Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pelindung Yang Tuhan Pernah Kirim


__ADS_3

"Bi, main sono!" saran salah satu teman satu kelasnya ketika pelajaran olahraga dimulai. Bia dengan tegas menggeleng. Dia suka semua pelajaran kecuali olahraga.


"Gimana mau turun berat badan kalau gak mau gerak, Bi!" sewot teman lainnya.


Tangan Bia meremas kaosnya. Dia menghadap ke samping kanan, ada Dira sedang duduk lumayan jauh darinya di lapangan sepak bola laki-laki. Pria itu sedang berbincang mengatur strategi. Ingin sekali ia memanggil Dira untuk mendapat pertolongan.


"Tim kita kurang satu, nih! Main cepetan!"


Terus didesak seperti itu, perasaan Bia semakin tidak karuan. "Aku gak bisa main bola, takut." Bia mencoba menjelaskan duduk permasalahannya. Buka hanya karena mager, tapi main bola adalah sesuatu yang menakutkan untuknya.


Siswi satu kelasnya berdecak. Mereka menatap Bia dengan tajam. "Emang bola bisa makan kamu, Bi? Jangan berlebihan, deh! Sok banget!" sindir salah satu dari mereka.


Bia menunduk. Tak lama ia berpaling ke arah lapangan sepak bola laki-laki. Dira masih bermain. Wajahnya seakan berkata, "Dir, tolong aku!" Namun, Dira masih asyik main hingga tak sekalipun menghadap ke arah Bia.


"Kebiasaan, ya? Kalau kita ngapa-ngapain pasti mau ngadu sama cowoknya. Mentang-mentang!"


Seperti dihujam belati, Bia meremas kaos olahraganya. "Iya, Bia mau main. Jadi aku masuk tim mana?" Bia mulai berdiri. Mungkin memang lebih baik ia mencoba.


Permainan sepak bola dimulai. Bia mendapat bagian dekat gawang untuk mengamankan. Matahari menyinari seluruh lapangan dengan terangnya. Suara para pria yang menikmati permainan membahana hingga ke lapangan wanita. Sementara permainan sepak bola wanita lebih banyak dihiasi suara teriakan.


Bola digiring mendekati gawang tim Bia. Dengan cepat Bia mencoba menghalangi. Ia mencoba merebut bola itu. Namun gagal karena yang membawa bola begitu lincah dan berhasil mengelabuinya. Begitu bola ditendang langsung masuk gawang.


"Yang bener mainnya donk, Bi!" bentak salah satu anggota timnya. Bia tersentak. "Ia gak becus nih si Bia!" timpal yang lain.


Jadinya Bia bingung sendiri. Ia hanya bagian pengaman, sementara yang harus menjaga gawang bagian kiper. Kenapa pas kebobolan malah Bia yang dimarahi?


Permainan masih berlanjut. Lucunya selalu sayap lapangan yang Bia jaga menjadi sasaran. Siswi setimnya tidak ada yang membantu meski tahu Bia kesulitan. Begitu gol lagi, Bia yang disalahkan. Padahal kipernya terlihat leha-leha.


"Bikin sial saja kamu di tim ini, Bi!" Lama kelamaan Bia merasa aneh. Sepertinya mereka mengajak Bia bermain hanya agar bisa merundung Bia lagi.

__ADS_1


Akhirnya Bia bisa merebut bola. Ia menggiring bola ke depan. Anggota setimnya tak bisa diandalkan. Mereka malah menyuruh Bia menggiring bola sendirian. Hingga dekat dengan gawang, Bia mencoba menendang bola. Namun, belum sempat ia tendang Bia malah berteriak kesakitan.


Gadis itu duduk di atas rumput lapangan sambil memegang betisnya yang sakit. Salah satu siswi yang ingin merebut bola menendang kakinya dengan keras hingga rasanya sakit. "Aduh, kakiku!" pekik Bia.


Tak ada yang membantunya saat itu. Mereka hanya memandang Bia dengan tatapan puas. "Namanya juga main bola, celaka dikit normal!" ucap enteng salah satu siswi.


Bia menatap kakinya. Lebam muncul di sana, begitu ungu. Bia tahu ini bukan waktunya merengek karena ia malah akan semakin diledek. Bia mencoba bangkit, tapi rasa sakit tak bisa tertahankan. Ia malah kembali tumbang.


