Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Membuat Keputusan


__ADS_3

"Kenapa gak bilang sama kami, Bi. Kalau tahu, biar aku seret dia ke kamu," saran Kelvin.


Bia menggeleng. "Aku takut," timpal Bia membuat semua orang heran.


"Aku takut semua orang memintaku menggugurkannya. Demi alasan masa depan atau lainnya. Gak akan ada yang bisa mengerti bagaimana perasaan Bia melihat bayi itu bergerak di dalam perut. Dia begitu kecil dan lucu. Bia hanya ikuti insting Bia sebagai seorang ibu, kalau bukan aku siapa yang akan menerima dia di dunia ini. Karena itu Bia putuskan merawatnya meski harus sendiri," jelas Bia.


Tak seorang pun di sana yang tidak meneteskan air mata setelah mendengar Bia mengucapkan semua itu.


"Kamu benar-benar hebat, Bi. Kalau aku di posisi itu, aku pasti sudah memilih bunuh diri. Kamu, sampai akhir masih bertahan dan membesarkan anak itu," puji Sayu.


Bia mendongak. Ia tersenyum melihat respon dari semua orang di sana yang bisa menghargai keputusannya.


"Percuma menghukum Dira karena kesalahannya sekarang dan juga menyalahkan keputusan Bia. Paling penting, bagaimana kalian berdua ke depannya. Ini bukan lagi masalah kehormatan Bia yang Dira renggut. Kalian berdua punya anak yang akan semakin besar dan dewasa. Bagaimana kalian menanggapi waktu yang akan datang?" Bu Suli kembali memberikan pendapatnya.


Dira mengangguk. "Sementara ini aku minta bantuan Ibu untuk membiarkan Bia tinggal di sini. Besok atau lusa aku akan membicarakan masalah ini dengan keluargaku juga agensi. Yang jelas, diterima atau ditolak, aku tetap akan bertanggung jawab dengan menikahi Bia," tegas Dira.


"Masalahnya Bia mau apa gak nerima kamu yang sudah nyakitin dia sebesar itu?" sindir Ezra.


Dira menatap Bia dengan penuh harapan. "Aku juga gak tahu. Aku bingung. Kalau hanya karena terpaksa lebih baik tak usah," jawab Bia.


Dira mendengus. "Memang wajah ini terlihat dipaksa?" tanya Dira.

__ADS_1


"Kalau bukan karena Divan, kamu gak mungkin ninggalin perempuan itu," lawan Bia. Ezra dan Kelvin saling tatap lalu tersenyum. Ke dua makhluk di depannya sudah lama tidak berdebat sengit.


"Aku ninggalin dia sebelum tahu tentang Divan," celetuk Dira.


Semua yang ada di sana terbelalak. "Gak salah, Dir? Kepentok di mana?" sindir Sayu.


Dira menyandarkan punggungnya ke sofa coklat ruangan itu. Matanya menatap lampu dengan rangka persegi yang menghiasi langit-langit. Bia masih mengedipkan mata, menunggu jawab Dira.


"Dia menjelekkan nenek dan mamah di belakangku," jelas Dira.


"Menjelekkan gimana?" Bia penasaran.


Bia mengerucutkan bibirnya. "Nyebelin banget dia! Belum pernah kena tabok, ya?" ancamnya dengan suara tinggi.


Dira nyengir sambil melirik Bia. "Memang berani? Kemarin saja nangis kayak bocah," ledek Dira.


Bia mencubitnya hingga Dira berteriak kesakitan. "Kemarin aku salah perhitungan, Nyet! Kalau tahu dia ganas begitu, aku bawa balok saja." Bia seakan yakin dengan perhitungannya kini.


Lain dengan semua orang yang ada di sana. "Gak perlu kamu ngelawan dia. Apa gunanya Dira. Dia yang bawa, dia juga yang tanggung jawab menghempaskan," ide Ezra.


Bibir Dira komat-kamit mendengar ucapan Ezra. "Cloena itu licik. Tiga tahun berhubungan dengan dia, aku tahu jelas wataknya. Semua orang yang bekerja dengannya sering mendapat perlakuan kasar. Tak satu pun berani mengadu, karena pasti kalah."

__ADS_1


Sayu mendengus. "Belum dapat sialnya mungkin," timpal Sayu.


"Lalu dengan begitu kamu mau biarin dia mengincar Bia dan anak kamu?" tanya Ana.


Dira menggeleng. "Sementara kita biarkan Cloe dulu. Lebih dari itu, status Divan harus diperjuangkan. Akta kelahirannya hanya tertulis nama Bia."


Apa yang Dira katakan ada benarnya. Tanpa status di akta kelahiran, Divan tak bisa masuk dalam urutan pewaris keluarga Kenan. Dira melirik ke arah Bia. "Kamu siap gak? Ke depannya ini akan lebih sulit." Tangan Dira mengusap rambut Bia.


"Sulit buat kamu, hidupku dengan Divan masih tenang-tenang saja. Sebelum kamu datang dan bawa wanita itu juga," sindir Bia.


Dira rasanya seperti tertusuk duri halus bambu. "Masa aku harus gerak sendiri?"


"Kan kamu yang bikin masalahnya sendiri," ucap Ezra dan Kelvin berbarengan. Mereka tertawa melihat wajah Dira yang kalah telak.


Malam semakin larut. Fokus mereka juga mulai terpengaruhi rasa kantuk. "Lebih baik kalian cepat memberi tahu Maria dan Ernesto. Mereka harus tahu tentang Divan. kamu juga Dira, ibu mau kamu gak berubah," nasehat Bu Suli.


Pandangan mata Dira berpindah pada Bia. Ia pegang tangan ibu dari anaknya itu. "Aku sudah kapok. Mulai sekarang biar aku bayar semuanya, meski banyak hal yang harus aku tinggalkan. Aku bukan lagi Dira Kenan, tapi ayahnya Divan."


🍁🍁🍁


💃💃💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2