
Tak mau ambil pusing dengan kedua orangtuanya yang menikmati waktu hanya berdua, Divan menjelajah ruangan untuk menemukan sesuatu yang manis ditemani pengasuhnya. Ia terlihat senang begitu melihat es krim yang mulai dihidangkan untuk para tamu.
"Ekim tokat," serunya. Mata Divan melirik ke kiri dan ke kanan takut orangtuanya tahu. Anak itu menarik tangan pengasuhnya.
"Kakak tantik, Divan makan ekim, ya? Kan sedikit ja boleh," pintanya sambil meratap.
"Tapi gak banyak, Tuan Muda. Nanti Nyonya Maria marah," nasehatnya.
Divan mengangguk. Ia mendekati stan es krim dan mengambil satu gelas es krim. "Makana halus duduk. Bedili bikin peyut atit," ucapnya. Pelayan itu langsung menuntun Divan menuju kursi kosong tak jauh dari stan. Divan mulai memakan es krimnya.
Mata Divan bergerak ke sana ke sini. Ia melihat ibu dan ayahnya yang sedang berkeliling menyalami tamu. Bibirnya tersenyum. "Cibuk aja. Divan jadi makan ekim, kan," batinnya sambil tersenyun licik.
Tak lama terdengar suara sendok berdenting di gelasnya. "Abis," pikirnya. Ia menatap pengasuhnya. "Mau agi, boleh?" tanyanya.
Pengasuh Divan menggeleng. Jelas itu membuat Divan kecewa. Ia juga tak bisa merengek karena ujungnya akan kena marah Dira. "Papah otot-otot cerem," keluhnya.
Sejauh mata memandang, ia melihat balon berwarna putih. Mendadak otak kreatifnya bekerja. "Kaka tantik, Divan mau balon kalang, ya?" pintanya sambil menunjuk balon di ujung ruangan yang sangat jauh.
"Ambil sama-sama?" tawar Pengasuhnya.
Divan menggeleng. "Kaki Divan capek. Jalan da bisa agi kalang. Halus itilaat," keluhnya sambil pura-pura memijiti kaki.
__ADS_1
"Tuan muda harus menunggu di sini dulu, ya? Jangan kemana-mana," nasehat Pengasuh Divan. Anak itu mengangguk.
Tak lama pengasuhnya berjalan pergi. Di saat bersamaan Divan turun dari kursi dan berjalan ke stan es krim.
Ada cup es krim kecil di atas meja yang khusus disedikan anak kecil dan hanya berisi satu skup. Karena terburu-buru, Divan mengambilnya dan langsung ia lahap es krim di dalamnya. "Dingin," keluhnya, tapi tetap ditelan lalu berlari ke kursi tadi.
Nakalnya, belum puas sekali saja berperilaku seperti itu, Divan lagi-lagi mengelabui pengasuhnya. Ia minta dibawakan kue, minum hingga sebuah bunga hanya agar pengasuhnya pergi dan ia bisa diam-diam makan es krim dalam cup.
🍁🍁🍁
Sementara itu orang yang tidak tahu pernikahan tersebut terjadi, sedang berkacak pinggang di kamarnya. "Mr. Pier menyuruhku diam?" tanya Cloe tak percaya. Suaranya begitu tinggi hingga memecah keheningan di kamar itu.
"Katanya kamu jangan macam-macam dengan keluarga Dira," tekan Cynthia.
Cynthia menggeleng. "Aku sudah ke kediaman Dira di Emertown dan kosong. Katanya mereka sedang kumpul keluarga rutin dan kata pelayan biasa kembali sekitar satu minggu," timpal Cynthia.
Cloe terbelalak. "Kumpul keluarga?"
"Iya, keluarga Kenan sering mengadakan acara kumpul bersama dalam waktu tertentu."
Kali ini tangan Cloe memukul tempat tidurnya. "Pastikan sepulang Dira dari sana, aku harus menemuinya dan mengambil hatinya lagi. Aku gak bisa lepasin dia."
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama seseorang tertulis di sana. Cloena memutar bola matanya. "Ada apa?" tanyanya lagi-lagi dengan nada membentak.
"Aku sudah kirim apa yang kamu mau," ucap orang itu sama kerasnya.
Cloena tersenyum puas. "Ingat! Selama Dira Kenan tak kembali pada genggamanku, artinya kamu yang akan memenuhi keperluanku," tekan Cloe.
Orang itu mendengus. "Semakin hari kau semakin gila saja," ledek orang itu. Dia memandang langit yang sudah hitam dari kaca apartemennya. Ruangan mewah menjadi tempat ia bernaung. Dari atas sana bisa jelas melihat pemandangan Heren hingga kejauhan.
"Sayang, siapa yang telpon?" suara wanita terdengar oleh Cloe lewat telpon. Orang itu mengangkat tangan tanda agar wanita dipelukannya diam.
Cloe tertawa. "Dasar Mbak jingan. Kamu masih saja punya peliharaan? Kau memang tak kapok meski papahmu tahu."
Orang itu tertawa puas sekali. "Kenapa? Kau cemburu?" ledeknya.
Cloena memeletkan lidah. "Jangan membuatku jijik. Kau bukan apa-apa dibandingkan Dira. Bantu aku mencari keberadaan pria itu, kecuali kamu ingin terus membiayai hidupku."
"Jangan macam-macam kau. Tahu sendiri keluarga Kenan itu siapa. Sepertinya priamu itu sudah kembali pada keluarganya. Jejaknya sama sekali tak terbaca. Lebih baik main dengan pelan," nasehatnya.
"Aku tak peduli. Aku hanya ingin Dira." Cloe berdiri di sisi gorden. Ia memilin kain penutup jendela itu. "Ingat jangan macam-macam padaku jika kau tidak ingin kita hancur bersama. Satu-satunya cara melepaskan diri dariku hanya dengan membantuku mendapatkan Dira kembali," tekan Cloe.
Telpon itu berakhir. Cloe memberikan ponselnya pada Cynthia. Lain dengan Cloe yang santai saja, justru Cynthia malah merasa ketakutan sendiri. "Cloe, hentikan permainanmu. Lagipula penghasilanmu selama ini lebih dari cukup. Dia bukan pria biasa. Dia bisa menghancurkanmu dengan mudah," nasehat Cynthia.
__ADS_1
Cloe memelototinya. "Diamkau! Jika masih ingin hidup enak, jangan ikut campur!"
🍁🍁🍁