
Kita tidak pernah berdaya menahan penderitaan seperti saat kita mencintai.
-Sigmud Freud-
🍁🍁🍁
"Yakin jika Cloe masuk sendiri ke mobil itu? Bukan karena dia dipaksa?" tanya Bia ketika Dira menjelaskan isi rekaman CCTV rumah sakit. Bia terlihat khawatir sementara Dira sendiri tak ingin istrinya peduli dengan Cloena.
Satu jam akhirnya Bia sadar jika Cloena tak kembali ke kamarnya. Ia hilang, tidak menyusul Cynthia ke mini market. Justru wanita itu masuk ke dalam mobil yang menepi di teras masuk rumah sakit.
"Sudah, jangan percaya padanya. Mungkin dia membodohimu," nasehat Dira.
Cynthia menggeleng. "Tidak, Cloena berkata jujur. Selama ini dia bersikeras mempertahankamu agar bisa keluar dari cengkeraman Haley. Pria itu jahat. Karena itu, Cloe takut padanya," jelas Cynthia. Sama sekali Cynthia merasa tak tenang. Ia takut Haley melukai Cloe.
"Sudahlah, aku tak peduli! Itu urusan mereka berdua! Kenapa kalian harus libatkan keluargaku? Dulu dia memanfaatkanku, lalu sekarang memanfaatkan rasa kasihan istriku. Lama-lama aku kesal juga!" Dira semakin emosi saja.
Ia sudah pastikan Haley tak memiliki upaya setelah membongkar apa yang ia ketahui pada Gwen Alvonz. Sialnya bukan membantu, Gwen malah memintanya menghadapi Haley sendiri. Dira juga bukan orang ceroboh yang mengorbankan bisnis hanya untuk urusan pribadi. Apalagi jika itu menguntungkan Cloena, ia malah rugi dua kali lipat.
"Ayo pulang," ajak Dira sambil menarik lengan Bia. Divan sudah dibawa Matteo pulang begitu Dira datang ke rumah sakit karena Bia memberitahu jika Cloena hilang.
__ADS_1
"Dira, aku mohon bantu dia. Cloena tak sekejam yang kamu pikir," pinta Bia.
Dira berbalik dan melihat istrinya. Ia ingin marah, hanya saja melihat Bia rasanya Dira tak tega. Istrinya itu hanya terlalu baik. "Sekarang begini saja, biar orang-orangku yang mencarinya. Jadi lebih baik kita pulang dan istirahat. Aku gak mau kamu sakit. Mengerti?" nasehat Dira.
Bia mengangguk. "Kamu juga Cynthia. Pulanglah, jangan sia-siakan hidupmu. Kita tak bisa melaporkan ini pada polisi karena kenyataannya Cloena pergi sendiri. Namun, aku akan tetap meminta orang-orangku mencarinya jika memang apa yang kau katakan benar."
Cynthia mengangguk. Mereka mulai meninggalkan rumah sakit. Sudah selama enam jam mereka mencari Cloena dan belum juga menemukan titik terang. Polisi juga tak bisa membantu karena belum dua puluh empat jam. Semua bukti kejahatan Haley juga hilang dan itu semakin membuat Cynthia tak bisa berbuat banyak.
Sementara itu, orang yang dicari sedang duduk di sisi tempat tidur. Ia melirik setiap sudut ruangan. Tak ada niatan dirinya untuk kabur. Ia tahu, hanya dia yang bisa menghentikan Haley sekarang.
Pintu terdengar dibuka dari luar. Cloena tersentak. Ia mulai bergeser ke sisi tempat tidur akibat ketakutan. Haley muncul dari pintu dengan membawa sepiring makanan dan air putih.
Tangan Haley menyentuh rambut Cloena dan mengecupnya. "Wangi tubuh ini yang selalu aku rindukan setiap malam. Sekarang kau percaya aku mencintaimu? Aku lakukan semua ini, sejauh ini hanya untukkau."
Cloena tak menimpali apapun. "Makan dulu, agar kau lebih kuat. Aku ingin menghapus jejak sentuhan Dira Kenan di tubuhmu ini." Tangan Haley semakin berani mengusap sepanjang leher dan lengan Cloena. Meski merasa jijik, Cloe tetap menahannya.
Perempuan itu menurut saja. Ia ambil makanan di atas meja dan memakannya. Cloe ingin menangis. Namun, ia berusaha kuat bertahan di sana. Ia tak tahu bagaimana lagi caranya menebus kesalahan pada Bia. Hanya saja ia ingat apa yang dikatakan wanita itu, seorang ibu harus kuat untuk anaknya.
Cloe juga menurut saja saat Haley menyuruhnya menelpon Cynthia dan mengatakan jika ia akan hidup dengan Haley dan berjanji tak akan menganggu hidup Bia dan Dira lagi.
__ADS_1
"Mungkin memang begini jalan hidupku sejak awal, menjadi boneka mainannya Haley," batin Cloe. Ia merasa miris. Dibanding menderita di luar sana tanpa sepeser pun uang, Cloe merasa ini sudah lebih baik. Walau hatinya menderita, ia masih bisa memuaskan batin dengan uang yang Haley miliki.
"Janji, kau tak akan menggangu Dira Kenan lagi," tegas Cloe begitu Haley memaksa membaringkanya di tempat tidur.
Haley terlihat kesal. Apalagi mengingat Dira jelas mengatakan betapa ia menikmati tubuh Cloena. Haley memegang erat tangan Cloena. "Apa kau begitu mencintainya hingga membelanya kini?" bentak Haley.
Pria itu bangkit dan berdiri sambil berkacak pinggang. Cloe turut bangkit dan duduk di atas tempat tidur. "Aku hanya merasa bersalah pada istrinya. Aku memisahkan mereka tanpa tahu jika wanita itu sedang hamil. Apa salah?" keluh Cloe.
Mata Haley kembali menatap Cloena. "Dengar! Saat kau menipuku dulu, aku masih kesal dengan itu. Kau memanfaatkanku untuk mendapat nomor seseorang. Tidak tahunya kau gunakan nomor itu untuk menghasut Dira Kenan dan kabur dariku. Aku kecewa, sangat!"
Cloe mendelik. "Lalu bagaimana dengankau? Bukannya kita sepadan? Kau menikmati tubuhku sementara wanita lain yang kau nikahi."
"Tahu bagaimana rasanya ketakutan jika Gwen tahu semuanya? Dibanding pria yang menjadikan aku simpanan, aku lebih memilih pria yang mau menikahiku. Satu lagi, kalau bukan karena Dira Kenan, aku gak akan pernah merasakan rasanya menghina istrimu itu!"
Cloe tak memiliki kekuatan apapun untuk mengalahkan Haley. Satu-satunya cara, dia harus berlindung pada seseorang yang lebih kuat.
Cloe tak setega itu merebut seorang pria hanya karena berpikir pria itu bisa menyayanginya. Ia hanya butuh perlindungan dan mengetahui nama Kenan ada di belakang nama Dira, Cloe mulai tamak. Ia butuh harta Dira dan keluarganya untuk balas dendam dan melepaskannya dari cengkeraman Haley Alvonz.
Namun, akhirnya Cloena menyesal sendiri. Mendengar Bia menceritakan betapa ia menderita akibat perbuatan Cloena, hati kecil Cloe tersayat. Ia menyakiti wanita yang berada di posisi yang sama dengannya. Ia menyakiti seorang ibu yang berusaha mempertahankan anaknya. Cloe tanpa sadar menjadi jenis wanita yang ia sendiri benci.
__ADS_1
🍁🍁🍁