Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Drama di Mall


__ADS_3

Lalu lalang manusia memenuhi gedung ini, tempat di mana hampir semua kebutuhan manusia terlengkapi.


Aric bersama keluarga kecilnya pun ikut membaur bersama mereka, Aric mendorong troli yang hampir penuh dengan barang belanjaan. Sementara sang istri berjalan mendahuluinya sambil memilih beberapa barang.


"Bunda, Adam mau ini." Adam menunjukkan sekotak besar sereal rasa coklat berlogo singa.


"Oke, masukkan kemari," bukan Lily tetapi Aric yang menyahuti ucapan anaknya.


Lily mendelik tajam pada suaminya, seketika Aric mengalihkan pandangan.


Aish ... salah lagi.


"Ehem ... Adam pilih rasa yang lainnya, terlalu banyak coklat tidak baik," ujar Aric menasihati.


Wajah Adam yang tadinya berbinar kini berubah sendu. Lily meletakkan kembali sampo yang sempat ia pilih. Ia pun kemudian berjongkok mensejajarkan diri dengan anaknya.


"Sayang, batuk kamu baru sembuh. Untuk sementara hindari coklat dulu ya, masih banyak rasa lain yang tidak kalah enak dari coklat. Oke," Lily berkata dengan lembut pada putranya itu.


Adam mengangguk pelan, meskipun tidak rela pria kecil itu mengembalikan sereal coklat itu kembali ke tempatnya. Adam mengambil kotak sereal dengan bentuk bintang sebagai ganti.


"kalau ini, bolehkan Bunda?"


"Boleh dong Sayang." Lily menerima kotak sereal yang di berikan Adam, kemudian meletakkannya ke troli belanja.


Sekilas Lily melayangkan tatapan sinis pada suaminya. Aric hanya bisa menyengir memamerkan jajaran giginya yang putih.


Lily pun kembali melanjutkan belanja bulanannya, peralatan mandi, kebutuhan dapur, Lily memilihnya satu persatu dengan teliti. Wanita yang tengah hamil itu sangat bersemangat jika sedang berbelanja seperti ini.


Adam menarik baju Ayahnya. Aric berhenti, ia sedikit menunduk untuk mendengarkan Adam berbicara.


"Ayah Adam pengen pipis," bisik Adam pada Ayah.


"Ayah akan mengantarmu ke kamar mandi," jawab Aric tak kalah lirih.


Adam mengangguk, Aric menegakkan kembali tubuhnya. Ia kemudian berjalan mendekati pada sang istri yang sedang memilih buah Apel yang ada di hadapannya.


"Sayang, apa kau ingin ikut ke kamar mandi, bersamaku?" tanya Aric dengan setengah berbisik.


Mata Lily membulat sempurna mendengar pertanyaan Aric.


"Dasar mesum, ini tempat umum. Jangan bicara sembarangan!" ketus Lily sambil menghadiahkan sebuah cubitan sayang di perut Aric.


"Sshh ....Apa salahku? Aku hanya ingin mengantar Adam ke kamar mandi," Aric mendesis sambil mengusap bekas cubitan Lily.


Lily hanya melengos tanpa memperdulikan sang suami, suasana hati Ibu hamil itu sepertinya sedang tidak baik. Aric hanya bisa menghela nafas sambil mengelus dada. Aric harus lebih bersabar menghadapi istri cantiknya itu, mungkin karena hormon kehamilan, mood Lily bisa berubah dalam sekejap mata.


"Ayah, Adam sudah tidak tahan," ujar Adam sambil meringis menahan diri.


"Sayang, aku antar Adam ke kamar mandi dulu. Tunggu di sini jangan kemana-mana!"


"Hem."


Aric mengendong Adam, dengan setengah berlari dia mengantar putra kecilnya ke kamar mandi.


Sementara itu Lily sibuk berbelanja, memasukkan beberapa barang yang ia pilih ke dalam troli yang sudah mulai penuh. Wanita itu berjalan perlahan memperhatikan tiap barang yang berjajar rapi di rak supermarket.

