Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Harapan Hadid


__ADS_3

Di penghujung minggu Lily di jemput oleh supir Ayah mertuanya, rupanya beliau sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya lagi. Seperti yang Lily janjikan, ia dan Adam akan menginap di sana.


Aric tidak bisa mengantar mereka, karena rapat penting pagi ini.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Lily pada putranya yang sedang berkemas.


"Sudah Bunda," jawab Adam dengan riang, ia memasukkan mainan terakhir kedalam tasnya.


"Adam bawa mainan sebanyak itu buat apa?" tanya Lily dengan terheran.


Adam membawa hampir separuh dari mainan yang ada di kamarnya.


"Mau ajak main Kakek lah, di rumah Kakek nggak ada anak kecil Bunda, di sana pasti nggak ada mainan," jawab Adam dengan polosnya.


"Oke ... kalau sudah siap kita berangkat sekarang."


Lily membantu Adam membawa tas mainannya, mereka pun pergi mengunakan mobil jemputan yang sudah menunggu di depan mansion.


Di tengah perjalanan Lily meminta sopir berhenti di sebuah toko makanan khas Turki. Saat berkunjung beberapa waktu lalu Lily baru mengetahui kalau Ayah mertuanya menyukai panganan penutup khas Turki yang bernama baklava.


Lily membeli sekotak baklava pistachio gulung.


Setelah perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di rumah utama. Meskipun sudah kedua, tapi tetap Lily merasa gugup. Mobil yang ditumpangi Lily terparkir sempurna dihalaman rumah besar itu.


Lily dan Adam keluar dari mobil, setelah si supir membukakan pintu untuknya. Kedatangan Lily disambut lagi oleh Bi Asih, wanita paruh baya itu terlihat sangat senang dengan kedatangan Lily.


"Nyonya, mari saya antar ke kamar." Bi Asih mengulurkan tangannya untuk membawakan tas yang Lily bawa.


"Nggak usah Bi, biar saya bawa sendiri," tolak Lily halus.


"Tapi Nyonya, saya melakukannya dengan senang hati, saya ingin melayani Nyonya." Raut wajah tuanya terlihat kecewa. Lily bisa merasakan ketulusan disorot matanya.

__ADS_1


"Bi, apa boleh saya minta tolong?" tanya Lily dengan lembut.


Wajah Bi Asih seketika berbinar.


"Tentu saja Nyonya," jawabnya penuh harap.


"Tolong Bi Asih jaga Adam, tangan saya kerepotan untuk menggandengnya," ujar Lily beralasan, padahal ia hanya membawa tas kecil dan sekotak baklava saja.


"Tentu, Nyonya Tentu." Bi Asih meraih tangan kecil Adam.


"Tuan muda, Tuan besar sudah menyiapkan kamar untuk Anda."


"Wah ... beneran Bi? Ada mainannya nggak?" tanya Adam dengan antusias.


"Ada banyak, kemarin Tuan besar beli banyak mainan.".


Tangan mungil Adam menggenggam erat tangan besar Bi Asih yang sudah termakan usia. Lily memperhatikan keduanya yang berjalan mendahului dirinya. Mereka tanpa mesra, Lily bisa merasakan kasih sayang Bi Asih pada Adam. Begitu tulus, walaupun mereka baru dua kali bertemu.


Adam melepas genggaman Bi Asih, dengan langkah kecil ia berlari kearah Hadid.


"Kakek!" serunya.


Adam menabrakkan diri pada tubuh Hadid, hingga pria itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Adam, pelan-pelan. Nanti Kakek bisa jatuh," ucap Lily.


Adam menoleh, ia menyengir memamerkan jajaran giginya yang putih.


"Maaf Bunda, maaf Kakek."


Hadid tersenyum. Ia mengangkat tubuh Adam dalam gendongannya.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, Kakek masih kuat Kok."


"Tetap saja, Kalau Ayah sampai jatuh tadi bagaimana? Aric pasti akan memarahi ku," tukas Lily.


Lily mendekat pada Hadid, ia meraih tangan pria tua itu lalu menciumnya dengan takzim. Mata Hadid berkaca-kaca, ia sungguh tersentuh oleh kesopanan Lily.


"Aric tidak akan memarahi mu, apapun yang terjadi padaku Nak," ujar Hadid sendu.


"Kenapa Ayah berkata seperti itu, Aric sangat menyayangi Ayah. Tentu dia akan marah kalau sampai Ayah terluka."


"Aku sangat mengharapkan apa yang kau katakan itu benar, Nak."


Hadid sangat ingin dekat dengan putra sulungnya itu, sejak kecil Aric selalu jauh darinya. Terlebih setelah insiden saat itu, Zahra sang istri dan Aric hilang tanpa kabar. Setelah beberapa tahun, Aric datang dengan membawa kabar duka. Zahra meninggal, dan menyerahkan sepenuhnya Aric pada Hadid.


Meskipun Aric bersamanya. Namun, Hadid merasa Aric sangat jauh. Ia selalu memberikan batas yang jelas diantara mereka, Hadid sadar akan kesalahannya. Besar harapan Hadid agar Aric mau memaafkannya.


"Pasti Ayah, Aric pasti sayang sama Ayah." Lily menggenggam tangan keriput itu, ia bisa merasakan kesedihan di mata mertuanya.


"Aku tadi membeli ini untuk Ayah." Lily memberikan sekotak pistachio baklava, untuk mengalihkan percakapan mereka.


"Baklava, sudah lama sekali aku tidak memakannya."


"Bi Asih, bawa dan simpan itu. Sajikan untuk teh soreku nanti," imbuh Hadid.


"Baik Tuan."


Lily menyerahkan baklava yang ia bawa pada Bi Asih, wanita itu menerimanya dengan senyum. Kemudian melangkah menjauh.


"Beristirahatlah, kau pasti lelah. Aku akan bermain dengan Adan sebentar. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memintanya pada mereka yang berkerja di sini, ini juga rumahmu," ujar Hadid sungguh-sungguh.


"Terima kasih Ayah, Adam jangan nakal ya. Jangan bikin Kakek repot."

__ADS_1


"Baik Bunda!" seru Adam.


__ADS_2