
Kapan seorang pria diuji keberaniannya? Tentu saat ia harus mengakui kesalahan dan mempertanggungjawabkan. Ujian Dira yang kedua dimulai. Pagi itu, ia sudah membawa Divan dan Bia ke rumah keluarga.
Dira berlutut di depan ayah dan ibunya. Ketika Dira meminta orangtuanya pulang ke Emertown, mereka memang sudah memiliki firasat aneh. Firasat itu terjawab ketika Dira dengan lantang menyatakan, "Aku punya anak dari Bia."
Kedua orangtua Dira sudah beberapa kali harus menepuk jidat karena kelakuan putra keduanya ini. Pertama tiba-tiba bilang akan bertunangan, kedua bilang bahwa pertunangannya batal dan ketiga bilang punya anak. Semua Dira lakukan dalam satu bulan yang sama.
"Ini alasan mengapa Papah tidak ingin kamu masuk dunia itu. Semakin lama sikap kamu ini semakin sulit dikendalikan!" omel Ernesto.
Bagaimana bisa Dira membela
diri. Jika kemarin-kemarin ia masih bisa menentang ayahnya, kali ini tidak. "Katakan pada Papah, bagaimana Papah harus menanggung malu di depan makam Lousiano jika tahu putrinya kamu hamili!"
Maria mengusap punggung Ernesto. Ia tahu Dira pantas dimarahi, tapi terlalu marah malah membuat kesehatan Ernesto memburuk.
"Terlambat, kenapa kamu tidak tanggung jawab dari awal?" tegur Ernesto.
"Aku gak tahu kalau kami punya anak, Pah," jawab Dira sambil masih menunduk menatap kedua tangan yang disimpan di atas lutut.
Bia sama saja gemetarannya. Meski itu Oom Ernesto dan Tante Maria yang selalu lembut padanya, lain masalah jika menghadapi mereka dalam keadaan ini.
"Bia, kenapa kamu gak bilang sama Dira?" tanya Maria lembut seperti biasa.
"Dira ganti nomor hpnya dan Bia takut kalau orang lain minta Bia gugurkan anak ini," jelas Bia.
__ADS_1
Lain dengan kedua orangtuanya, Divan malah asyik tertawa bermain bola di halaman sambil diawasi pelayan. Anak itu memang mandiri, tidak selalu menempel pada ibunya.
Sesekali Divan mengintip ke ruang tamu. Ia berkacak pinggang. "Pasti nakal tuh, jadi dimalain. Ck ... kacian," komentar Divan, lalu kembali bermain bola.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu. Meskipun anak itu menghalangi masa depan kalian, ia tidak salah apapun. Dia punya hak hidup. Justru kalau kalian merasa setelah ia ada masa depan kalian rusak, itu salah. Masa depan kalian rusak karena kesalahan kalian sendiri. Dira sendiri! Perbuatan kamu yang memutuskan kontak begitu saja tidak bisa dimaafkan. Mamah kecewa," nasehat Maria.
"Bukannya Papah yang minta Dira kembalikan hape dan semua fasilitas sampai uang? Bukannya Dira yang memutuskan kontrak," bela Dira.
Ernesto terbatuk karena sadar ia ikut punya salah. Pria itu berpaling sejenak, lalu matanya kembali melotot menatap Dira. "Makanya kamu kalau mau hidup bebas jangan bikin anak!" bentaknya.
Bia dan Dira menunduk. Meski tujuannya tidak ke sana hasilnya tetap saja ke sana. Usia SMA keduanya tahu apa konsekuensi perbuatan mereka, tapi tetap melakukan. Parahnya banyak kasus seperti ini. Sebagian malah tidak sampai menyelesaikan SMA.
"Dira salah, Pah. Karena itu Dira akan tanggungjawab meski terlambat," tegas Dira.
"Dengan?" tanya Ernesto masih bersuara tinggi.
