
Apa aku saja di sini yang bingung apa itu konflik ringan? Apa kayak di bawah ini?
🍁🍁🍁
"Bi! Sepatu aku yang coklat mana?" tanya Dira sambil berteriak di dalam walking closet. Hampir setiap pagi akan pergi ia seperti itu.
"Kamu yang pakai kenapa tanya aku?" Bia ikut berteriak dari kamar mandi. Padahal ia sedang membereskan kekacauan yang dilakukan Dira setelah mandi. Bahkan alat mandinya banyak sekali, oles ini dan itu. Pantas saja kulitnya lebih mulus dari istrinya sendiri.
Dira masih membuka satu per satu rak. "Aku nyerah, lah!" ucapnya kesal. Padahal ia sudah berencana memakai sepatu itu. Dalam kamus Dira tak ada kata sekali pakai kalau nyaman. Setiap ada waktu pas, benda itu akan ia kenakan kembali. Hanya saja posisinya, benda itu tak tahu ada di mana.
Dira mengacak rambutnya. Ia membawa sepatu yang warnanya sama. Itu sepatu yang baru Matteo beli dan sudah dicuci bersih. Selesai masalah sepatu, kaos kakinya kini hilang. Tak satu pun kaos kaki yang cocok dengan sepatu itu.
"Bia! Kaos kakiku mana?" tanyanya.
Lekas Bia meninggalkan handuk di keranjang cucian dan menghampiri Dira. Ia kaget karena walking closet Dira berantakan. "Semua kaos kaki yang sudah dicuci aku taruh di rak kaos kaki, kok."
"Kalau disimpan pasti ada, ini banyak yang hilang," protes Dira.
"Kalau banyak yang hilang, artinya gak kamu bawa ke rumah. Kamu ingat beli sepatu, kenapa gak dengan kaos kaki."
"Kalau tahu aku lupa kenapa gak kamu beliin?" Dira berkacak pinggang. Napasnya naik turun dengan cepat saking lelahnya mencari barang yang tidak ada.
"Aku pernah beliin dan kamu gak mau pakai. Terus kamu bilang biar kamu yang beli, lupa?"
Dira mengacak rambutnya lagi lalu memijiti tengkuknya. Ia lempar sepatu ke lantai. Lalu mengenakan sandal. "Kamu gak ada perhatiannya!" protesnya.
Bia meliriknya tajam. "Gak ada? Aku beresin tempat tidur kamu, bekas kamu mandi, siapin sarapan. Apa yang gak perhatian?" tegur Bia.
"Itu bisa dikerjain pelayan. Yang aku butuhin itu semua peralatan buat kerja. Kamu tahu sendiri pakaianku itu penunjang kerjaan. Kenapa bagian itu gak kamu perhatiin?" Nada bicara Dira semakin meninggi.
"Aku pernah siapin, kan? Kamu protes terus, bilang kurang ini kek, kurang itu," jelas Bia.
Dira mendengus. "Terus apa gunanya kamu jadi istri artis. Harusnya kamu belajar, baca majalah fashion atau lihat di internet. Jangan kampungan hanya gara-gara kamu tinggal di Emertown!"
Bia tersenyum sinis. Matanya terbuka lebar. "Kampungan? Iya aku ini kampungan, gak tahu fashion. Aku tahunya ngurus roti sama ngurus anak kamu! Kalau tahu begitu kenapa nikahin aku? Sana, pergi saja sama mantan kamu!"
__ADS_1
Bia berbalik. Ia lipat kedua tangannya di dada. "Apa begitu cara kamu menghadapi masalah? Aku mau kamu berubah, buka pikiran. Bukannya malah bawa-bawa nama perempuan lain!"
"Lalu apa? Maksud kamu bilang begitu ingin bandingin aku sama dia, kan? Karena dia yang anak kota itu tahu gimana ngurus kamu, tapi aku gak!"
"Terserah kamu mau bilang apa! Memang aku sebut nama dia tadi? Kamu saja yang nambah-nambah masalah!" bentak Dira. Ia berjalan keluar walking closet sambil menutup pintu dengan kasar. Bia mengikutinya.
"Yang nambah masalah itu kamu! Kamu yang ngatain aku duluan!" Bia masih kukuh pada pendiriannya.
"Sudahlah, aku malas ngomong sama kamu kalau lagi gini." Dira berjalan keluar kamar.
Bia berkacak pinggang. "Bodo amat! Aku juga gak mau ngomong sama kamu lagi!" teriaknya.
Dira sempat mendengar perkaatn Bia itu. "Lihat saja, siapa yang duluan minta diajak ngomong."
