
Pembicaraan tentang bisnis tak pernah ada habisnya. Tak puas diselesaikan di ruang rapat, berlanjut hingga ke meja makan. Dira masih merasa gundah setiap kali tanpa sengaja sudut matanya melihat anak kecil berjalan di lantai restoran mewah. Ia ingat dengan kedua putra kecil yang ia tinggalkan jauh hingga ke benua lain.
Dira sempat melirik ponselnya. Ia tekan layar hingga lampunya menyala. Foto Bia dengan anak-anak terlihat di sana. "Yang tangguh meski harus gantikan aku dulu," ucap Dira dalam hati.
"Kemungkinan model untuk brand ini harus diganti?" tanya salah satu petinggi perusahaan yang akan mensponsori penjualam D-zone di Amerika.
"Putra saya masih terlalu kecil untuk berkecimpung terlalu serius dalam dunia keartisan. Saya sangat keberatan," jelas Dira mencoba memberi pengertian.
Suara biola mengalun ke seisi ruangan. Vas-vas bunga cantik terbuat dari kaca dan memiliki ornamen tanaman dari cat emas terpajang di atas nakas menjadi hiasan ruangan luas itu. Di restoran ini tak ada ruangan VIP. Hanya saja kelas yang dimilikinya melebihi harga kelas VVIP. Restorannya memang terkenal hingga ke mancanegara meski terkenal mahal.
"Apa sudah ada gantinya?" Sekali lagi lawan bicara Dira bertanya. Kali ini Dira mengangguk.
"Beberapa aktor anak diaudisi secara langsung oleh agensi yang saya dirikan. Rencananya akan dipilih empat model berwajah western, timur tengah, Asia dan juga model berkulit hitam. Tujuannya agar memberi kesan D-zone cocok untuk semua ras," jelas Dira.
Melihat laporan penjualan D-zone beberapa bulan terakhir, banyak investor yang ingin menanam modal. Itu cukup menguntungkan, apalagi jika investornya dari luar negeri. Akan menambah luas penjualan.
"Saya harap kerja sama kita akan berhasil," ucap investor D-zone sambil mengulurkam tangan. Dira membalasnya. Tidak sia-sia Dira pergi jauh dari keluarga karena ia mendapat banyak uang investasi meski tanpa bantuan nama Kenan grouph.
Belakangan Kenan Manufacture memisahkan diri dari perusahaan. Tujuannya agar investor lain tidak ragu menanam saham, posisinya juga sudah menjadi perusahaan terbuka.
Lain dengan Dira, Bia masih duduk di belakang kamera. Hari ini ada beberapa anak yang datang sebagai bintang tamu. Seperti Divan, mereka juga terkenal karena orangtuanya artis.
Anak lain didampingi oleh orang
tua mereka di atas panggung. Divan tidak, ia tahu ibunya pemalu. Karena itu jika tak sedang ditanya, Divan melirik sebentar ke arah Bia untuk meyakinkan diri jika semua baik-baik saja.
"Divan, sekarang kan sudah populer, tuh. Pernah gak pas keluar rumah banyak yang manggil-manggil?" tanya host hari ini.
Acara talkshow yang Divan datangi memang talkshow yang sangat terkenal. Pembawa acaranya juga menyenangkan dan tidak kaku.
Divan mengangguk. "Ada banyak banget! Divan sampai sakit tenggelerokan karena jawabin terus," jelas Dira.
__ADS_1
Bia tersenyum geli mendengar jawabam putranya. "Yang suka Divan ibu-ibu semua. Gak ada kakak muda-muda," tambah Divan.
"Maksudnya anak muda?" tanya host. Divan mengangguk. "Rasanya gimana dipanggil-panggil terus sama ibu-ibunya?"
"Senang banget. Mereka beli baju Divan jual, kan? Jadi Divan banyak sekali uangnya. Makasih ibu daster!" ucap Divan sambil melambai ke kamera. "Beli Dijon lagi, ya? Jangan bosen-bosen! Nanti boleh naik kereta Divan," serunya.
"Baru juga empat tahun, sudah pintar dagang. Nanti sudah gede kayak apa ya ini anak," komentar Matteo.
Bia terkekeh. "Mau gimana lagi, kakek sama papahnya pengusaha. Jiwanya pasti turun," timpal Bia.
