
Dira memulangkan Bia ke rumah tanpa membuat istrinya curiga. Dengan alasan ada masalah di kantor, Dira lekas pergi lagi menuju rumah papahnya. Ia harus meluruskan semuanya.
"Jangan lupa jemput, Divan," pesan Bia. Dira menghubungi Daren untuk itu. Dia menintipkan Divan sampai masalahnya benar menjadi jelas.
Tiba di rumah besar keluarga Kenan, kehadiran Dira membuat gempar rumah itu. Apalagi ia hadir dengan langkah tergesa-gesa dan memanggil Maria serta Ernesto. Para pelayan lekas memberitahukan Tuannya akan keberadaan Dira.
"Tuan besar ada di lantai dua, Tuan Muda," salah satu pelayan mengantar Dira menuju ruangan tempat orangtuanya berada. Pasangan itu tengah bermain catur bersama. Dira tak kaget. Ia tahu baik Ernesto dan Maria suka dengan olahraga otak itu.
"Pah, Dira ingin bicara," ucap Dira. Ia berdiri di depan meja catur orangtuanya.
Ernesto yang merasa curiga tak menanggapi serius pernyataan putranya. Ia malah dengan tenang fokus pada permainan catur. "Bicara saja," ucap Ernesto santai.
Dira meminta pelayan membawakan kursi. Pelayan di sana cukup cepat dalam bekerja. Dira duduk di kursi yang disediakan pelayan. "Tinggalkan kami," tekan Dira.
Setelah perintah itu, tinggalah Ernesto, Maria dan Dira di sana. Pelayan yang terakhir keluar sudah menutup pintu dengan rapat.
"Kamu ini kenapa?" tanya Ernesto yang mulai menangkap hal tak normal dari putranya.
"Dira pikir, masalah Mayen memang masalah pribadi papah. Hanya sekarang semua salah. Itu juga masalah Dira. Bagaimanapun itu menyangkut keluarga istriku," tekan Dira.
Baik Maria dan Ernesto langsung menegakan tubuh mendengar itu. Mata keduanya terbelalak. Maria menatap Ernesto dengan tatapan khawatir. Mata Ernesto menutup beberapa menit hingga akhirnya mulai menenangkan diri lalu membuka matanya kembali.
__ADS_1
"Apa yang kamu tahu?" tanya Ernesto.
Itulah, Dira tahu papahnya pintar bermain kata. "Mungkin tak sejauh yang papah tahu. Hanya saja kita tahu regulasi di Livetown. Mayen itu masih istri sah ayah Bia saat Bia lahir," tegas Dira.
Ernesto meneguk ludah. "Lalu apa yang kamu pikirkan?" pancing Ernesto.
Tarikan napas Dira begitu berat. "Artinya saat Bia lahir, Bunda Angelica bukanlah istri sah. Akta kelahirannya juga dibuat satu tahun setelah Bia lahir. Apa papah sedang menutupi kenyataan kalau Bia itu anak simpanan?" tanya Dira.
Maria menunduk. "Lalu kamu tak ingin dengan istri kamu?" tanya Ernesto lagi.
Dira menggeleng. "Apapun dia, aku akan selalu menerimanya. Hanya saja, aku takut Bia tak bisa menerima masalalunya. Papah tahu bagaimana lembut hati istriku? Kalau tahu, ia akan terluka," keluh Dira.
Maria memegang lengan Ernesto. "Aku sudah bilang, lambat laun semua harus terungkap."
Dira terbelalak. Ia mencoba menelaah apa yang dikatakan Ernesto. "Kalau dia anak sah, artinya harus lahir dari pernikahan sah. Artinya ...." Kalimat Dira terpotong.
"Sekarang kamu tahu kenapa papah harus selalu menahan Mayen? Setidaknya dia harus tenggelam dalam kebodohannya agar ia tak tahu apa yang aku sembunyikan," tegas Ernesto.
Dira mengusap wajah. Ia membayangkan tawa Bia yang mungkin akan hilang jika tahu semua itu. "Mayen ibu kandung Bia?" tanya Dira memastikan. Ernesto mengangguk dan itu membuat Dira seperti dihantam dua kali.
Dira menunduk. Ia ingat dengan mendiang pengasuhnya sejak bayi yang meninggal saat Dira TK. Pengasuhnya sering bercerita bagaimana Dira dan Bia diasuh olehnya bersama.
__ADS_1
"Harusnya aku tahu. Mamah mengasuhkanku karena harus bekerja dengan papah, tapi Bunda? Bunda bukan wanita karir. Ia selalu ada di rumah. Kenapa waktu bayi, Bia dititipkan?" pikir Dira. Kadang hal kecil ternyata merupakan petunjuk untuk rahasia besar.
"Tante Rubi tak pernah mengizinkan Bia ikut denganku ke Heren. Dengan alasan itu adalan wasiat Ayah. Padahal semua tahu, universitas Heren adalah yang terbaik. Sayang jika Bia kuliah di Emertown," tambah Dira.
Maria mengusap punggung Dira. "Karena itu kami selalu berharap kamu menikahi Bia. Kami ingin melindunginya dalam rumah keluarga ini tanpa membuatnya curiga."
Dira mengangguk. "Karena itu selama tiga tahun Dira kabur dari rumah, kalian tetap mencari Bia?" tanya Dira lagi. Ernesto mengangguk.
"Tapi kenapa? Bia berhak tahu ibu kandungnya. Papah tahu, dia sering mengeluh. Ia sering membayangkan jika saja orangtuanya masih ada," tanya Dira.
"Kamu tahu perilaku Mayen termasuk apa yang terjadi dengan putrinya yang kedua?" Ernesto mencoba menyadarkan putranya.
"Dia memanfaatkan putrinya demi kemewahan. Parahnya putrinya juga tak keberatan dan menikmati hal itu," tekan Dira.
Ernesto mengangguk. "Apa kamu tega istri kamu harus punya ibu semacam itu? Mayen pergi dengan pria lain. Ia meninggalkan Bia dengan Lousiano. Setelah ditinggal selingkuhannya, ia mencari Bia lagi. Tujuannya agar bisa mendapat hak asuh Bia juga tunjangan mengurus anak dari Lousiano. Ia bahkan mengancam ingin menuntutku akibat menyembunyikan putrinya. Aku tak takut dengannya. Hanya takut ia bicara ke publik tentang Bia dan sampai menantuku mendengar."
Dira mengangguk. Ia mengerti keputusan orang tuanya. Hanya saja, Dira dan Bia sudah bersama sejak kecil. Ia pernah salah menilai sahabatnya itu saat memutuskan hubungan mereka. Dira menunduk, mencoba menelaah jika keputusannya benar.
"Papah salah. Bia bukan bukan perempuan lemah. Ia besarkan anakku sendiri diantara cemoohan orang. Dia bertahan memberiku kekuatan saat semua orang mencelaku. Dia bukan wanita bodoh yang mudah diperalat. Buktinya ia memilih membesarkan Divan, ia mendidik anak kami dengan baik. Orang bilang suami yang sukses karena wanita yang ada dibelakangnya. Dira bisa sukses menjadi pengusaha, karena ada Bia di belakang Dira."
"Jadi?" tanya Ernesto.
__ADS_1
"Aku akan memberitahunya. Dia pasti bisa melewati semua itu," tegas Dira.
🍁🍁🍁