
Desing peluru melesat menghantam dada A, darah segar mengalir dari sana. Erangan pria bertopeng itu menggema di ruangan kosong itu. Aneh memang, A hanya sendiri tanpa penjagaan dalam markasnya sendiri.
Darren menyeringai lebar, hasrat untuk membunuh A dengan tangannya sendiri telah tercapai. A berusaha bangkit dari kursi tempat ia duduk, dengan langkah terhuyung ia mendekati Darren.
"Apa kau puas?" tanya A sambil mendesis kesakitan.
"Aku belum puas sampai kau benar-benar mati!"
Dor
Dor
Tembakan beruntun menghujam tubuh pria itu, tubuhnya terdorong kebelakang saat peluru kembali menghantam tubuhnya. Sejenak ia bertahan, sebelum akhirnya A roboh.
"Mati kau ... Hahahaha .. Mati kau Badut sialan!"
Darren berteriak kesenangan, ia menembak ke sembarang arah merayakan kemenangannya. Dendamnya terbalaskan, ia bisa menggulingkan white Clown dan mengambil alih kekuasaan milik A.
"Hahahaha ... kau akhirnya mati di tanganku, aku menang A Aku yang menang!"
Marquis membuang sisa cerutu yang ia hisap kelantai, kemudian menginjaknya. Ia berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam saku.
"Paman, sampai kapan kau akan tidur? Aku tidak akan menunggumu lebih lama lagi, aku ada kencan dengan Helena malam ini," keluh Marquis. Langkah pria berambut panjang itu berhenti di samping tubuh A yang tergeletak dilantai.
Darren menghentikan tawanya, ia menetap heran pada Marquis. Dengan siapa pria itu berbicara? mayat A tidak mungkin untuk menjawabnya, pria itu sudah mati.
"Apa yang kau katakan? siapa yang tidur? Dia itu sudah mati, dan kau akan ikut bersamaku, berjaya menguasai markas ini!" teriak Darren dengan percaya diri.
Marquis memasukkan jari telunjuknya ke lubang telinga. Rasanya sungguh malas harus meladeni pria itu. Marquis menoleh, dengan wajah enggan ia melihat Darren.
"Aku sudah berjaya dari dulu, untuk apa kau mengajakku?" tanya Marquis dengan malas.
"Lagi pula siapa yang butuh bantuan dari serangga lemah sepertimu, huss .... pergi sana." Marquis melambaikan tangan untuk mengusir Darren.
Darren memelototkan matanya. Siapa yang dia sebut serangga, beraninya anak bau kencur itu menghinanya seperti itu.
"Kau, Dasar banci laknat! Pergilah ke neraka bersama Badut itu!" teriak Darren geram.
Ia mengangkat pistolnya, mengarahkan tepat ke punggung Marquis Kang.
__ADS_1
"Kau mau menembakku? pistol M1911A1 hanya mampu memuat 7 peluru, kau sudah menghabiskan 3 di badan pria malas ini dan 4 kali tembakan beruntun untuk kesenangan, pistol itu sudah kosong," Ujar Marquis sambil perlahan berjongkok.
Dia menusuk-nusuk pipi punggung A dengan telunjuknya. Darren merasa kesal dengan kecermatan Marquis, ia mengeledah dirinya sendiri untuk menemukan peluru cadangan.
"Kau tidak pernah membawa hal seperti itu, kau tidak pernah punya rencana kedua," lanjut Marquis menjelaskan, beberapa waktu bersama Darren cukup untuk membuat Marquis mengerti pria itu.
Marquis masih sibuk menusuk punggung A, kali ini ia menekankan lebih keras.
"Hey ... Paman ayolah, jangan tidur lagi. Aku sudah bosan bermain dengannya," gumam Marquis.
A mengibaskan tangannya, menepis tangan Marquis yang menganggu waktu istirahatnya.
"Berisik sekali," gumam A.
Darren tidak melihat hal itu, dia tidak bisa melihat pergerakan A karena tertutupi oleh tubuh Marquis.
"Hey cepat selesaikan ini, aku ada kencan. Jika terlambat Helena bisa marah, itu lebih mengerikan daripada eksperimen racunku yang gagal," pinta Marquis.
