
"Bu, biar Bia bantu," tawar Bia. Pagi menjelang dan ia sudah turun ke dapur. Bu Suli sendiri tadinya sudah siap memasak. Kaget, Bu Suli berbalik menemukan Bia berjalan mendekati dari pintu masuk.
"Bisa, Bi?" tanya Bu Suli. Akibat masa remaja tidak bisa masak, sekarang Bia kurang dipercayai masalah seperti ini. Bia mengangguk. "Bantu potongin saja, ya?"
Keduanya memulai ritual paling sulit di pagi hari, membuat sarapan. Bu Suli selalu menyediakan roti buatan sendiri juga sup krimnya.
"Katanya belum yakin mau nikah, tapi sudah siap segala," ledek Sayu yang baru datang. Tawa terdengar dari mulut Bu Suli sementara Bia mengerucutkan bibir.
"Divannya masih tidur, Bi?" tanya Ana. Bia mengangguk. Semalam Dira tidur di sofa. Namun, ketika Bia bangun, ia kaget melihat Dira sudah tidur di samping Divan. Pria itu memang sulit dipercaya.
"Gimana gak tidur pulas, orang sambil dipeluk papanya. Papanya juga paling susah dibangunin," omel Bia.
Sayu tertawa. "Yang sabar, nanti tiap hari yang bangunin Dira itu kamu!" ledeknya. Tangan Sayu menyenggol sikut Bia. Jelas apa yang ia katakan membuat wajah Bia jadi merona.
Wangi makanan mengundang para pria ke meja makan. Bia kaget melihat Divan sudah mandi dan berganti pakaian. "Divan kamu mandiin?" tanya Bia yang langsung dijawab anggukan dari Dira.
Tak seperti biasanya, meja di dapur rumah Bu Suli penuh. Hari-hari biasa hanya ada ia dan Analis. Bu Suli sudah delapan tahun bercerai dengan suaminya lantaran selingkuh dengan wanita lain. Ia bisa hidup dari gajinya selama menjadi guru di SMA tempat dulu Bia menimba ilmu.
"Kamu jadi memberi tahu orangtuamu hari ini?" tanya Bu Suli menagih janji Dira.
Dira menggeleng dan sempat membuat Bu Suli terlihat kecewa. "Papah bilang baru besok datang ke Emertown. Aku juga gak mungkin bawa Bia dan Divan ke Heren. Keadaannya sedang tidak baik," jelasnya dan membuat Bu Suli mengerti.
Berita putusnya Dira dan Cloe memang menjadi bulan-bulanan media. Mereka mulai mencari sumber dari teman terdekat hingga nekat mengikuti Dira. Syukurnya ketika pulang ke Emertown, Matteo berhasil mengelabui paparazi untuk mengikutinya. Ampuh, Dira bisa kabur dengan mudah.
__ADS_1
"Kan janji ke Divan," anak kecil yang sedang Bia suapi tiba-tiba mengeluarkan suara. Orang-orang yang berada di dapur langsung menatap dengan gemas.
"Janji apa?" tanya Bia.
Sendok di tangan Dira simpan di atas piring. "Aku bilang kalau hari ini dia tidak jadi ketemu Kakeknya, aku mau bawa dia ke kebun binatang."
Kelvin menggeleng. "Jangan dulu keluar, Dir. Kalau sampai Bia ketahuan publik bisa bahaya. Sementara kalian sembunyi saja dulu."
Yang dinasehati malah tidak mengindahkan. "Sudah kesekian kali aku menyelinap pergi tanpa ketahuan. Apalagi bawa anak kecil. Mana ada yang sadar itu aku."
Ezra menepuk pundak Kelvin sambil tertawa. "Kau ini, kapan bisa menasehati sepupu kita ini? Mana mempan!" ledeknya.
"Divan ulang tahunya pas tahun baru ya?" tanya Ana sambil melihat ke arah Divan.
Anak itu menggeleng. "Satu Januali," jawabnya polos. Jelas itu mengundang tawa. "Divan ulang tayun ada teperewet," tambahnya. Kali ini sukses membuat orang di sana bingung.
"Anak siapa yang lucu sekali ini?" tanyanya.
Divan tertawa. "Anak Papa Pololo," jawabnya. Dibanding ingat nama papahnya adalah Dira, ia lebih ingat kata Pororo.
Jelas tawa langsung membahana meski wajah Dira terlihat jelas kecewanya. Ia masih ingat pinguin mungil berwarna biru dan berkacamata itu. Sungguh tidak sesuai dengan dirinya. "Pas banget, Divan anak Papa Pororo dan Mama Beruang." Tak terima, Dira balas dengan mengejek Bia hingga mendapat cubitan di pinggang.
Tawa terdengar di ruang makan dengan luas enam kali enam meter itu. Meja tempat mereka makan terbuat dari kayu jati yang diberi cat putih dan taplak berpola bunga. Di samping kanan ada kabinet tempat memasak juga mencuci piring. Di sebelah kiri ada pintu geser menuju halaman yang memiliki kolam ikan.
__ADS_1
"Kamu yakin gak akan apa-apa?" Bia masih ragu. Ia belum siap mendapat hujatan netizen. Belum lagi banyak diantara mereka komentarnya sepedas cabe satu ember.
Dira menggeleng. "Kan ada aku," jawabnya pendek.
"Justru karena ada kamu, ujung-ujungnya kacau. Kamu itukan kalau apa-apa yang jalan duluan nafsu, baru mikir." Ezra menoyor jidat Dira. Meski sudah sama-sama punya anak, mereka masih sempat main pukul-pukulan.
Divan turun dari kursi makan. "Ke mana, Van? Makanya belum habis. Kan kalau makan sebaiknya duduk," nasehat Bia.
Divan manyun. "Kacian, Mah. Ikanya dak makan. Divan dak boleh pelit," celotehnya sambil menunjuk kolam ikan.
Dira mencubit pipinya. "Bilang saja kamu mau makan sambil liat ikan. Gak perlu modus," ledek Dira.
Divan menggaruk kepala. Kemudian mengedipkan sebelah mata dan menyimpan telunjuk di depan bibir. "Jangan bilang mamah, ya?" bisiknya berpikir jika ia berbisik begitu, Bia tidak akan mendengar.
"Duh, Divan bilang apa, sih? Kok mamah penasaran?" tanya Bia pura-pura tak tahu.
Divan melirik ke arah Bia lalu mengangkat bahu. "Mamah dangan kepo," ledeknya. Lagi-lagi celotehan anak itu mengundang tawa.
🍁🍁🍁
Sampai jumpa jam 12
novelku di wp tamat 🎉🎉
__ADS_1
judulnya : My Rainy Season
cuman 50 chapter kok. Dasarnya aku nulis novel jarang panjang-panjang. ADA saja yang panjangnya ngalahin sungai Nil.