__ADS_1


Perhatiannya tertuju pada sebuah barang yang terletak di rak paling atas, Lily pun berusaha meraih benda itu. Namun, meski ia berjinjit Lily tetap saja tidak bisa meraihnya.


"Ck, tinggi banget sih. Kalau kayak gini gimana mau ngambilnya, masa aku harus lompat," keluh Lily kesal.


Lily melihat kearah Aric dan anaknya pergi tadi, belum ada tanda-tanda kedua pria itu kembali dari kamar mandi. Lily berkacak pinggang, berdecak kesal.


Ia pun memutuskan untuk berusaha sekali lagi, saat Lily berjinjit dengan tangan terulur keatas. Sebuah tangan meraih kotak camilan yang akan diambil Lily, wanita itu mengerutkan keningnya kemudian segera berbalik.


Seorang laki-laki dengan wajah tanpa, berkulit putih mulus dan rambut pirang yang ia ikat kebelakang, tersenyum ramah pada Lily.


"Ini Nona, maaf saya menyela. Tadi saya melihat Anda sepertinya kesulitan menjangkau makanan ringan ini," Pria itu bertutur sangat lembut dan sopan, ia menyerahkan kotak camilan itu pada Lily.


"Terima kasih, tapi saya sudah punya anak. Tidak pantas lagi di panggil Nona."


"Oh ... benarkah, Anda masih sangat muda sudah memiliki seorang anak. Anda pasti wanita yang hebat," puji pria itu dengan senyum ramah yang selalu tersungging di bibirnya.


"Tidak seperti itu, saya hanya Ibu rumah tangga biasa."


"Anda terlalu merendah, Nyonya. Saya yakin seorang Ibu adalah sosok yang luar biasa, terlepas dari apa dan siapa dia. Bukan hal mudah membesarkan seorang anak, apalagi mengurus rumah tangga," ujar pria berambut pirang itu.


Lily tersipu mendengar semua pujian yang pria itu ucapkan. Sungguh pria yang baik, wajah yang tampan sungguh sempurna dengan attitude yang baik.


Jangan salah, Lily hanya kagum saja.


Keduanya pun terlibat dalam percakapan ringan, sesekali Lily tertawa kecil mendengar lelucon yang pria itu ucapkan.


"Sepertinya saya harus pulang sekarang, ini sudah sangat sore," ujar pria itu sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oh benarkah?"


"Bagaimana Anda bisa tahu kita searah?" tanya Lily sambil menggeleng.


"Hanya tebakan saya saja Nyonya, dan biasanya itu akan selalu terjadi."


Lily hanya tertawa menanggapi ucapan pria itu, dan menganggapnya sebagai lelucon. Pria itu hanya tersenyum tipis melihat Lily.


"Kalau begitu saya permisi."


Lily mengangguk. Pria itu melangkah menjauh dari Lily, pria yang menarik. Kulit yang putih pucat dengan mata biru dan rambutnya yang pirang, dia jelas bukan asli orang Indonesia. Namun, dia bicara seperti orang Indonesia pada umumnya, di tambah lagi dia sangat sopan.


Lily berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi, dia orang yang menyenangkan menurut Lily. Tak berapa lama setelah pria itu pergi, Adam dan Aric datang.


"Apa belanjanya sudah selesai?" tanya Aric yang baru saja tiba sambil menggenggam tangan Adam yang sedang sibuk menikmati es krim rasa vanilla.


"Dari mana saja kalian? Apa di toilet sekarang ada yang menjual es krim?" Lily balik bertanya dengan wajah ketus.


Melihat wajah kesal Bundanya, Adam segera bersembunyi di balik kaki Aric.


"Emh ... Maaf, aku mengajak Adam jalan-jalan sebentar untuk membeli kopi," kilah Aric.


"Membeli kopi? Dan meninggalkan aku sendirian di sini, iya?!"


