
🍁🍁🍁
"Ini nih, kalau punya suami ganteng itu buat memperbaiki keturunan. Punya suami kaya supaya bisa memperbaiki penampilan. Buktinya Bia, suaminya ganteng plus kaya. Anaknya glowing, wajah buluknya ikutan glowing juga," komentar Melvi.
Ia baru bisa menjenguk Bia setelah terlalu lama bekerja di toko roti akibat pegawai baru mengundurkan diri. Katanya wanita itu akan menikah dan ingin fokus mempersiapkan pernikahan.
"Jared juga ganteng. Siapa tahu bisa memperbaiki keturunan," komentar Bia. Melvi terkekeh. Pipinya merona. Tangan Melvi mengusap lembut pipi Diandre dalam gendongannya. "Kapan rencana kamu dan Jared menikah?" tanya Bia.
Melvi berpikir sejenak. "Kau tahu aku harus mengurus ibuku. Jared tak masalah jika ibuku tinggal dengan kami. Hanya saja menabung untuk biaya pernikahan lumayan sulit," curhatnya.
Bia tahu bagaimana keadaan ekonomi Melvi. Hampir seluruh gajinya habis untuk kebutuhan harian dan biaya rumah sakit ibunya. Dia memang anak yang berbakti. Sejak dulu ia menghindari pria karena tahu tidak bisa menyisikan uang untuk biaya menikah.
Bia menepuk pelan bahu Melvi. "Aku ada simpanan uang. Kau bisa menggunakannya. Tadinya memang untuk sekolah Divan. Hanya karena ada Dira yang menanggung, kupikir aku tak membutuhkannya."
Melvi tertegun. Matanya menatap lurus pada Bia dengan wajah penuh dengan kekaguman. Tak lama Melvi menggeleng. "Aku tak enak pada suamimu. Kalau dia tidak mengizinkan nanti kau yang mendapat masalah."
__ADS_1
"Kamu seperti tak tahu Dira saja. Dia orang yang baik. Kalau aku bilang, aku yakin dia malah akan menolongmu. Jika memang Jared tak keberatan dengan adanya ibumu, aku akan mendukung kalian menikah. Jangan biarkan hubungan kalian berlarut-larut. Bukannya sudah beberapa bulan ini kalian pacaran?"
Melvi mengangguk. Mungkin memang ia harus menerima pertolongan Bia. "Aku akan mengembalikannya dengan cara menyicil."
Bia menggeleng. "Ayolah, aku ini sahabatmu, 'kan? Kalau kamu menganggap begitu, sebaiknya tak usah dikembalikan."
Melvi mengangguk meski ia masih merasa malu karena menerima kebaikan Bia. Tak lama ia ingat belum menanyakan satu hal. "Bagaimana keadaan suamimu? Aku belum melihatnya."
Bia menyandarkan bahunya di sofa. "Aku pikir dia baik karena memang fisiknya baik. Ia selalu bekerja dengan rajin dan mengasuh anak-anak. Hanya saja, Dira selalu terjebak dengan keadaan yang sama," ungkap Bia.
Melvi mengerutkan dahi. Ruangan saat itu tidak cukup hening karena terdengar suara benturan balok-balok mainan Divan. Anak itu katanya sedang membangun stasiun kereta api. Segala balok ia rangkai menjadi rel juga terowongan sesuai imajinasinya.
Bia manyun. Kenapa Diranya selalu identik dengan perselingkuhan? "Bukan itu, aku tahu dia sayang padaku juga anak-anak. Justru itu membuatnya selalu merasa bersalah. Terutama tentang membiarkanku dengan Divan hidup sendiri. Itu menyiksa batinnya dan aku baru sadar sekarang jika semuanya sudah terlalu sulit untuknya."
"Sulit bagaimana? Dia mengeluh?" tebak Melvi lagi.
__ADS_1
Bia menggeleng. "Aku akan bersyukur jika dia mengeluh. Hanya saja dia tak pernah begitu. Ia menyembunyikan kesulitannya sendiri. Sejak dulu sering begitu. Mungkin dia tak sadar, tapi aku selalu tahu. Dan semua itu menyiksaku, Melvi."
"Seperti apa contohnya?"
Bia mengawang. Dia tengok foto pernikahan Dira dan dirinya. "Ia lelah bekerja sampai malam kadang. Begitu pulang, ia tak pernah membangunkanku. Kadang aku temukan ia bergadang menjaga Diandre dan Divan. Aku tahu dia pasti lelah, tapi tak pernah bilang lelah. Aku takut dia sakit," jelas Bia.
Bagian paling jelas untuk Bia adalah masalah semalam. Dira bahkan terlihat ragu memetik gitar dan menyanyi. Bia baru sadar, Dira tak pernah main musik lagi. Piano di ruangan kerjanya hampir berdebu, juga gitar akustik yang sering ia mainkan dulu. Jika Divan bernyanyi, biasanya Dira sering ikut mengiringi. Kini, suaminya hanya tertawa sambil melihat Divan.
"Dia kehilangan jiwanya. Aku tahu Dira dan musik tak bisa dipisahkan. Sejak kecil ia sudah senang menyanyi dan main musik. Aku sedih, Melvi. Karena menghilangkan bagian itu akibat rasa bersalahnya padaku. Bahkan selama aku hamil, ia mengalami kehamilan simpatik sampai aku melahirkan. Harusnya gejala itu hilang di usia kehamilan keempat, tapi terus saja dia mengalaminya. Aku bingung bagaimana cara menghapus kesulitannya."
Bia tanpa sadar berkaca-kaca. Seorang istri tidak hanya tersakiti akan hadirnya wanita lain. Rasa sakit bisa hadir ketika dirinya tak merasa lagi menjadi teman berbagi suaminya. Bia sakit karena ia tahu Dira sedih dan pria itu lebih senang menyembunyikan masalah darinya.
"Coba kamu bicara berdua dengannya. Dari hati ke hati," saran Melvi.
Bia mengangguk. Ia akan mencoba cara itu. Dira lebih terbuka ketika mereka berduaan. Hanya saja waktu untuk bisa melakukannya. Ada Diandredan Divan yang selalu menyita perhatian mereka.
__ADS_1
"Aku tahu, dia selalu begitu. Ia selalu berusaha membahagiakan orang lain. Dia tak mau mengecewakan siapa pun. Ia hanya mengubur keinginannya. Dia pernah bilang padaku, satu kalinya ia egois dan mengejar keinginannya, ia malah kehilanganku dan Divan. Itu membuatnya trauma."
🍁🍁🍁