
"Dir, aku minta maaf soal Divan," ucap Hugo menyesal. Tadinya ia hanya berniat memamerkan seberapa lucu anak yang bersamanya. Tidak ia sangka akan memberikan efek sebesar ini.
Mendengar itu, Dira malah tertawa. "Apanya? Kalau tidak begini agensi malah tidak akan melepaskan aku. Kau tahu sudah sangat lama aku ingin memutuskan kontrak dengan R ever. Ini jalannya."
Hugo menunduk. Tetap saja itu tidak menghapus rasa bersalahnya. Spekulasi publik justru semakin liar. Hujatan untuk Dira dan Bia muncul di mana-mana. "Cloena semakin sering mengangguku lewat Cynthia. Ia mengancam tentang video kalian berdua yang akan ia sebar," cerita Hugo.
Mereka duduk di kursi yang mengadap ke kolam renang. "Dia juga mengancamku dengan cara yang sama. Aku tak peduli. Semakin lama skandal ini hilang dan berganti menjadi skandal lainnya."
Hugo tertawa. "Tiga tahun di industri ini kau sudah paham betul. Hanya saja ...." Hugo melirik ke belakang. Ia lihat Bia sedang menemani Divan bermain puzzle angka. "Apa Bia baik-baik saja dengan komentar netizen?" tanya Hugo berbisik. Ia melihat banyak komentar tentang Bia, dimulai dari pelakor, janda genit sampai wanita kotor.
Dira menggeleng. "Ponselnya aku sita dalam lemari. Saluran televisi aku matikan. Kami berdua hidup terputus dari dunia luar. Kemarin Mr. Pier menelpon. Setelah itu aku tidak aktifkan lagi ponsel. Jika Matteo ingin memberi informasi, ia pasti langsung datang," jelas Dira.
"Jadi kau benar akan meninggalkan Heren?" tanya Hugo lagi memastikan. Dira mengangguk dengan yakin.
"Papahku juga sudah melarang. Mau bagaimana lagi, tempat sembunyi paling aman hanya ada di kampung halaman. Mungkin aku akan kembali setelah semua aman, tapi untuk bekerja di Black Tower, bukan jadi penyanyi."
Hugo menepuk pundak Dira. "Apapun itu keputusanmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik. Kau sebenarnya orang yang baik, mau menolong siapa pun. Aku yakin jalanmu akan terbuka."
Gelas jus milik Dira sudah habis setengahnya. "Kapan kau pergi?" tanya Hugo.
Dira berpikir sejenak. "Mungkin tiga hari lagi. Besok papahku punya rencana tak tahu apa. Katanya sebelum aku beri klarifikasi dan pergi ada baiknya menegaskan status Divan. Syukur akta kelahirannya yang baru sudah keluar."
Hugo mengangguk. Dira harus memberikan tiga bukti tes DNA untuk mendaftarkan namanya sebagai ayah Divan dan bersanding dengan Bia di lembar bukti kelahiran itu.
Air kolam renang memperlihatkan riak karena tertiup angin. Hugo mengembuskan napas. Ia melihat atap dan sekeliling halaman belakang rumah itu. "Sayang sekali, rumah sebesar ini harus ditinggalkan."
__ADS_1
Dira terkekeh. "Tak apa. Lagipula aku juga punya rumah baru di Emertown yang tak kalah dari rumah ini." Dira menenangkan diri meski ia sendiri merasa berat. Beberapa bulan di sini ia sudah merasa nyaman. Sarapan dengan keluarga kecilnya, pergi kerja lalu jika pulang lebih awal akan bermain dengan Divan di halaman.
"Paling penting bagiku ada mereka berdua ke mana aku pergi. Aku gak mau kehilangan Bia lagi atau dipisahkan darinya."
Dira tidak salah, Hugo bisa melihat seberapa besar perasaan Dira. Dalam mata pria itu tersirat tanggung jawab seorang suami dan kasih sayang seorang ayah, jauh berbeda dengan Dira yang dulu kala.
"Aku akan datang sesekali menengok kalian. Mudah-mudahan semua lekas berlalu," doa Hugo. Dira mengangguk dengan tegas. "Aaron juga mengucap salam. Ia tak bisa mengantarmu pergi. Jadwalnya semakin padat setelah kepergianmu."