"Maaf," ucap Aric sambil menunduk.


Lily mendengus kesal.

__ADS_1


"Kalian bawa semua barang ini sendiri!" Lily pun melanjutkan mendahului kedua laki-laki itu.


Adam yang tadinya bersembunyi di belakang Aric, perlahan keluar setelah Lily sedikit menjauh. Wajah kecil itu, mendongakkan melihat sang Ayah.


"Bunda marah ya Yah?"


"Bunda hanya sedikit kesal, tenang saja." Aric mengacak-acak rambut putranya gemas.


"Kenapa Ayah bohong sama Bunga, kan Bunda jadi kesel?"


"Ayah tidak berbohong, Ayah hanya menceritakan semuanya pada Bunda," jawab Aric yang lagi-lagi berkilah.


Adam memutar matanya jengah, dunia orang dewasa memang sangat membingungkan.


Aric hanya tersenyum melihat tingkah Adam.


"Ayo, jangan membuat Bunda menunggu dan semakin kesal." Aric mendorong troli yang sudah penuh dengan barang itu, Adam mengangguk cepat ia melangkah seiring dengan langkah lebar sang Ayah.


Setelah sampai di kasir, Aric masih harus mengantri. Lily berdiri dengan menjaga jarak dari Aric, mukanya masih di tekuk masam dengan tangan bersendekap.


"Sayang, apa kau lelah?" Tanya Aric dengan lembut.


Lily hanya diam tak menjawab. Ia masih kesal karena Aric meninggalkannya seorang diri.


Tak kehabisan akal, Aric pun segera berjongkok mensejajarkan wajah dengan perut sang istri. Lily yang terkejut langsung mundur selangkah, tetapi ia tidak bisa menjauh karena Aric langsung meraih tangan Lily.


"Baby, Bunda marah pada Ayahmu yang malang ini. Tolong bantu Ayah membujuk Bunda, ayah minta maaf dan sangat menyesal, ayah janji tidak akan beli kopi tanpa izin Bunda lagi" ujar Aric dengan wajah yang sendu. Ia mengecek punggung tangan istrinya dengan lembut.


Mereka pun langsung menjadi pusat perhatian, bebas orang bahkan memuji ketulusan Aric.


"Aric apa yang sedang kau lakukan?" tanya Lily lirih, wajah wanita itu memerah. Ia merasa malu menjadi perhatian orang seperti ini.


"Aku minta maaf, Sayang."


"Iya ... iya aku maafin, cepat bangun. Nggak usah lebay kayak gini!" tegas Lily dengan lirih.


"Benarkah?"


"Iya cepat bangun!"


Aric pun segera bangkit dari lantai, dengan segera ia merengkuh Lily dalam pelukannya. Aric menoleh pada putranya sambil mengacungkan jempol. Adam hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.


Setelah drama dan antian panjangnya. Akhirnya mereka selesai, Lily duduk di mobil sementara Aric masih sibuk menata belanjaannya di bagasi mobil.


"Ok selesai, Sayang aku akan mengembalikan troli sebentar!" teriak Aric sambil menutup pintu bagasi.


"Ya, cepat kembali. Nggak usah ngopi lagi!" teriak Lily memperingatkan.


Aric melangkah menjauh dari mobilnya, di saat yang sama seorang laki-laki mengetuk kaca mobil Lily.


"Hai, kita bertemu lagi," sapa Lily ramah.


Ia menurunkan kaca mobil. Laki-laki itu hanya tersenyum, dengan cepat ia membekap Lily dengan sapu tangan. Begitu pula Adam, seseorang telah mengangkat tubuh mungil anak itu keluar dari mobil.


Saat perjalanan kembali ke mobilnya, Ponsel Aric berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Langkah Aric terhenti, ia menatap pesan di layar itu dengan geram. Tangan Aric mencengkeram ponsel itu dengan kuat, hingga buku-buku tangannya memutih.

__ADS_1


__ADS_2