
Udara pagi hari pertama bulan Januari, mulai tercium bau-bau rerumputan yang tumbuh di balik timbunan salju. Musim dingin kali ini datang lebih lambat dan selesai lebih cepat. Namun, suhu dinginnya sangat membekukan.
Dira menyingkap selimut putih tebalnya. Ia turun dengan tubuh lemas dan berjalan lunglai ke kamar mandi. Ini sudah kali keenam perutnya mual dan membuatnya muntah. Kali ini jauh lebih membuat menderita. Bagian pinggang hingga perutnya terasa keram dan nyeri.
Betapa lemasnya Dira sampai ke kamar mandi saja harus berpegangan pada nakas dan dinding. Ia sampai harus memegang erat perutnya dan sedikit memijit-mijit agar sakitnya berkurang.
Sampai di wastafel, Dira mengeluarkan isi perut melalui mulut. Rasanya aneh, seperti memakan permen karet tanpa gula. "Bia!" panggil Dira dengan suara serak tanpa tenaga. Tadinya ia tak mau merepotkan istrinya. Namun, kali ini ia tak kuasa menahan segalanya.
Bia mendengar sayup-sayup suara Dira. Ia menggosok mata dengan kedua tangan lalu membuka matanya lebar-lebar. Jendela masih tertutup gorden dan sinar mentari membuat binar garis-garis jendela di gorden itu.
Bia bangkit. Ia melirik sisi tempat tidur dan menemukan Dira tak ada di sana. Namun, dari posisi itu ia bisa melihat pintu kamar mandi terbuka. Bia turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
"Dira!" panggil Bia melihat suaminya sudah duduk memeluk lutut di sisi tembok kabinet wastafel.
Dira mengangkat kepala dan melihat Bia dengan tatapan tak berdaya. Lekas Bia berlari dan duduk di depan Dira. Tangannya mengusap rambut Dira. Terlihat jelas Dira begitu pucat.
"Kamu sakit?" tanya Bia. Ia menyentuh kening Dira dengan telapak tangannya. Sama sekali tidak panas.
"Perutku sakit dan mual," keluh Dira.
Semalam ia minum wine dan makan daging bakar. Mungkin karena itu. "Makanya kamu kalau tengah malam begitu jangan minum wine banyak-banyak. Ayok bangun, rebahan di tempat tidur dulu, ya?" saran Bia.
Ia menuntun Dira ke tempat tidur. Pria itu terus melenguh kesakitan tat kala perutnya seperti diinjak-injak hingga terasa nyeri sampai ke telapak kaki.
__ADS_1
"Nyeri, Bi. Sakit banget," keluhnya lagi. Lucunya, sampai di tempat tidur, Dira menangis sesegukan. Bia mengusap air mata suaminya.
"Aku panggil dokter dulu, ya?" tawar Bia. Dira mengangguk sambil masih sesegukan.
"Bawa pergi itu sekalian, Bi. Aku gak suka liat itu!" tunjuk Dira sambil menangis pada lampu tidur di sisinya.
"Kenapa?" tanya Bia bingung.
"Gak suka saja lampu bulet gitu. Mau yang kotak," pintanya. Dira sampai memalingkan wajah ke atap agar tak melihat lampu itu. "Suruh ganti lampu di atas juga. Gak suka lampu bulat!" protesnya.
Bia sampai garuk-garuk kepala sendiri. Padahal lampu itu sejak dulu ada di sana dan Dira tak pernah protes. "Iya. Sebentar aku sekalian telpon dokter dan suruh pelayan ganti."
Dira mengangguk. Ketika Bia berdiri, ia menahan lengan Bia. "Ada apa lagi?" tanya Bia.
Bia menggeleng. "Aku sudah pake piyama ini dari kita nikah loh. Semua piyamaku banyak yang pink. Kamu gak protes. Kenapa sekarang protes?"
Dira menunduk kemudian sesegukan lagi. "Kamu kok galak sama aku. Aku gak minta aneh-aneh, loh. Tahu gak aku bisa sakit hati," rengeknya.
Bia kaget bukan main karena Dira benar-benar menangis seperti Divan kalau sedang kesal. Lekas Bia memeluk suaminya itu. "Iya, nanti aku ganti, ya?"
Akhirnya Bia bisa menelpon dokter dari telpon di ruang tamu kamarnya. Ia juga meminta pelayan untuk mengganti lampu juga lekas mandi agar tidak menggunakan baju pink lagi.
Dira masih berbaring di tempat tidur sambil sesekali mengerang kesakitan. Ia terus memegang perutnya. Dengan inisiatif sendiri, Bia mengambil plester hangat dan menempelnya di perut Dira.
__ADS_1
"Sudah mendingan?" tanya Bia. Dira mengangguk karena memang rasa sakitnya sedikit berkurang.
Setelah lumayan lama, dokter datang untuk memeriksanya. Anehnya, dokter juga bingung sendiri. Tak ada otot yang keram di perut Dira, panas tubuhnya juga normal, tekanan darah juga. Intinya, Dira baik-baik saja.
"Bagaimana, dok?" tanya Bia.
Dokter menggeleng sambil menunduk. Melihat ekspresi dokter itu, Dira syok sendiri. "Aku mau mati, dok?"
"Tentu tidak, Tuan. Hanya saja keadaan Tuan baik-baik saja. Mungkin agar ditemukan penyebabnya, lebih baik melakukan tes lab di rumah sakit," saran dokter.
Dira menatap Bia yang sama bingungnya. "Mungkin untuk sementara saya berikan resep vitamin saja agar tidak lemas. Bisa saja karena terlalu kelelahan sehingga menyebabkan gejala seperti penyakit palsu," jelas dokter.
"Apa bisa karena stress?" tebak Bia.
Dokter mengangguk. "Apa belakangan ini tuan muda merasa tertekan akan sesuatu?" tanya dokter.
Dira berpikir keras. Rasanya tidak ada. Masalah Cloena sudah selesai, di pabrik juga tak ada masalah yang sulit. Intinya dia tidak stress. Dira menggeleng.
"Kalau begitu, sebaiknya anda melakukan tes lab agar lebih jelas hasil pemeriksaannya," saran dokter.
🍁🍁🍁
Hampir saja daun keramat ketinggalan. 😒
__ADS_1