
"Ini coba, Mah!" seru Divan sambil mengasongkan es krim di tangannya. Bia mencoba es krim dingin dengan rasa segar dari mint. Ia bergidik. Sejak dulu rasa favorit Bia tetap saja coklat. "Enak, ya?" tanya Divan. Bia menggeleng.
"Dasal mamah, dak bisa kasih tahu!" protes Divan.
Mata Bia mendelik akibat tak setuju dengan cara putranya memaksakan kehendak. Keluarga kecil itu sedang menjadi pusat perhatian publik, tapi Dira tak kapok. Ia tetap membawa Bia dan Divan main ke taman hiburan. Sikapnya masih santai karena ada sepuluh bodyguard yang menjaga.
"Tinggal bilang enak saja apa susahnya, sih?" Dira ikut demo akibat tak ingin melihat Divan kecewa.
"Lebih baik berkata jujur, meski itu menyakitkan."
Bianglala raksasa dengan cat pinknya berputar pelan. Ketika malam mulia gelap, lampu-lampu di rangka besinya menyala dan membuat pemandangan yang indah.
Di kursi taman coklat yang berukuran panjang dua meter, ketiganya duduk menikmati suasana ramai. Divan menarik tali bahu celana over allnya. Hari ini mereka sedang memakai baju couple. Sama-sama mengenakan celana over all jeans panjang dan kaos. Hanya saja jika kaos Divan dan Dira biru, punya Bia berwarna msrah muda.
Lengan Dira membetulkan bando pita yang Bia kenakan. Bando itu sempat turun dan Bia tak menyadarinya. Syukur ia punya suami perfectsionist yang siap merapikan segalanya.
"Beli balon cama kaos, ya?" pinta Divan sambil menunjuk tukang balon dan kaos di depan sana. Dira mengangguk. Terlihat wajah senang Divan melihatnya.
"Sebelum itu, mamah katanya ingin naik kincir raksasa," ucap Dira.
Bia menarik lengan kaos Dira. "Enak saja. Aku gak main permainan anak-anak begitu. Kita naik roller coaster saja."
"Inget ada Divan, Mah. Masa Divan diajak main begituan."
Bia menepuk jidat. "Iya, maaf aku lupa." Kalau sedang jalan-jalan dengan Dira begini, dia selalu lupa jika Divan ada. Maklum, sejak TK kalau jalan-jalam dan main pasti berdua. Saat itu 'kan Divan masih proses produksi.
Dira ikut ke arah mana Divan menunjuk. Sambil berjalan, Bia mengecek ponselnya seperti biasa. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Livetown setelah mereka meninggalkan Heren. Nyatanya, dua hari berlalu dan semua belum membaik juga.
Siapa yang menunggu Dira Kenan bunuh diri?-
Kalau Dira Kenan mati, dunia ini akan indah-
Bunuh diri saja Dira, daripada kau mempermalukan keluargamu-
__ADS_1
Bia tertegun. Kenapa begitu jahat orang-orang ini pada suaminya. Bagaimana bisa mereka menyuruh seseorang mati? Apa Dira melakukan korupsi hingga banyak orang kelaparan? Apa Dira itu membunuh orang tanpa alasan?
Dari ujung mata Bia mengalirkan air mata. Meski berapa kali menarik udara, tetap terasa sesak baginya. Bia melihat ke arah depan, ia tatap punggung Dira yang berjalan semakin menjauh sambil menggendong Divan.
"Kalau kamu mati karena komenan ini, aku bagaimana? Baru juga aku punya suami, Divan punya ayah," ucapnya lirih sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Kali ini Bia berlari, menghampiri suaminya dan memeluk tubuh gagah itu dari belakang. Sempat kaget, Dira menoleh ke belakang. "Kenapa?" tanyanya kaget, merasakan cairan hangat menembus hingga menyentuh punggungnya. "Kamu nangis?"
Dira menurunkan Divan. Ia membalikan tubuh dan melihat istrinya. "Kenapa? Cloena macam-macam lagi?"
"Jangan mati, ya? Jangan tinggalin aku dan Divan lagi. Aku gak mau sendirian lagi," mohon Bia. Air matanya masih terus mengalir.
Dira tersenyum. Ia melirik ponsel di tangan Bia. Sekilas ia sudah bisa menebak alasan istrinya menangis. "Dengar, aku ini laki-laki. Kalau kamu saja kuat dihina tetangga, kenapa aku tidak?"
