
"Pak, kami mohon jangan usir kami dari sini," ujar Ana mengiba, dia bersimpuh memegangi kaki dua petugas Bank yang datang untuk menyita rumah.
Petugas itu bergeming, dia tidak perduli pada wanita yang terus menangis meratapi nasibnya itu
"Sudah Bu, rumah ini memang bukan punya kita lagi." Guntur menyentuh bahu Ana, hendak membantu istrinya untuk berdiri.
Ana segera menepis kasar tangan Guntur. Ia menatap laki-laki itu dengan nyalang.
"Ini semua gara-gara kamu! Kamu tidak becus mengurus perusahaan, laki-laki tidak berguna!" teriakannya marah.
Plak.
Guntur melayangkan sebuah tamparan di pipi Ana, ia sudah tidak tahan dengan wanita itu. Ana selalu saja merendahkan dan mencemoohnya.
Ana memegangi pipinya yang memerah, ia tidak menyangka Guntur berani menamparnya.
"Kalau bukan karena gaya hidup kamu yang glamor itu, kita tidak akan seperti ini. Aku sudah bilang, perusahaan kita dalam masalah tapi kau terus menghamburkan uang untuk berkumpul dengan teman-temanmu.
Kau sama sekali tidak perduli krisis yang di alami perusahaan, siapa yang tidak becus kau atau aku. Aku berjuang untuk menyelamatkan Peru, tapi kau malah menggerogotinya tanpa rasa bersalah!"
Ana terdiam, lidahnya terasa Kelu untuk bicara. Baru kali ini Guntur bicara dengan tinggi seperti itu, sejak mereka menikah Guntur selalu mengalah. Tetapi hari ini laki-laki itu terlihat berbeda.
"Silakan bertengkar di sana, jangan memganggu perkerjaan kami," ujar salah seorang petugas Bank.
Pria itu kemudian mengisyaratkan pada dua orang petugas kemanan, untuk membawa kedua orang itu menyingkir dari hadapannya.
"Tidak jangan ambil rumahku! Lepaskan! lepaskan!" ana berteriak, meronta saat di dua orang petugas menyeretnya dengan paksa.
Sementara Guntur, pria itu menurut dengan raut wajah sendu. Ia hanya bisa melihat kehancuran Wiguna di hadapannya sekarang.
"Pak, saya mohon izin untuk mengambil barang-barang pribadi saya," pinta Guntur pada petugas.
Pria berwajah dingin itu berpikir sejenak, ia kemudian mengangguk setuju.
"Silakan, tapi dia akan menemani Andan masuk."
"Baik, terima kasih."
Guntur pun masuk ke rumah, ia pergi ke kamar mengemasi pakaian dan beberapa barang berharga. Tak lupa ia juga mengemas milik istri dan anaknya, Ana tidak diizinkan masuk karena wanita itu tidak bersikap kooperatif.
Cukup lama Guntur berkemas, setelah selesai ia pun keluar dengan membawa tiga koper besar.
__ADS_1
"Lho ada apa ini? Ayah, ada Apa?" tanya Cindy yang baru saja pulang hang out bersama teman dan tunangannya, Dion.
Ia terkejut melihat sang ibu yang sedang menangis, dan kedua tangannya di pegang oleh pria berseragam. Guntur, Ayahnya membawa tiga koper besar keluar dari rumah.
"Cindy, rumah kita disita. Dion, cepat bantu kami. Telepon papa kamu sekarang, dia pasti bisa bantu!" teriak Ana.
Dion yang baru saja turun dari mobil, hanya berdiri mematung. Tak ada niat sama sekali untuk menyahuti ucapan calon mertuanya itu.
"Ini nggak bener, nggak! nggak mungkin." Cindy berlari kearah sang Ayah yang sedang berbincang dengan petugas Bank.
"Yah, ini ... bohong kan, ini masih rumah kita kan?" tanya Cindy, ia mengguncang tubuh laki-laki yang sudah membesarkannya itu.
"Cin, kamu harus menerimanya. Kita akan pindah. Ayah sudah menghubungi teman Ayah, untuk sementara kita akan tinggal di kontrakan miliknya!" jawab Guntur tegas.
"Nggak! aku nggak mau, aku nggak mau jadi miskin!" Cindy melepaskan tangannya dari tubuh Guntur.
Dia kembali pada Dion yang sedari tadi hanya diam, memperhatikan. Cindy memeluk tubuh Dion.
"Sayang, aku tinggal di rumah kamu ya. Please, aku nggak mau tinggal sama Ayah lagi," rengek Cindy dengan manja.