Banyak brand yang gerak cepat mencari artis pria lain setelah skandal Dira. Mereka tak ingin kena dampak kemarahan masyarakat pada Dira.
...🍁🍁🍁...
"Divan tidur?" tanya Dira. Bia mengangguk. Ia tutup pintu kamar dan berjalan menuju tempat tidur. Satu per satu kakinya naik ke atas ranjang dengan seprai putih dan rangka kayu coklat muda.
Begitu Bia terbaring di sampingnya, Dira mengusap rambut wanita itu. "Besok Divan akan diajak keluar oleh Mamah dan Papah, tak tahu mau kemana. Tak apa?" tanya Dira meminta persetujuan.
"Aku sebenarnya bosan tak bisa main HP juga menonton televisi. Hanya saja aku takut membaca komentar di luar sana," keluh Bia sambil menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.
Dira menarik selimut Bia. Ia kecup kening istrinya. "Kalau bosan ayok main. Ini jadwal kita," ajak Dira mencairkan suasana.
Bia mengangguk saja. Ia pasrah saat Dira mulai menindih tubuhnya. Menikmati sentuhan bibir masing-masing, mereka tenggelam dalam irama kepekaan. Prelude diantar melalui sentuhan tiga jari dalam lubang pintu. Bergerak-gerak ia di sana hingga pemilik gagang pintu mulai merasakan seluruh tubuhnya panas seperti ditempeli koyo cap cabe.
"Kamu seperti ini juga gak sih sama perempuan itu?" tanya Bia, masih terusik pikirannya oleh pengakuan Dira tentang hubungan Dira dan Cloena.
Dira mengecup kening Bia. "Sssttt ... hanya kita berdua sekarang. Fokuslah. Sekarang dan nanti aku hanya mau kamu."
__ADS_1
Dira melepas kaos putihnya. Begitu mudah ia menarik dress Bia satu per satu bagian hingga terlepas sudah kemasan dan bersisa makanan di dalamnya siap dinikmati. "Aku mau kamu," ucap Dira lagi. Kecupan Dira di leher Bia semakin menambah romantisme malam itu.
"Dir," panggil Bia ketika kurir Dira sudah masuk pintu untuk mengirim paket.
"Hmm," jawab Dira sambil mengejapkan mata beberapa kali merasakan dinding rumah tempat kurirnya datang berkunjung.
"Apa kamu puas dengan aku?" tanya Bia mendadak tak percaya diri. Hujatan itu, kecantikan Cloena, kadang membuat Bia ragu Dira akan bertahan. "Aarggh," pekik Bia ketika kurir Dira berani menerobos hingga bagasi.
"Kalau gak puas, aku gak akan minta lagi," ucap Dira dengan suara serak akibat menahan kelegaan saat paket yang ia antar tiba dalam berangkas pemilik rumah.
Bia lebih lagi. Ia sampai berpegangan pada punggung Dira yang berotot kekar. "Dua," hitung Dira ketika mulai masuk lagi melalui teras untuk mengantar paket selanjutnya.
"Dir ... aku ... takut ... bikin kamu ... gak puas," keluh Bia. Ia memeluk lengan Dira saat tubuhnya Dira miringkan.
Dira mengecup tengkuk Bia. Perempuan itu membelakanginya dan Dira hanya menghadap punggung Bia. "Memang kamu pikir pernikahan hanya sebatas hubungan di atas tempat tidur? Lebih dari itu sayang, aku suka masakanmu," ucap Dira sambil mendorong kurir masuk lalu menariknya keluar.
"Aku suka sikapmu." Lagi, Dira mendorong kurirnya dan ia tarik. Bia meremas bantal saking gemasnya. "Aku suka semuanya." Dorongan kali ini membuat kurir sekali lagi masuk ke dalam berangkas dan menyimpan paket ke dua di sana.
Dira meraih tubuh Bia dan menggendongnya. Ia menyeruput satu per satu buah mangga milik Bia. "Tiga," ucapnya sambil mendorong kembali kurir dengan posisi pintu ada di atas.
"Ini perasaan kamu doank yang keenakan!" protes Bia.
🍁🍁🍁
Divan bangun membuka matanya. Ia melirik kanan dan kiri. "Hmm ... itung uang agi," keluhnya. Tak mau habis pikir, ia raih boneka pororonya kemudian dia peluk erat. "Bobok agi aja, ah."
__ADS_1
🍁🍁🍁