
Tak kuasa menahan malu, Bia meninggalkan toko. Ia berlari menyeberangi gang di mana rumahnya berada. Ingin ia sendiri dan merenungkan keputusan yang ia anggap salah. Mendengarkan penghinaan Cloe saja sudah sangat sakit, apalagi mendengar penghinaan dari seluruh fans Dira.
Menjadi korban bully sejak TK membuat Bia selalu takut mengambil langkah. Ia sangka pengalaman hidupnya yang berat membuat ia lebih kuat. Nyatanya, manusia kejam yang harus ia lawan lebih kuat dari sebelumnya.
Sebelum Bia keluar toko, Cloe sudah meninggalkan pinggiran jalan di depan toko bersama mobilnya. Tak lama Dira datang dari arah lain dan menghentikan mobil di samping jalan sebelum gang masuk ke rumah Bia sehingga Cloe tak melihat kedatangan pria itu.
Begitu juga Dira. Ia tak melihat kepergian Cloe, tapi melihat Bia yang menyeberang sambil berlari. Lekas Dira mematikan mobilnya lalu keluar dan mengunci mobil itu. Ia menyusul Bia dengan langkah yang cepat.
Syukur di tengah jalan sebelum sampai di rumah susun milik Mrs. Carol, Dira berhasil menyusul Bia. Ia raih tangan wanita itu lalu membawanya dalam pelukan. Dira kaget melihat mata Bia yang basah karena menangis.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Dira dengan nada khawatir. Bia masih sesegukan. Ia tutup matanya dengan salah satu punggung tangan. "Jawab Bia, kenapa?" tekan Dira.
Bia menggeleng. Justru itu membuat Dira jadi kesal. Ia pegang bahu Bia dan menatapnya tajam. "Bilang Bia! Kamu itu kenapa selalu begini? Kalau ada masalah selalu disimpan sendiri. Kamu tahu itu gak cuman nyakitin kamu, tapi juga orang lain yang peduli sama kamu?"
Mendengar suara bentakkan Dira, membuat Bia terdiam kaget. Ia masih terisak-isak tapi matanya menatap kosong ke arah Dira. "Kenapa? Bilang?" tekan Dira lagi. Kali ini nada suaranya sedikit lebih lembut.
"Cloena Parviz datang ke toko. Dia mengataiku," adu Bia.
Napas Dira memburu, mendengar itu saja emosinya mulai naik. "Bilang apa dia?" tanya Dira.
__ADS_1
"Dia bilang aku ja lang. Aku gak pantas buat kamu dan dia pasti bakalan rebut kamu lagi dari aku." Wajah Bia terlihat pucat dan tubuhnya gemetaran.
Dira mendengus. "Dia gak nyakitin kamu?" tanya Dira memastikan jika Cloe tidak melakukan kekerasan fisik. Tiga tahun hidup dengannya, Dira tahu jelas Cloe jika sedang kesal selalu menggunakan tangannya.
"Aku ditampar," jawab Bia. Dira melihat pipi Bia dan menemukan rona merah di salah satu pipinya.
"Dasar wanita ib lis!" umpat Dira. Kaget Bia mendengar umpatan itu dari mulut pria yang meninggalkan Bia untuk si wanita ib lis itu. "Sekarang dia di mana? Biar aku yang hadapi dia!" Emosi Dira sudah memuncak. Ia tidak terima jika Bia lagi-lagi disakiti.
Bia memegang lengan Dira. "Dia sudah pergi dari tadi," jawab Bia sambil menunduk. Gara-gara mendengar umpatan Dira, mendadak Bia jadi tidak mood lagi menangis. Ia malah ingin tertawa, tapi masih ia tahan.
Dira langsung menarik tangan Bia menuju rumah susun tempat Bia tinggal. "Pelan-pelan!"
Akhirnya mereka tiba di depan rumah Mrs. Carol. Bia mengetuk pintu, tak lama Mrs. Carol membuka pintu. Divan menyelusup dari belakang dan memeluk Bia. "Mamah puyang!" Divan mengecup pipi Bia dengan gemas.
Tanpa sengaja mata Divan menemukan Dira berdiri di belakang Bia. Kedua bola mata bulat itu berbinar. Ia langsung mengulurkan tangan pada Dira minta digendong. "Papah!" panggil Divan.
Dira tak kuasa menolak. Ia langsung raih putranya lalu ia peluk. "Cepat masuk ke rumah sebelum ada orang lihat kalian," saran Mrs. Carol. Bia mengangguk. Setelah pamitan, ketiganya langsung masuk ke dalam rumah Bia.
"Bawa tasmu, ambil pakaian untuk sekali ganti saja. Besok aku suruh orang bawa sisanya," titah Dira.
__ADS_1
Bia menggeleng. "Kenapa bisa kamu bikin keputusan secepat itu?"
Dira menurunkan Divan. Ia melipat tangan di dada. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Aku sudah bilang, kan? Cloe itu gak waras. Dia gak akan berhenti nyari kamu!" tegas Dira lagi.
Bia berkacak pinggang. "Kalau tahu gak waras, kenapa kamu pacari? Apa kamu gak itung-itungan ke depannya akan bagaimana?"
Mendengar itu Dira menggaruk belakang kepalanya. "Saat itu mana ku tahu akan begitu. Sudahlah! Yang penting sekarang keselamatan kalian berdua. Sekarang juga siap-siap ikut aku!"
Bia bingung, antara harus mengikuti Dira atau tetap bertahan. Jika ia ikuti, bagaimana akhirnya kalau Dira meninggalkannya lagi. Jika tidak, Bia akan menjadi bulan-bulanan Cloe. Dalam hitungan tiga, Bia harus mengambil keputusan.
"Cepat donk, Bi!" tegas Dira tak sabaran. Syukur Dira langsung melihat tas bayi yang dulu sering digunakan Bia membawa perlengkapan bayi.
Bia menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan. Dia ambil keputusan untuk meraih tasnya dan mengisi dengan beberapa pakaian. "Kita mau ke mana?" tanya Bia bingung.
Dira yang sedang mengemasi barang Divan menatap Bia dengan hangat. "Ke manapun, asal sama kamu," jawabnya.
πΏπΏπΏ
Maaf chapter 80 bikin kalian kecewa. π Aku kan blg aku ini cuman remahan π . Jadi itu cuman jalan buat maksa Bia keluar jalur nyaman dulu.
__ADS_1
Kalian sempat bertanya kapan hukuman untuk Dira. Mulai dari sini dan ke depannya, dia akan diuji. Kapan Bia ngelawan Cleo? Mulai dari sini.