
"Emh ..." Lily mencengkeram kuat lengan Aric, suaminya itu hanya bisa meringis merasakan kuku-kuku Lily menancap di lengannya.
Lily terbaring di ranjang khusus untuk pasien melahirkan. Aric dengan setia mendampingi sang istri, jas tuxedonya sudah terlepas. Kemeja putih yang ia kenakan, sudah kusut karena terus di remas dan di tarik oleh Lily.
Sejak masuk rumah sakit pukul setengah sepuluh tadi, kontraksi Lily semakin terasa. Dua jam setelahnya, pembukaan satu di mulai. Setelah menunggu 7 jam akhirnya pembukaan lengkap. Selama itu pula Aric menemani sang istri dengan sabar, melihat Lily yang begitu kesakitan sebenarnya Aric merasa tidak tega. Jika bisa, ingin rasanya ia memindahkan seluruh rasa sakit itu padanya.
Payah dan lelah, itu yang Lily rasakan setelah dua kali mengejan. Matanya terasa amat berat, tapi dia juga tidak bisa berhenti sekarang.
"Ambil nafas, dorong sekali lagi Nyonya!"
Lily mengikuti instruksi dokter itu, ia mengambil nafas dalam dan sekali lagi mengejan. Meskipun tenaga Lily sudah terkuras habis, ia tetap berusaha.
"Eggh ....!"
"Sekali lagi Nyonya, Anda tepat berhenti di matanya!"
Mendengar ucapan dokter itu, Lily langsung sigap. Seolah mendapat tenaga ekstra. Ia segera mengambil nafas dalam, lalu mengejar sekali lagi. Aric pun terkejut mendengar penuturan dokter, ingin rasanya ia melihat bagaimana bawah sang istri. Namun, ia merasa takut. Melihat wajah istrinya yang penuh peluh dan pucat seperti ini saja sudah membuatnya ngeri, bagaimana ia bisa melihat jalan lahir yang penuh darah.
Ini sangat berbeda dengan saat ia melihat darah musuhnya, jika saat menebas tubuh musuh ia tidak mengenal ampun. Bahkan darah yang mengalir dari bagian tubuh musuh yang terpotong merupakan kesenangan bagi Aric, tetapi melihat Lily seperti ini. Entahlah, ia tidak bisa menjabarkan apa yang dia rasakan.
"Sudah Nyonya, sekarang Anda bisa sedikit rileks," ucap dokter paruh baya itu.
Ia merasa pasien sudah tidak sanggup lagi untuk lanjut mengejan. Posisi bayi yang sudah aman, membuat dia memutuskan untuk membantu mengeluarkan sang bayi.
Lily mulai mengatur nafas, Aric mengusap lembut wajah istrinya yang bercucuran keringat dengan lembut. Sebuah kecupan manis ia berikan di kening Lily.
"Kami akan membantu bayinya keluar," ucap sang dokter, Lily hanya mengangguk lemah.
Setelah dokter mengatakan itu, Lily bisa merasakan si bayi digerakkan sebelum do tari dengan perlahan. Dokter mengeluarkan bayi dengan dua kali menariknya, setelah benar-benar keluar bayi merah yang masih belepotan dengan darah dan air ketuban itu di telungkupkan di dada sang Ibu.
"Selamat Tuan, Nyonya anak Anda sangat sehat," sang dokter setelah meletakkan sang bayi.
Bayi itu menangis dengan kencang, matanya tampak sedikit bengkak. Mungkin karena Lily sempat berhenti mengejan tadi.
Rasa haru menyeruak dalam melihat malaikat kecil itu, Aric memalingkan wajahnya mengusap sudut mata yang mulai mengembun.
Seperti ini rasanya menjadi seorang ayah, untuk pertama kalinya ia melihat sendiri bagaimana proses malaikat kecil itu lahir ke dunia, bagaimana Lily berjuang antara hidup dan mati.
Dokter kemudian mengambil si bayi untuk dibersihkan, setelah selesai memotong tali pusarnya. Lily menengok ke arah sang suami yang masih memalingkan wajahnya.
"Kenapa? Aku tidak cantik ya seperti ini?" tanya Lily menggoda.
Aric tidak menjawab, ia langsung berbalik dan memeluk erat sang Lily.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku yang tidak ada di sampingmu saat Adam lahir," tutur Aric dengan suara serak tertahan.
