-lagi berkomentar pedas.


Ceril berpikir. Ia mengingat gosip panas yang menimpa Dira hampir dua tahun lalu sampai akhirnya karir Dira hancur. "Katanya temannya di kota kecil yang kemarin mamah sempat pergi loh, apa namanya ... Em ...."


"Emertown?" tanya Mayen.


Ceril mengangguk. "Lagian mamah ngapain ke sana, sih. Itu bukan kampung halaman mamah, kan?" tanya Ceril penasaran.


Mayen mendengus. "Aku hanya ingin memaki pria bodoh yang tidak memberikan aku apapun juga anaknya," keluh Mayen.


Ia yang meninggalkan bunga di makam ayah Bia. Hanya kamuflase untuk benar membuktikan ucapan Ernesto. "Bahkan dia membedakan putriku dengan keluarga barunya. Ana dimakamkan jauh dari makam keluarganya."


Kini ia hanya bisa berpegangan akan sesuatu. Ia mengancam Ernesto untuk menuntutnya ke publik atas memisahkan Mayen dengan putrinya juga menyembunyikan anak itu. Sayangnya, tanpa Mayen tahu. Alasan Ernesto menutup mulutnya, agar Bia tak tahu masalah itu. Bukannya takut.


Mayen tertegun. Ia kaget luar biasa melihat Maria sudah berdiri di belakangnya. Mayen berdiri lalu menunduk tanda hormat. Meski memeras keluarga Kenan, Mayen tak bisa bersikap tak sopan pada keluarga itu.


"Siang Nyonya," sapa Mayen.


Salah satu pelayan membawakan tempat duduk untuk Maria. Ceril tampak bingung dan bertanya-tanya, siapa gerangan wanita yang sudah berumur, tapi masih begitu cantik.


"Kamu membicarakan menantuku sejak tadi?" tegur Maria.


Mayen mulai panik. Tangannya menjadi dingin. Wanita itu melirik dan melihat Bia berdiri tak jauh dari Maria untuk menunggu pelayan lain memberikannya tempat duduk juga.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Saya sangat bersalah," ucap Mayen.


Maria melirik Ceril dan Mayen dengan tajam. "Kalian menggunakan fasilitas keluarga Kenan, tapi tak bisa menjaga rasa hormat pada keluarga kami!" sindir Maria.


Kursi yang diberikan untuk Bia datang. Bia duduk di sana sambil menatap mertuanya dan Mayen bergantian. Posisinya di sini Bia bingung, ia tak ingin ikut campur. Hanya saja ia yang menjadi sumber pertengkaran. Kalau ikut campur, mana Bia berani.


"Mah, sudah ya. Bia gak apa-apa, kok,"  ucap Bia menenangkan mertuanya.


"Ouh, tak bisa. Lawan dia. Bilang padanya siapa kamu dalam keluarga Kenan. Kamu menantu mamah. Jangankan menghujat, menyebut nama kamu saja dia tak pantas!" tunjuk Maria. Amarahnya bercampur antara rasa terhina dan rasa gemas akibat apa yang Mayen lakukan pada Bia dulu.


Bia seperti seorang putri bagi Maria. Sejak lahir, Maria yang menggendongnya, memberi Bia susu meski bukan ASInya. Saat Bia panas, Maria yang menjaga semalaman. Jelas ia tak menerima jika ibu yang meninggalkan Bia dulu, kini menghina Bia.


Mayen menunduk di depan Bia. Ia tarik lengan putrinya agar melakukan hal yang sama. "Saya minta maaf Nyonya Drabia Kenan," ucap Mayen.


Bia menarik napas. Jujur ia sedang tak mood jika harus marah-marah. Tujuannya ke sini untuk refreshing dengan mertua dan juga kakak iparnya. Mumpung Dira sedang baik hati mau menjaga Divan dan Diandre.


"Lebih baik kalian pergi. Sebelum mertuaku tambah marah," saran Bia. Mayen mengangguk lalu mengajak Ceril keluar.


"Mah, ini belum selesai," terdengar keluhan Ceril.


Sora berpapasan dengan ibu dan anak itu. Ia melihat keduanya heran lalu berpaling pada mertuanya juga Bia. "Mereka siapa?" tanya Sora bingung.


"Tak ada. Mereka hanya benalu!" maki Maria.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2