
"Menurutku sudah seharusnya ia tahu," saran Maria pada Ernesto saat mereka tengah makan malam di balkon rumah.
Pasangan itu selalu romantis bahkan di usia setua ini. Dustin sudah mulai sibuk dengan dunianya. Anak itu selalu diam di dalam kamar untuk membuat konten gaming. Maria pikir tak apa, daripada yang Dustin mainkan adalah anak orang, seperti kasus Dira dengan Bia.
Ernesto menunduk. Ia simpan sendok di atas tempat makannya. "Apa mudah? Kita sudah janji akan menyimpan ini rapat-rapat. Kamu juga janji pada Angelica," tolak Ernesto.
"Pah, Bia anak yang baik. Apapun yang ia dengar, pasti akan ia terima. Awalnya aku pikir juga itu hal terbaik yang bisa kita ambil. Hanya saja memisahkan seorang ibu dengan anaknya merupakan dosa terbesar," ungkap Maria.
Ernesto tetap menggeleng. "Seorang ibu? Seorang ibu macam apa? Seorang ibu adalah orang yang menjaga anaknya siang dan malam. Mengorbankan banyak hal demi anak-anaknya. Lalu apa yang Mayen lakukan?"
"Pah, kamu tahu Bia sangat ingin memiliki kasih sayang orang tua," tegas Maria.
Ernesto menggeleng. "Kamu lihat apa yang terjadi dengan anaknya yang sekarang? Anaknya dijual pada pria hidung belang. Padahal usianya baru sembilan belas tahun. Anak itu tak merasa malu meski skandalnya diketahui publik. Ia menuruni sifat Mayen. Seorang ibu harusnya bisa menjaga kesucian putrinya. Bukan mengajari anak menjual tubuh demi kehidupan yang mewah," protes Ernesto.
Maria mengangguk. Apa yang dikatakan Ernesto benar juga. Mayen sudah gagal sebagai seorang ibu. Hanya bagaimanapun, Bia tak bisa hidup dalam kebohongan. Apalagi untuk menutupi itu banyak uang Ernesto yang ia peras.
"Kalau pun Bia tahu, Mayen hanya akan memperalat Bia. Lebih baik seumur hidup Mayen tak pernah tahu putrinya masih hidup. Biar ia terus berpikir Bia meninggal bersama Lousiano dan Angelica," tegas Ernesto.
__ADS_1
Maria mengangguk. "Sejak dulu Mayen terlalu ambisius. Itu juga yang membuat ia harus kehilangan Lousiano. Jika aku jadi dirinya, lebih baik menjaga rumah tanggaku dengan pria baik meski aku tak mencintainya, daripada mengejar pria beruang, tapi meninggalkanku sendirian saat tengah mengandung," komentar Maria.
Apa yang terjadi bertahun-tahun lalu memang menorehkan lubang besar pada takdir seorang wanita. Ernesto mengangguk. Ia usap wajahnya. "Bia gadis yang baik. Aku selalu berpikir keras kenapa kejadian saat dengan Divan menimpanya. Dia menanggung karma ibunya sendiri. Parahnya Mayen bahkan tak tahu."
Makanan di atas meja telah habis. Beberapa pelayan mengambil piring juga gelas di sana. Meja itu kini telah kosong, hanya ada lilin dan vas bunga di sana. Ernesto mengambil ponsel. IaΒ melihat foto sahabatnya di sana. Pria jangkung dengan wajah tampan.
"Apa yang salah dari sahabatku hingga ia harus dikhianati istrinya sendiri?" tanya Ernesto.
Masih ingat dalam kenangan Ernesto saat pria itu menggedong Bia yang menangis dalam keadaan panas ke rumahnya. Lousiano menitipkan Bia kecil lalu pergi untuk mencari istrinya yang meninggalkan rumah.
Sejak lahir Bia sudah sering dititipkan. Mayen sering mengamuk dan marah-marah. Awalnya Maria pikir itu hanya karena baby blues. Malah Maria sering merasa kasihan. Disaat Dira mendapat air susu ibu, Bia hanya bisa ia berikan susu formula. ASI untuk anak laki-laki memang sangat menguras, karena itu Maria tak bisa membaginya dengan Bia.
Demi Bia, Lousiano rela mencari istrinya. Hingga malam itu, Lousiano datang ke rumah ini dengan wajah sedih. "Aku dan Mayen berpisah. Kami tak bisa bersama. Ia sudah serahkan Ana padaku," ucap Lousiano. Matanya berkaca-kaca menyiratkan rasa kecewa.
Ia tak memiliki siapa-siapa selain Rubi, adiknya. Demi masa depan Bia, Ernesto memberi saran agar Lousiano membawa Bia ke Emertown (kota kecil di mana mereka bisa sembunyi). Di sana Lousiano bertemu dengan Angelica, janda dengan satu anak yang mau menyusui Bia karena putranya sudah berusia satu setengah tahun dan mulai jarang menyusui.
Sejak itu Lousiano tahu, jika Angelica adalah ibu yang tepat untuk Bia. Apalagi usia empat bulan, Lousiano tak bisa membawanya ke kantor juga tak enak jika terus menitipkan pada keluarga Kenan. Demi Bia, mereka menikah. Lain dengan Mayen yang masih hidup menjadi seorang simpanan.
__ADS_1
Sempat mendengar kabar jika Mayen mencari Bia, Ernesto lekas membuat keputusan besar. Ia mengganti nama Andriana Saphira Louis menjadi Drabia Azura Louis. Bahkan akta kelahiran Bia juga ia ubah dengan nama Angelica di dalamnya. Kota Heren sebagai kota kelahiran diganti menjadi Emertown. Alasan Mayen mencari Bia juga, karena mendengar desas-desus tentang keberhasilan Lousiano di Emertown.
Satu alasan besar, kenapa Drabia tak pernah dibawa ke Heren. Mayen tak boleh bertemu anaknya itu. Apalagi setelah mengandung Ceril akibat perselingkuhannya. Bisnis ayah Ceril hancur setelah perselingkuhan itu tercium keluarga istri sahnya dan dituntut untuk meninggalkan Mayen. Hidup Mayen hancur lebur. Ia hanya bisa memelas pada Ernesto agar memberi tahu keberadaan Lousiano dengan putrinya.
"Sekarang Bia lebih aman. Namanya sudah berganti dengan nama Kenan. Mayen tak akan curiga meski Bia ada di sini," pikir Ernesto.
Maria mengangguk.
"Jadi lebih baik kita diam saja seumur hidup kita? Bagaimana kalau Mayen menyadari itu?" tanya Maria.
"Aku sudah cukup syok saat Rubi membawa Bia tanpa sepengetahuan kita. Tiga tahun mencari Bia di Emertown disela kesibukan dengan KG terasa sulit. Syukur, Bia ditemukan oleh Dira. Sekarang aku sudah lega karena Bia kembali pada perlindungan keluarga kita. Hanya saja memberi tahu Mayen bukan hal yang baik," saran Ernesto.
"Hanya memberi tahu Bia tetap jadi kewajiban kita, kan?" tanya Maria.
Ernesto mengangguk. "Jika Bia tahu aku tak keberatan. Yang aku takutkan adalah dia anak yang pemaaf dan mencari Mayen tanpa tahu seperti apa jahatnya wanita itu."
Ernesto tak takut dengan Mayen. Ia juga tak takut dengan musuhnya yang akan Mayen manfaatkan. Ia hanya takut, Bia tahu segalanya.
__ADS_1
πππ