Lily tersenyum, ia bisa merasakan tetesan air merembes di bahunya. Ya, laki-laki itu menangis. Ia merasa sangat bersalah karena tidak menemukan Lily lebih awal. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana wanita itu melahirkan sendirian, Lily wanita terkuat yang pernah ia kenal.
"Sudah, aku tidak apa-apa, yang penting kita bersama sekarang. Dan berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan ku, ok."
Aric melonggarkan pelukannya, ia sedikit menarik tubuhnya agar bisa menatap wajah teduh permaisuri hatinya.
"Aku bersumpah, akan selalu ada untukmu." Aric menghujani wajah Lily dengan kecupan.
"Terima kasih, sudah memberikan aku dua malaikat. Aku akan selalu menjaga kalian dengan segenap nyawaku."
Lily memejamkan mata, saat Adam kembali memberi ciuman hangat di kening.
.
.
.
.
.
.
Bayi mungil itu sudah mengecap bibirnya, pertanda dia sangat lapar. Lily membuka tiga kancing baju yang ia pakai, agar bisa mengeluarkan buah da*a. Perlahan Lily mendekatkan ujung putingnya pada mulut bayi.
Hap
Bayi gembul itu langsung melahap dan menyesap ujung ****** Bundanya dengan kuat, Lily sampai meringis dibuatnya.
"Apakah sakit, Sayang?" tanya Aric. Ia melihat istrinya meringis menahan sakit.
"Ya memang seperti ini rasanya saat pertama kali menyusui, sama seperti dulu. Tapi lama-lama juga tidak," jawab Lily menjelaskan.
Aric tersenyum, ia sadar betapa besar pengorbanan seorang istri untuk membesarkan anak-anaknya. Dalam hati Aric berjanji, dia tidak akan pernah menyakiti Lily, ataupun membuatnya bersedih.
Aric menyuapkan apel yang baru ia kupas pada Lily.
"Di mana Adam?" tanya Lily.
"Marquis sedang menyusulnya, sebentar lagi mereka juga sampai."
__ADS_1
"Anak ayah imut banget, gemes. Cepat besar ya, nanti ayah buatkan adik untukmu," ujar Aric sambil menusuk-nusuk pipi gembul bayi yang sedang menyusu itu.
Lily mendelik tajam pada Aric.
"Aku melahirkan belum ada 24 jam, dan kau membuat adik untuknya!"
"Hehehe ... kan biar rame, Sayang." Aric segera memeluk istrinya agar tidak marah.
"Ok, aku nggak keberatan hamil lagi, asal kamu yang ngeluarin bayi," ujar Lily ketus.
"Emang bisa?" tanya Aric dengan kerutan di kening.
"Pikir aja sendiri!"
Di saat perdebatan mereka, pintu dibuka dengan keras.
"Bunda ... Ayah!" panggil Adam penuh semangat, ia berlari menyongsong sang ayah.
Adam begitu bersemangat saat mendengar adiknya telah lahir ke dunia. Ia segera melompat naik ke pangkuan Aric.
"Mana adik? dia perempuan kan? Adikku pasti sangat cantik kan?" tanyanya sambil menengok pada bayi yang ada dalam dekapan sang bunda.
"Emh ... itu, adik kamu laki-laki Sayang," jawab Lily.
Senyum yang tadinya terukir di bibir Adam, seketika berubah menjadi masam. Dengan malas Adam turun dari pangkuan Aric, kemudian berjalan ke pojok ruangan.
Lily dan Adan saling berpandangan sesaat, saling memberikan kode agar menenangkan Adam. Aric pun memutuskan untuk bicara pada sang Aric yang sedang berjongkok di pojokan.
"Hai, kenapa?" Aric ikut berjongkok di sisi Adam.
"Kenapa Adik laki-laki? aku kan mau adik perempuan," jawab Adam sendu, Aric menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Emh ... Masalah seperti ini, Ayah dan Bunda juga tidak bisa menentukannya, Sayang. Tapi Ayah janji setelah ini, Ayah akan berusaha keras untuk memberikan adik perempuan untukmu."
Adam menoleh, ia menatap wajah Aric dengan serius.
"Ayah janji?"
"Ayah janji, Kalau perlu ayah akan membuatkan 2 adik perempuan sekaligus tahun depan."
Mata Adam seketika berbinar, ia kemudian menyodorkan kelingkingnya pada Aric.
"Adam akan mengingat janji Ayah."
__ADS_1
Aric mengaitkan kelingkingnya dengan penuh percaya diri.
"Ayah akan berusaha menepatinya, tapi Adam harus sayang sama Adik, ok." Adam mengangguk paham.