Di sisi lain, Bia juga mengatakan hal yang sama. Perang dingin dimulai.
...🍁🍁🍁...
Sarapan pagi itu tak seperti biasanya. Dira dan Bia sama-sama terdiam. Divan sendiri sepertinya bisa merasakan atmosfer itu. Ia sesekali melihat Papah lalu Mamahnya. Kemudian anak itu melenguh kesal. Wajahnya sampai mengerut melihat ibu dan ayahnya bahkan tak saling tatap.
"Pagi!" sapa Matteo yang baru datang. Ia melihat makanan di atas meja. "Wah, sarapannya kelihatan enak. Tahu begini, sarapan di sini setiap hari." Ia melirik Dira yang bermuka masam, sama masamnya dengan istrinya.
Matteo manyun. "Salah aku, datang ke sini pas suasananya panas."
Dira menjatuhkan sendok di piring dengan keras. Matteo dan Divan sampai kaget dibuatnya. "Siapin semua pakaianku. Malam ini aku tidur di apartemen!" ucap Dira ketus lalu berdiri dan berjalan pergi.
Bia sama sekali tak menimpali. Ia tak mau bertengkar di depan Divan karena itu akan memengaruhi perkembangan anaknya.
"Divan makannya habiskan, ya?" Bia mengusap pipi Divan. Jelas sekali ia sedang menahan tangis.
Matteo menatap Bia. "Kenapa?" tanyanya. Bia menggeleng sambil menunduk.
"Sabar, dia memang begitu. Kalau marah nyeremin, tapi gak lama," nasehat Matteo.
Bia mengangguk. Ia lebih hafal Dira dibanding Matteo. Namun, masalahnya Bia juga marah di sini. Ia masih tersinggung atas ucapan Dira padanya.
__ADS_1
"Teo!" panggil Dira karena Matteo tak juga menyiapkan barang-barangnya. Lekas Matteo berlari ke kamar Dira dan menyiapkan perlengkapan Dira.
Kalvis ikut membantu Matteo. Sementara itu Dira menerima telpon di entrance rumah. Mr. Pier masih memberikan tawaran shooting untuk Divan meski tahu jawaban Dira tetap tidak.
"Ada-ada saja!" omel Dira setelah menutup telponnya.
Tak lama Matteo sudah siap dengan perlengkapan Dira. "Pergi sekarang!" tegas Dira lalu berjalan ke teras. Ia naik di jok belakang mobil hitam miliknya sementara Kalvis dan Matteo duduk di depan.
"Dir, gak baik kamu marahan sama Nyonya Dira begitu. Kalian masih pengantin baru, lho!" nasehat Matteo.
Dira mendelik tajam sekali hingga Matteo mati kutu. "Jangan ikut campur masalah rumah tanggaku. Daripada begitu, kamu urus jadwal shooting minggu depan. Aku baca ada jadwal yang berbenturan. Bagaimana kita bisa manggung di dua tempat dengan jarak setengah jam? Memang kamu sanggup berkemas secepat itu?"
Matteo nyengir kuda. "Vis, catat tuh! Jadwal ada yang salah!" Matteo malah menyalahkan Kalvis. Kontan Kalvis mendengus.
Bia melihat mobil Dira berlalu dari jendela rumah. Ia meremas gorden. Malam ini suaminya tak akan pulang ke rumah dan terasa sekali perih di batinnya.
"Apa aku harus minta maaf?" pikir Bia. Ia mengusap dada. Rasanya sesak hingga terasa sakit saat bernapas.
"Mamah, gak nangis," ucap Divan sambil memegang lengan ibunya. Anak itu selalu tahu jika Bia sedang sedih. Bia tersenyum menyembunyikan kepedihan. Ia usap rambut Divan dengan lembut.
Matteo mengintip dari spion. Dira melamun sambil melihat ke arah jendela. Pria itu bahkan menyangga dagu dengan telapak tangan kirinya. Jelas sekali Dira sedang banyak pikiran.
"Dir, kalau kamu lelah minggu depan aku kurangi kerjaanmu saja ya? Kamu butuh istirahat," saran Matteo.
Dira tak menjawab. Pandangannya masih lurus ke luar jendela. "Aku hanya ingin menenangkan diri. Sudah, itu saja."
Dia menunduk. "Sepertinya aku susah keterlaluan pada Bia."
Matteo nyengir kuda. "Mau balik lagi buat minta maaf?" canda Matteo.
Dira mengambil jaketnya lalu melempar ke arah Matteo. "Kalau aku minta maaf duluan aku yang kalah! Orang dia jelas ngajak perang."
"Tapi kangen, kan?" celetuk Kalvis.
🍁🍁🍁
__ADS_1