"Ayok main lagi! Si Bia tinggalin saja! Berlebihan dia!" Mereka meninggalkan Bia yang duduk kesakitan di pinggir lapangan. Bia memijiti kakinya.


Sakit sekali hingga ia tak bisa menahannya lagi dan menangis. "Bia!" panggil suara yang ia kenal. Sayu dan Ana berlari ke arahnya. Kedua wanita itu baru kembali latihan renang.


Bia mengangkat wajahnya. Mata Bia berkaca-kaca. "Kamu kenapa?" tanya Sayu. Ana yang fokus ke tangan Bia yang memegang kaki langsung terbelalak.


"Kamu kenapa ini, Bi? Lebam banget!" Ana mengusap kaki Bia.


Sayu geleng-geleng kepala. "Yang mana orang yang nendang? Biar aku kasih pelajaran," saran Sayu.


Bia menggeleng. "Dia gak sengaja, kok. Itu cuman lagi main," tolak Bia.


"Gak mungkin, Bi! Teman sekelas kamu itu sinting semua. Pasti sengaja ini. Gak mungkin gak sengaja." Ana berjalan ke tengah lapangan.


"Heh! Siapa yang nendang Bia tadi? Sini hadapin aku! Biar ku lindes sekalian!" teriak Ana hingga para siswi itu berhenti main bola. Tak satu pun dari mereka mengaku.


"Namanya juga lagi main, An. Kalau celaka pantas," timpal salah satu dari mereka. Sayu menghampiri orang yang menimpali Ana dan menarik kemejanya. "Gak yakin aku! Pasti kalian rencanain dari awal!" bentak Sayu. Orang itu gemetaran ketika menghadapi dua wanita itu.


Mendengar ada keramaian di lapangan perempuan, akhirnya Dira sadar. Ia melihat Sayu dan Ana yang sudah siap menghadapi siswi satu kelasnya. Dira berlari, takutnya kedua wanita itu baku hantam.


"Kenapa?" tanya Dira. Mendapati Dira datang para siswi langsung gemetaran.

__ADS_1


"****** kalian! Cowoknya datang!" Sayu memeletkan lidah.


"Kenapa?" tanya Dira yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia berbalik dan melihat Bia masih duduk memegangi kakinya. Melihat lebam di kaki Bia, Dira langsung panik. Ia berjongkok di depan Bia. "Kenapa ini? Siapa yang bikin kamu begini?" interogasi Dira.


Bia malah menggeleng. Itu justru membuat Dira murka. Pria itu bangkit dan berdiri di depan siswi satu kelasnya. "Kalau sampai aku tahu siapa yang bikin kaki Bia lebam, besok jangan harap dia masih di sini!" ancam Dira.


Dibanding menghukum mereka dulu, Dira lebih khawatir dengan Bia. Ia gendong gadis itu.


"Turunin, Dir! Aku berat!" pinta Bia. Dira menggeleng. Ia terus menggendong Bia menuju UKS. Sayu dan Ana melihat dari kejauhan.


"Dir, aku berat loh." Bia menarik pelan kerah kaos olahraga Dira.


"Gendong kamu ke tempat tidur saja bisa, masa ke UKS gak." Dira mengecup kening Bia. "Dari tadi Dira sudah bilang jangan ikut main. Kenapa malah ikutan?"


"Habis mereka maksa dan nyindir Bia." Lengan Bia melingkar di leher Dira. Perjalanan masih jauh ke UKS tapi Dira sama sekali tak terlihat kesulitan.


"Dira sudah bilang kalau mereka begitu, kamu kabur saja samperin aku. Kenapa malah diem saja?"


Kali ini Bia menunduk. Ia menyesal dengan kebodohannya. "Maafkan Bia ya Dira?"


Dira mengangguk. "Lain kali jangan diulang. Aku gak suka lihat kamu sakit. Tubuh kamu kan milik aku. Kalau sampai sakit, aku juga merasa."


Bia menenggelamkan wajah di lekukan leher Dira. Keduanya menjadi pemandangan paling romantis siang itu. Dira benar menggendong Bia sampai UKS. Dia juga menjaga Bia selama diobati.


🍁🍁🍁


sudah flashbacknya sampe sini saja. Episode selanjutnya kembali lagi ke awal. Mau ngiklan bentar gak apa-apa ya? Ini loh siapa yang mau baca "Bride of the heir - pengantin sang pewaris tahta" di WP?


follow saja, WPKU : elara_murako

__ADS_1


__ADS_2