Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Beda Dua Tahunan


__ADS_3

Diandre terus memaki karena bau dari toilet belakang sekolah benar-benar persis seperti bau makanan busuk. "Kayaknya toilet ini jarang dibersihin! Gimana, sih? Sekolah elit masih saja ada toilet jorok!" gerutu Diandre.


"Toilet ini jarang digunain. Siapa juga yang mau ke sini, sepi dan gelap," timpal Dinia.


Diandre berbalik. "Heh, aku gak butuh alesan kamu! Kerja yang benar," protes Diandre pada adiknya yang hanya mematut di depan kaca. Ketiga putra Bia benar-benar menuruni gen unggulan papahnya, wajah mereka glowing yang salah adalah gen nakalnya juga dituruni.


Diandre ketahuan menggantung sepatu dan tas teman satu kelasnya pohon kayu birch hitam. Sementara Dinia menyiram siswi kelas tetangga dengan air cucian piring.


Kedua anak ini bisa dibilang pencetak rekor kenakalan sekolah. Dira dan Bia sudah sering memberi hukuman di rumah, tak mempan. Itu yang akhirnya membuat Divan mengambil posisi sebagai anak tertua.


"Kak Diandre 'kan kakakku. Harusnya ngalah, donk! Bersihin toilet sendiri, aku tunggu di sini." Dinia naik ke wastafel lalu duduk di tembokannya sambil melipat tangan.


Tentu Diandre tak terima. Mereka dihukum berdua, kenapa harus dia yang merasakannya sendiri? "Sejak kapan kamu manggil aku kakak? Turun! Ikut bersihin."


Jika tadi Divan menarik daun telinga sebelah kanan, kini Diandre menarik daun telinga sebelah kiri. "Sakit Diandre!" pekiknya. Diandre hanya memeletkna lidah.


Pukul delapan malam, mereka baru selesai membersihkan toilet. Dinia sudah merasakan bau-bau tak sedap. Bukan hanya dari keringat di usianya yang sudah masuk fase puberitas, tapi juga dari toilet sebelum dibersihkan.


"Aku pulang duluan, Yo! Hati-hati bawa mobilnya!" pamit Dinia.


Gadis itu berjalan ke parkiran. Saat hendak membuka pintu, ia mematung. Lupa, kuncinya dibawa oleh kakaknya. Bahkan dompet juga dibawa Divan.


"Kenapa gak jadi pulang?" tanya Diandre sambil tersenyum meledek.


"Diandre aku ikut mobil kamu, ya?" pinta Dinia.


Diandre menggeleng dengan mantap. "Kakak macam apa kamu tuh, adiknya kesulitan malah gak mau nolong," protes Dinia.

__ADS_1


"Kak Divan bawa kunci mobil dan dompetku juga," celetuk Diandre sambil menunduk.


Divia berkacak pinggang. "Kita naik taksi dan bayar di rumah saja," ide Dinia.


"Sampai di rumah siapa yang bayar? Aku yakin mamah sama papah gak akan kasih kita uang. Lebih parah, kita gak boleh masuk."


"Terus gimana, dong. Masa kita jalan kaki? Dari sekolah ke rumah itu jauh!"


"Makanya dalam keadaan begini, jomlo gak bisa bantu. Biar buaya darat yang maju," ucap Diandre songong. Dia menelpon seseorang beberapa lama.


"Pacarku nanti jemput." Diandre menutup telpon. Dinia bergidik.


"Siapa? Aneth?" tebaknya.


Dengan yakin Diandre menggeleng. "Alena," ralatnya.


"Aku sama Aneth sudah putus. Ini baru lagi, anak sekolah lain," jelas Diandre.


"Buaya emang! Ganti cewek kayak makan kacang!" umpat Dinia.


"Pacaran berkali-kali agak apa-apa namanya juga nyoba. Kalau cocok baru nikahin!"


"Woy, kalau mau pacaran buat nikah, gak akan dimulai pas KS 3. Kayak Kak Divan tuh, sudah S2 baru ngomongin cewek. Buaya ya buaya saja!"


Diandre berkacak pinggang. "Jangan salah, buaya itu binatang paling setia di dunia. Kalau pasangannya mati, dia juga mati. Meski banyak wanita yang lalu-lalang dalam hidupku, cinta sejatiku hanya satu," teguh Diandre.


Dinia memutar bola matanya. "Alena ini?" terka Dinia.

__ADS_1


Diandre menggeleng. "Gak mungkin! Dia saja masih suka putus nyambung sama cowok. Sekarang saja dia masih punya cowok lain, aku selingkuhan."


Jika saja tak ada nama Kenan di belakang nama keduanya, Dinia tak mau mengakui makhluk ini sebagai kakak. Lain dengan Divan yang sudah kaya sejak balita juga populer ditambah naik kelas berkali-kali, kedua adiknya dapat nilai raport delapan saja sudah bersyukur.


"Bisa gak sih, papah hapus kamu dari daftar keluarga!" protes Dinia.


Diandre berdiri di samping adiknya sambil menyandarkan punggung. "Kamu sendiri bukannya pacaran sama cowok sekelas kamu itu? Siapa namanya? Arnold?"


"Reynold. Aku sama dia gak pacaran. Cuman teman tapi mesra. Mamah bilang jangan pacaran dulu sampai kuliah."


Diandre tertawa terbahak-bahak. "Apa bedanya, Kupret! Selama gandengan tangan, makan berdua, pulang dibonceng, tetap saja namanya pacaran," protes Diandre.


Obrolan kakak beradik itu berakhir ketika mobil Alena berhenti di depan gerbang sekolah. Sebelum masuk mobil Alena, Dinia menyemprot parfum ke tubuhnya juga Diandre.


"Apa-apaan ini? Bau bunga!" protes pria itu.


"Daripada bau bangkai!" kelakar Dinia.


Diandre dan Dinia duduk di kursi belakang. "Aku ingatnya minta kamu jemput saja." Alena melirik ke belakang melalui spion depan. Dinia duduk di sana.


"Gak usah cemburu, dia adikku. Masa gak lihat kami mirip?" jelas Diandre.


"Mirip? Siapa? Jijik kali lah Diandre!" protes Dinia.


Alena terkekeh. Ia melihat baik-baik wajah Dinia dan memang menurutnya, gadis itu terlihat mirip dengan Diandre. "Hai, aku Alena. Aku pacarnya Diandre."


"Dinia Kenan. Cewek paling cantik di sekolah ini."

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2