Divan duduk sambil menggerak-gerakan kakinya. Sepatu coklat yang ia pilih terlihat lucu karena ujung talinya ikut bergerak-gerak. Divan melirik anak lain yang berlari ke sana ke sini bahkan tak memedulikan pembawa acaranya. Ia menepuk jidat.
"Kalau di rumah, apa saja kegiatan Divan?" tanya pembawa acaranya lagi. Ia lebih senang bertanya pada Divan karena anak itu benar-benar terlibat dalam acaranya.
Divan berpikir sejenak. "Temenin Diande makan, main sama Diande, main lagi sendiri, bantu mamah masak, terus makan sama tidur," jawabnya.
"Wah, hebat!" seru pembawa acara.
Para penonton yang memeriahkan acara sampai bertepuk tangan terpancing oleh ucapan Divan. Anak itu menyandarkan punggung ke sofa, walau harus menggeser tubuhnya lebih ke belakang.
"Kalau papah kegiatannya apa? Masih suka nyanyi?"
Divan mengangguk. Ia memilin tali jaketnya. "Papah nyanyi di videokan, nanti ke yout*be kirim. Terus kerja sampe malam. Hitung uang juga sama mamah," jawabnya polos.
Kali ini Bia yang memerah. Ia menutup wajah dengan telapak tangan akibat sadar apa yang dimaksud Divan sedang hitung uang.
"Papah lagi di luar negeri katanya? Divan kangen gak?" Pertanyaan kali ini membuat Divan merenung. Ia menatap ibunya sekali lalu menarik napas. Tak lama Divan mengangguk.
"Divan coba lihat ke layar, ada siapa," pancing pembawa acara. Divan langsung ikut melihat ke layar. Mendadak matanya berkaca-kaca saat melihat Dira ada di layar televisi sambil melambaikan tangan.
"Papah!" panggil Divan. Air matanya mengalir.
__ADS_1
"Halo kakak Divan. Kangen papah, ya?" tanya Dira sambil terkekeh.
Divan mengangguk. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya. "Papah kapan pulang?" tanya Divan membuat siapa yang melihatnya merasa terharu.
"Sebentar lagi, kok. Papah juga kangen Divan. Papah nonton dari sini, loh!" timpal Dira.
Bia tersenyum. Sesekali ia melihat ke layar yang ada di belakang sofa bintang tamu. "Divan, nangis boleh. Hanya ingat sekarang Divan sedang di televisi. Banyak yang nonton. Kalau lama nangisnya, nanti semua orang hanya nonton Divan nangis," nasehat Dira.
Lekas Divan menarik napas dan mulai berhenti mengeluarkan air mata. "Dia sedih banget kayaknya ditinggal Dira," pembawa acara mengambil alih suasana.
"Iya, biasanya gak ditinggal lama. Pertama kali jadi gak biasa," jawab Dira.
"Divan mau bilang apa sama papah?" tanya pembawa acara.
Mata Divan masih terlihat merah. Ia menatap wajah papahnya dengan tatapan lirih. "Papah, cepat pulang. Ayo main lagi," ucapnya.
Dira terkekeh. "Iya, Divan jagain mamah sama Diande, ya? I love you, Kakak Divan. Makasih sudah mau papah tinggal dan tidak rewel. Yang betah mainnya," ucap Dira sambil melambaikan tangan.
Divan mengangguk. Ia balas lambaian tangan Dira dan tak lama panggilan video dimatikan. "Gimana? Lihat papah lagi rasanya?"
Divan nyengir. "Papah makin ganteng. Gantengan Divan, sih," jawabnya sambil mengedipkan mata.
"Padahal tadi baru nangis, sudah eksis lagi," komentar Matteo sambil tertawa.
Bia mengangguk. Ia mengembuskan napas lega. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan dari Dira muncul di layar ponsel itu.
Makasih sudah jagain anak kita. Tunggu aku pulang. Aku sayang kamu.-
🍁🍁🍁
meski aku gak tahu konflik ringan itu apa, ayah dari anakku masih akan dilanjut, kok. Sesuai dengan permintaan pembaca yang tumben sekali tembus sampai empat ratus komen gak kayak biasanya. konfliknya kini ke arah Bia dan ancang-ancang masa depannya Divan dengan seseorang 😁.
__ADS_1
baca terus Ayah Dari Anakku, ya? Yang mau bantu vote silakan sudah dimulai. 😉