
"Minum yang banyak, ya? Haus pasti, habis nangis tadi," ucap Dira mengusap kepala putranya yang hanya memiliki rambut-rambut halus berwarna kecoklatan seperti rambut Divan.
"Dia mirip Divan banget, ya?" ucap Bia. Jari telunjuknya mengusap alis tegas putra keduanya.
"Divan mirip aku, 'kan?" protes Dira. Bia mengangguk. Sudah sangat tak sabar ia ingin menggendong putranya itu. Sayang, si tampan junior sangat kuat minum susunya. Lepas yang kanan lanjut yang kiri.
"Dia kecil banget." Dira memegang tangan mungil bayinya. Digerak-gerakkan tangan itu pelan dan bayi kecil itu tersenyum. Jelas terlihat ada lesung pipit di kedua pipinya. Dira, Divan dan si tampan ini punya ciri yang sama jika tersenyum.
"Namanya siapa?" tanya dokter sambil tersenyum menatap kebahagiaan keluarga kecil itu meski Divan tak ada di sana. "Diandre Airen Kevin Kenan," jawab Dira. Nama itu sudah disiapkan sejak hasil USG menunjukkan jika bayi itu laki-laki.
"Nanti bikin lagi yang perempuan," saran dokter.
Dira memperlihatkan barisan gigi putihnya. "Batinku yang tadi saja masih syok lihat istri melahirkan, dok," ucap Dira menyerah.
Diandre mulai berhenti minum susu. Lucunya anak itu berusaha meraih-raih lengan Dira. "Dia mau digendong, Pah," ucap Bia sambil mengecup pipi Diandre.
Dira mencoba mengambil Diandre dari gendongan Bia. Bayi itu lagi-lagi tersenyum. Garis matanya begitu tajam seakaan sudah besar nanti akan membidik hati ribuan wanita yang melihatnya.
"Bisa gendongnya, gak?" tanya Bia. Dira mengangguk. Meski agak takut Diandre jatuh, Dira tetap berusaha belajar. Ia ingin menjaga Diandre bergiliran dengan Bia agar istrinya tak kelelahan.
__ADS_1
Pelan, tapi pasti Dira bisa. Diandre terlihat nyaman digendongan papahnya. Dira tersenyum dan saat bersamaan Diandre juga tersenyum. "Kayaknya Diandre sama Divan nurutnya sama kamu lagi, nih," komentar Bia.
Dokter meninggalkan mereka berdua di sana bersama bayi kecil dalam gendongan Dira. Syukur momen sebelumnya sempat direkam salah satu suster untuk disatukan dengan moment Divan nanti, kenangan yang Dira dan Bia tonton ketika mereka berdua menua kelak.
Jangan sedih karena Divan tak bisa terlibat kejadian itu. Aturan rumah sakit di Livetown, anak kecil sehat dilarang ke sana karena takut tertular oleh pasien. Jadi Divan dengan sigap diam di rumah sambil menunggu orang tuanya pulang. Mrs. Carol juga dalam perjalan pulang.
Divan sedih? Tak mungkin. Dia seperti raja di rumah. Duduk di sofa sambil memegang satu mangkuk besar pop corn untuk menonton film 'Troll'. Tawanya terdengar renyah karena tahu pelayan di rumah tak akan berani melarangnya seperti orang tua dan nenek Carol.
Sengaja, bantal kursi ia jadikan sandaran. Mainan berantakan dan lebih dari itu, ia tak khawatir sama sekali dengan ibunya. "Paling uga klualin adik pake sedotan," pikirnya karena terlalu sering menyedot minuman jelly dengan sedotan. Mungkin cara mengeluarkan bayi juga sama, tekan botolnya lalu sedot. Beres!
Bahkan untuk menonton saja yang dinyalakannya home theater. Padahal sudah jelas Dira melarang karena layarnya bisa menyakiti mata. Divan tak peduli, papahnya juga tak ada.
"Kenapa Tuan Divan?" tanya pelayan yang dimintai Mrs. Carol menjaga.
"Ni lusak. Tuh, item gak liat Divan," protesnya.
Pelayan itu bingung, antara ingin tertawa juga memaki. "Tuan, nontonnya jangan pakai kacamata hitam. Tentu tak terlihat," saran pelayannya.
Divan menggerak-gerakkan tangannya. "Uh, dak mau. Divan dak kelen dak pake ini. Bialin item saja," tegasnya. Kali ini, perutnya bergerak-gerak minta diisi. "Mau makan, boleh?" tanya Divan.
__ADS_1
Pelayannya mengangguk. "Divan mau ketang oleng, ekim, jelly, ayam goleng, puding," absennya. Setelah itu ia masih berpikir lagi. "Minumna air melah itu loh, papah minum malam-malam," pintanya.
Pelayannya menggeleng. "Pilih satu dulu. Itu terlalu banyak. Lagi pula minuman itu hanya untuk orang dewasa," nasehat pelayannya.
Divan menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri. Ia manyun. "Kata Oom Dalen, papah kanak-kanakan uga. Divan mau tu yang melah. Kalang, ya?"
Pelayannya mengangguk saja. Ada banyak minuman warna merah yang sekilas mirip wine. Tinggal masukan dalam gelas wine saja, Divan tertipu.
Sepeninggal pelayannya, Divan kembali menonton film. Ia ikut menari saat tokohnya menyanyi. Begitu adegan sedih, seperti biasa Divan akan menangis. Ia turun dari sofa dan berjalan keluar ruangan nonton. "Duh, dak kliatan," protesnya akibat pandangan semua terlihat hitam.
Ia lihat Dira pakai kaca mata itu di pantai dan itu keren. Malah banyak orang minta foto bersama dengan Dira. Karena itu, Divan juga ingin sama kerennya dengan papahnya.
Kaca mata itu sebenarnya milik Dira. Divan punya kaca mata sendiri, tapi tak mau pakai. "Kaca mata anak-anak," keluhnya akibat ada dino dan gambar lucu di kaca matanya.
Begitu keluar, Divan berpapasan dengan Mrs. Carol. Daripada marah, Mrs. Carol malah tertawa melihat Divan. Anak itu memakai kemeja papahnya hingga menyapu lantai. Di leher di ikatkan dasi. Kaca mata hitam besar miring kanan dan kiri karena batang hidung Divan belum semancung papahnya.
Bagian paling aneh tentu jam tangan Dira yang menggantung sampai di sikut. "Apa-apaan ini cucu nenek?" tanya Mrs. Carol sambil tertawa hingga memegang perut.
🍁🍁🍁
__ADS_1