Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu


__ADS_3

🌱🌱🌱 Toge mampir 🌱🌱🌱


Kilau cahaya di musim panas


meninggalkan kesan kuat


Sehangat pelukanmu


Jatuhnya dedaunan di musim gugur


menyentuh kerinduan


Selincah dirimu


Ho-oh dirimu secantik bunga


di musim semi


Harumnya tiada tandingan


Waktu demi waktu berganti


Kamu slalu hadir


Seperti jutaan musim mengisi hari


Katakan satu janji


Jika kau tak pergi


Tetap memeganh tanganku di sini

__ADS_1


Kalau kau nanti hendak berganti


Bawa aku lagi


Kita membuat sebuah memori


Petikan suara gitar Dira terdengar diantara deburan ombak. Itu bukan makan malam formal karena makanan yang tersedia di atas meja lebih seperti camilan anak SMA yang biasa mereka makan dulu: sandwich, burger, cookies juga pie.


Bia bertepuk tangan ketika Dira selesai menyanyikan lagunya. Ia sungguh sangat terharu karena akhirnya Dira bisa bernyanyi lagi.


"Aku senang banget, Pah. Akhirnya dinyanyiin lagu romantis kamu lagi," seru Bia.


Dira menyipitkan matanya. "Lha, kan kita ceritanya balik lagi SMA. Kenapa malah manggil Papah?" protes Dira.


Bia nyengir. Sudah kebiasaan kalau depan anak-anak jadi keceplosan sendiri. "Iya deh, nyet!" timpal Bia.


Dira melempar snack chiki ke arah Bia. "Bisa unyu sedikit gak, sih? Masa monyetnya keluar lagi, beruang?"


Dira menyimpan gitar bersandar di meja. "Mau jalan-jalan, gak? Sambil pegangan tangan berdua," ajak Dira.


Bia berdiri. Ia langsung mengulurkan tangan agar dibalas Dira. Lekas Dira bangkit dan menuntun Bia turun ke pantai. Keduanya berjalan dibatas tumpukan pasir putih yang berkelap-kelip akibat butiran garam yang memantulkan cahaya sekitar.


Pohon kelapa di sisi pantai yang berbatasan dengan resort melambai-lambai tertiup angin. Cemara laut tumbuh di sekitar pantai dan tak mau kalah tariannya.


Bia berlari menemukan sebuah biji pinus yang terjatuh ke pasir. "Kayak film Ice Age," seru Bia. Perempuan itu memperlihatkan biji itu pada Dira.


"Ini biji pinus. Kalau di film itu biji pohon ek. Masa kamu gak bisa bedain, sih?" Dira menyentil pelan jidat Bia.


"Sakit, ih!" proses Bia. Lekas Dira mengusap jidat Bia yang ia sentil lalu meniupnya. Namun, Bia iseng mencium bibir suaminya itu. "Ya ampun, kaget."


Bia tertawa. "Habis kamu ngegemesin," ucap Bia sambil bergerak miring kiri dan kanan.

__ADS_1


Dira tersenyum. Ia raih wajah Bia lalu mencium bibirnya sangat lama. Setelah melepas, Dira menatap Bia dengan tatapan hangat. "Kamu lebih ngegemesin, makanya ingin nyiumnya lebih lama," ucap Dira sambil berbisik.


Bia berbalik lalu menutup wajahnya karena malu. "Aku kesel ah! Kamu bisa bikin aku malu gini, tapi aku gak bisa," keluh Bia.


Dira memeluk Bia dari belakang. "Lihat sini!" serunya sambil membalikan tubuh Bia. Keduanya saling berhadapan. "Senyum donk," pinta Dira.


Bia agak sedikit bingung. Kemudian ia tersenyum memperlihatkan pipi tembem juga lengkungan mata yang menyipit. Dira meraih tangan Bia dan menyimpan di dadanya. "Tuh, kan! Bedebar. Padahal cuman senyum saja," ucap Dira.


Bia lagi-lagi terkekeh. Wajahnya memperlihatkan rona merah muda di pipi. Dira memegang pipi itu dengan memperlihatkan wajah gemas. "Bi, kamu akan selalu dukung aku, kan?" tanya Dira.


Bia mengangguk dengan pasti. "Aku ini istri kamu loh, Pah. Kalau bukan aku, lalu siapa yang bakalan dukung kamu. Kecuali dukung nyari istri lagi," timpal Bia.


Ucapan wanita itu selalu membuat Dira terkekeh. "Papah minta aku pindah ke Heren untuk mengurus perusahaan bersama Daren. Aku pikir, memang itu hal yang terbaik. Sekarang aku tahu, aku hanya perlu melakukan segala hal sebisa yang aku lakukan," cerita Dira.


"Aku pasti ikut kamu, kok," tekad Bia.


"Brand pakaian Kenan juga semakin dikenal. Aku berencana akan melaunching brand itu secara resmi di Heren dan menjadikan Divan brand ambassadornya," rencana Dira.


"Lalu bagaimana dengan cita-cita kamu? Menyanyi?" tanya Bia. Ia masih berpikir Dira mengesampingkan cita-citanya lagi.


"Tentu saja aku pikirkan itu. Acara launching brand pakaian, aku akan jadikan konser perpisahan. Dan aku sudah tahu bagaimana caranya membuat cita-citaku jadi nyata tanpa jadi penyanyi."


"Bagaimana caranya?" Bia penasaran dengan keputusan Dira.


"Aku mau punya channel YT sendiri khusus untuk menyanyi juga cover lagu. Kamu tahu aku punya saham di labelku yang dulu? Rencananya, aku juga ingin membuat label musikku sendiri." Dira menatap langit saat mengucapkannya seakan tahu itu adalah jalan terbaik yang bisa ia ambil.


"Label pakaian, jadi direktur perusahaan, lalu punya label sendiri. Makin sibuk, istrinya makin jarang dibelai," protes Bia.


Ucapan lucu yang membuat Dira tertawa terbahak-bahak. Ia angkat tubuh Bia dengan kedua lengannya ala pengantin baru. "Dira, apaan sih ... turunin, donk!"


"Salah siapa nemenin Diandre sama Divan tidur terus, sekarang aku juga mau ditemenin tidur. Malam ini saja," ucap Dira mesra sambil mengecup kening Bia. Dira menggendong Bia menuju kamar resort yang pintunya berhadapan dengan pantai. Selamat malam untuk kalian berdua.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2