Tanpa Cindy duga, Dion mendorong tubuh Cindy menjauh. Cindy menatap bingung wajah tunangannya.
"Kenapa Mas?"
Cindy mengerutkan keningnya, bukankah beberapa waktu lalu, Dion bilang hari ini dia tidak ada perkerjaan. Kenapa tiba-tiba bilang ada rapat?
Dengan tergopoh-gopoh Dion masuk ke mobil, dia segera tancap gas meninggalkan pekarangan rumah Wiguna.
"Dion ...! Sayang .... Dasar brengsek! Bajingan!" umpat Cindy, wanita itu berusaha berlari mengejar mobil Dion yang menjauh.
.
.
.
Cindy membawanya sendiri, mengekor di belakang mobil Ana dan Guntur. Mereka menuju sebuah rumah kecil yang ada di pinggiran kota.
Setelah empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Kedua mobil itu berhenti di pekarangan yang masih tanah, rumah itu sebenarnya cukup besar untuk di tempati tiga orang. Hanya memang bangunannya sedikit kuno, tidak seperti rumah di kota. Mereka pun turun dari mobil masing-masing.
"Aku nggak mau tinggal di sini," ucap Cindy, melihat rumah itu dengan tidak suka.
__ADS_1
Cindy tidak bisa membayangkan tinggal di rumah seperti itu, dia tidak bisa.
"Yah, apa nggak bisa tinggal di apartemen gitu, atau rumah yang lain. Masa di rumah kuno kayak gini sih," keluh Ana.
"Masih untung teman Ayah mau menampung kita, kita di perbolehkan tinggal di sini gratis. Kalian jangan mengeluh lagi, kita harus menekan pengeluaran mulai sekarang! Perusahaan sudah bangkrut, semua aset sudah disita Bank untuk menutup hutang, jangan foya-foya lagi!" tegas Guntur.
Cindy mencebikan bibirnya kesal, mana bisa ia hidup seperti ini. Tidak, Cindy harus pergi. Dia tidak ingin hidup melarat bersama Ayah dan Ibunya.
"Cindy mau nginep di rumah Alya, Nggak mau di sini. Kotor!" pekiknya lalu melenggang pergi.
Guntur hanya bisa menghela nafasnya, inilah kesalahan terbesar Guntur. Dia terlalu memanjakan Cindy, tidak seperti Lily, anak angkatnya itu begitu mandiri dan pengertian.
"Tuh, Ayah lihat Cindy aja nggak mau tinggal dirumah ini. Ini semua gara-gara Ayah, kita harus hidup seperti ini!" Ana melipat kedua tangannya.
"Sekarang terserah kamu Bu, mau tinggal atau tidak terserah!"
Guntur melangkah melewati istrinya, dia masuk ke rumah itu setelah membuka pintu. Di perjalanan tadi dia mampir kerumah temannya untuk mengambil kunci rumah yang akan dia tempati ini.
Ana menghentakkan kakinya, mau tidak mau terpaksa dia mengikuti langkah Guntur untuk masuk.
Debu tebal berhambur menyambut mereka. Guntur dan Ana melihat sekeliling, lemari, meja, kursi, semua masih tetap rapi. Di tutup dengan lembaran plastik besar yang berdebu.
"Kita suruh beberapa orang bersih-bersih, kamu masak makanan untuk makan malam kita nanti. Aku akan bantu membereskan dapur," ujar Guntur.
"Apa? Aku masak?"
"Iya, siapa lagi," jawab Guntur.
"Selain itu kamu harus nyuci, ngepel bersih-bersih rumah. Kamu bukan lagi Nyonya besar, aku juga harus segera mencari kerja untuk menyambung hidup kita."
Ana menggeleng tidak percaya, sekalipun dia belum pernah melakukan hal-hal yang di katakan Guntur, selama ini dia selalu dilayani. Kenapa? kenapa di masa sekarang dia harus melakukan tugas babu seperti ini.
Apakah ini karma? dulu dia selalu memanfaatkan Lily, gadis yatim piatu yang ia adopsi dari panti asuhan. Tetapi tidak salahkan, dia hanya minta Lily untuk mengerjakan perkerjaan rumah tangga, sebagai ganti apa yang dia lakukan untuk Lily. Merawat seorang anak butuh biaya yang tidak sedikit, apa salahnya membuat gadis itu berkerja sedikit di rumahnya.
.
.
..
Jangan lupa mampir ya gaes 🥰🥰🥰
__ADS_1