Ernesto menyandarkan punggung di sofa. "Tentu harus. Kamu pikir bisa memberi anakmu status keluarga tanpa menikahi ibunya?"
"Karena itu aku minta restu dari Papah dan Mamah. Aku janji akan menikahi Bia dalam waktu dekat ini," timpal Dira. Dia begitu lantang saat mengucapkannya.
Bibir Bia bergetar. Ia masih bingung menanggapi soal pernikahan ini. Dikhianati membuat ia takut menjalin hubungan meski tahu ada Divan yang mengikat. "Kalau kamu merasa berat, coba dipikirkan dulu."
Belum tuntas benar Bia berkata, Ernesto langsung meralat ucapannya. "Mau terpaksa atau tidak, kalian harus menikah. Jika kalian ingin memedulikan perasaan, lakukan dulu ketika masih sendiri-sendiri. Jika sudah ada anak, fokus kalian adalah perasaan anak. Itu hukuman atas apa yang kalian perbuat!" tekan Ernesto. Bia dan Dira mati kutu dalam sekali hentakan.
__ADS_1
Dira berbalik. Ia dan Bia saling tatap tak lama saling kedip. Ernesto melihat keluar jendela besar di ruangan itu yang menghadap langsung ke halaman. Di sana ada cucunya nampak senang bermain bola. Cucu laki-laki pertamanya yang tentu akan jadi salah satu pemimpin di Kenan Grouph. Ia gagal membesarkan anak dan berharap cucunya akan memperbaiki semua itu.
"Kalian jika akan pulang, pulang sana. Hanya ingat! Sebelum kalian menikah, cucuku akan tinggal di sini. Kalian boleh datang sekali sehari dan hanya dua jam. Jika kalian tidak mau menikah, selama itu kalian tidak akan bertemu dia," tekan Ernesto.
Bia dan Dira terbelalak. "Papah kok gitu? Aku dan Bia orangtuanya. Bagaimana bisa Papah mengambil dia begitu saja," protes Dira.
Ernesto menggeleng. "Kenapa tidak? Kamu tahu aku ini siapa? Aku kenal banyak pejabat yang bisa menjegal jalan kalian kalau sampai berani melawanku. Lagipula aku tidak mengambil, hanya menahan sementara hingga kalian menikah dan jadi orangtua yang baik. Apa salahnya? Itu demi masa depan anak kalian. Terutama kamu Dira! Kamu yang paling Papah tekankan dalam masalah ini. Kalau sampai kamu macam-macam, jangan harap bisa bertemu anakmu juga Bia ke depannya!"
Tidak ada lagi toleransi untuk Dira. Delapan belas tahun anak itu ada dalam genggamannya dan masih bisa dikendalikan. Namun, begitu lepas dia buat banyak masalah. Ini waktunya Ernesto mengendalikan anaknya lagi.
Dira menarik napas panjang. Papahnya bukan lawan seimbang ketika sudah mulai kejam. "Masa satu bulan Dira gak bisa tinggal dengan anak Dira?" tanya Dira dengan wajah memelas.
"Satu minggu!" tekan Ernesto.
Lagi-lagi Bia dan Dira terbelalak. "Maksudnya?" tanya Bia dan Dira bersamaan.
"Jika dalam satu minggu kalian tidak menikah, tidak ada hak asuh anak itu untuk kalian berdua!" tekan Ernesto lagi.
Bia menunduk. "Tapi Oom, Bia yang melahirkan dan merawatnya selama ini. Bagaimana bisa ...." kalimat Bia lagi-lagi terpotong.
Ernesto menggeleng. "Menikah dengan Dira. Mau tidak mau, lakukan!" tekan Ernesto tak bisa lagi di tawar.
🍁🍁🍁
__ADS_1
yang mulai kesel dan kena keluhan darah tinggi, aku ada satu novel yang lumayan geli di wp 😅 judulnya jodoh 50 ribu. Kalau gak ketemu di wp, bisa cari lewat g**gle kok kakak yang masih imut.
Hidup pasukan berdaster!