Seperti yang di katakan Marquis, Darren tidak menemukan peluru cadangan di tubuhnya. Tetapi, dia membawa sebuah pisau tajam.
"Mati kau!" pekik Darren ia mengayunkan tangan yang menggenggam erat pisau, dengan tenang penuh ia hendak menghujamkan benda tajam itu ke arah Marquis.
Namun, sebuah tangan kokoh menangkap pergelangan tangannya. Darren terkejut, tangan itu mencengkeram kuat pergelangan tangan Darren, lalu memelintirnya dengan cepat, hingga pisau yang ada di tangannya terjatuh.
"Ka-kau masih hidup?" tanya Darren dengan wajah pias.
A tersenyum miring dibalik topeng yang masih melekat di wajahnya.
"Kau pikir semudah itu aku mati, hah ... kau tidak pernah berubah Darren, ketamakanmu menutupi akal sehatmu." A melepas tangan Darren, sebuah tendangan keras ia berikan di dada pria bermata biru itu.
"Ah ... Ototku sedikit kaku." A menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, ia kemudian mengayunkan kedua tangannya.
"Akhirnya kau bangun juga Paman, apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Marquis setelah bangkit dari tempat ia berjongkok.
A mendelik tajam pada Marquis.
"Pulang? kau pikir ini sudah selesai, bagaimana tugasmu yang lain. Apa kau sudah menyelesaikannya?"
Marquis menggaruk rambutnya yang tidak gatal, tugas dari A memang belum sepenuhnya selesai. Tetapi ia juga ingin segera pulang untuk berkencan dengan Helena.
__ADS_1
Darren meringis kesakitan memegangi perutnya, ia menatap A dan Marquis secara bergantian.
"Kau menipuku?!" Darren berteriak tak percaya.
"Menipu? bagaimana ini Paman. Aku sekarang menjadi seorang penipu, ini semua gara-gara kau."
"Panggil aku Pama sekali lagi, dan kau akan kehilangan masa depanmu!" tegas A.
Marquis mengangkat tangannya, sambil membuat tangan damai dengan kedua jarinya.
"Apa yang membuatmu begitu percaya diri Darren?"
"Apa kau pikir semua orang sama sepertimu?" A menggeleng kepala dengan senyum sinis di bibirnya.
"Aku hanya sedikit bermain-main denganmu, mewujudkan keinginan terbesar mu untuk membunuhku. Ini cukup melelahkan, walaupun aktingku cukup baik, tapi seperti aku tidak ingin bermain film. Bagaimana menurutmu Marquis?"
"Aku rasa kau akan punya banyak penggemar A, terutama kalangan ibu-ibu," sindir Marquis.
Rahang Darren mengerang, tangannya mengepal kuat. Ia menatap tajam pada A.
"Aku akan benar-benar membunuhmu kali ini, Dasar Badut pasar!"
Darren benar-benar merasa terhina, ternyata selama ini dia masuk dalam permainan A. Semuanya sudah di atur oleh pria itu. Kenapa? kenapa sejak dulu dia tidak pernah bisa menang melawan A?
A menyeringai dari balik topengnya.
"Kemari, aku akan dengan senang hati meladeninya."
A melepas kemeja putih yang ia pakai lalu membuangnya sembarangan, ia juga melepaskan rompi anti peluru dan kantong berisi cairan berwarna merah yang menempel di tubuhnya.
"Haaa ..!"
Brugh.
Satu bogem mentah mendarat di pipi A, membuat pria bertubuh besar itu tertoleh. A melepas topeng yang dipakainya, mata Marquis membeliak terkejut saat pria itu menunjukkan wajahnya. Sudah lama Marquis bersama A, tetapi baru kali ini ia melihat langsung wajah pria itu.
"Kau membenci wajah ini kan!"
Darren mengeratkan giginya, sekali lagi ia melayangkan pukulan pada Aric. Namun, kali ini tinju Darren tertangkap oleh Aric.
__ADS_1
"Ugh ... uhuk!"
Darren mengeluarkan darah dari mulutnya, saat Aric memberikan pukulan di perut. Tak cukup sampai di situ, Aric menghajar Darren tanpa ampun, dia tidak menahan diri sama sekali. Sudah cukup dia diam, sudah cukup selama ini dia membiarkan Darren bertindak sesuka hati.