"Tapi mereka gak nyuruh aku mati." Bia memegang lengan Dira.
"Memang kalau mereka suruh aku harus ikuti? Mereka siapa? Aku saja gak kenal."
Mendengar itu, Bia langsung melirik tajam ke arah Divan. "Enak saja. Kamu itu kalau ngomong seenak jidat," omelnya.
Divan memeletkan lidah. "Nangis agi tiap hali. Divan bocen bilang mamah tantik. Mamah dak tantik, kok." Anak itu balas mengomel. Kali ini sudah lepas pertahanan Bia memaklumi putranya. Ia langsung meraih pipi Divan berniat mencubit gemas.
Namun, Dira lekas meraih tangan Bia dan menahannya. "Eits, gak boleh main kekerasan sama anak. Nanti dia nyontoh," nasehat Dira.
Cukup dengan keributan Bia dan Divan, mereka mengakhiri perjalanan hari itu. Mereka sempat pergi ke mall untuk memberi beberapa keperluan. Setelah itu, mampir ke rumah Mrs. Carol untuk menjemputnya.
"Divan," panggil Mrs. Carol ketika membuka pintu rumah dan melihat Divan juga Bia dan Dira di sana.
Divan mengangkat tangan dan meraih-raih minta dipeluk pengasuhnya sejak bayi itu. "Nenek, Divan kangen. Mamah dalak, tuh!" adunya.
Bia melipat tangan di depan dada. "Mulai berlebihan. Sudah, kamu jadi artis saja sana. Makin lama malah makin mirip Cloena," cerocos Bia.
"Apa, sih? Sama anak sendiri malah begitu." Dira mengusap rambut Bia.
__ADS_1
Mrs. Carol tertawa. "Tak apa, Nak Dira. Ini ibu sama anak memang dari dulu begini. Sejak Divan bisa ngomong, mereka debat terus walau gak nyambung," cerita Mrs. Carol. Dira tertawa. Ia pikir hanya sejak ada dia, istri dan anaknya berdebat terus.
"Divan, kalang kaya lho, nenek," cerita Divan. Mrs. Carol mengerutkan jidat. "Kalang Divan ada obin, umah becal, telus ada kolam lenang. Tapi mamah dak boleh telus sana dekat-dekat. Pelit, ya?"
"Heh!" protes Bia.
Mrs. Carol mengangguk saja. "Ini lho, Bu. Melvi sudah bilang, kan? Bia mau ajak ibu tinggal sama Bia. Dira sudah mau kerja dan Bia daftar kuliah. Nanti Divan gak ada teman di rumah. Bia gak percaya sama orang lain buat urusan jaga Divan. Tahu sendiri dia gimana ribetnya," jelas Bia.
"Masuk dulu. Omongin di dalam saja. Tetangga di sini masih pada ngomongin kalian," ajak Mrs. Carol.
Mereka melepas sepatu dan masuk ke dalam rumah itu. Bia melihat sekeliling ruangan. Ia rindu dengan tempatnya selama tiga tahun dulu.
"Rumahku sudah ada yang isi, Bu?" tanya Bia penasaran.
Mrs. Carol menggeleng. "Barang kamu kan masih ada di sana. Ibu juga bingung masu simpan ke mana," jawab Mrs. Carol.
Bia melirik Dira dengan tajam. "Katanya mau dipindahin sama orang kamu," sindirnya.
Dira tak bisa membela diri. "Aku lupa, lho. Beneran."
Divan tertawa sambil naik kuda-kudaannya yang tertinggal di rumah Mrs. Carol. "Papah kena omel, kacian!"
Giliran Dira yang melirik putranya degan tajam. "Divan," panggil Dira.
Divan menunduk. "Maaf, deh," ucap anak itu.
Bia tertegun sampai membuka mulutnya lebar-lebar. "Tuh, kalau sama papah saja cepat minta maafnya," protes Bia.
🍁🍁🍁
🤧 Kemarin penuh drama seharian ADA gk up gr2 nyangkut di review sistem. sedih pasti, lah. padahal yang baca sudah nunggu-nunggu.
ouh iya, mampir juga ke karya author : highschool wife. Ini ada di NT/MT jg. cek sj profil author. makasih atas dukungan kalian karena ADA masih ada di rank 20 besar 🙏
__ADS_1