Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Ketegasan Lily


__ADS_3

Lily tersenyum tipis, ia begitu tenang menghadapi Ibu dan Adik angkatnya itu.


"Bukankah seingatku, kalian yang mengusirku, dan Tuan Wiguna sendiri yang menghapus keberadaanku dari keluarga kalian!" Sentak Lily geram. Ia menggenggam erat cangkir yang ada di tangannya.


"Tidak! Saat itu aku dan Ayahmu hanya terlalu emosi. Bagaimana mungkin dia tidak menggakuimu sebagai putrinya?" bantah Ana cepat.


"Ayahmu hanya sedang bingung saja, sekarang dia sudah tenang. Lagi pula waktu sudah lama, kau biaskan membiarkan hal-hal yang terjadi berlalu. Demi apa yang telah kami lakukan untuk merawatmu selama bertahun-tahun, dari kau bayi sampai sebesar ini. Keluarga Wigunalah yang membesarkan mu", Mata Ana berkaca-kaca, ia berharap Lily bisa luluh dengan ucapannya.


"Berlalu ya? Baiklah."


"Iya Nak, tidak baik menyimpan dendam."


Ana dan Cindy saling melempar senyum, merasakan angin segar rencana mereka. Lily mengangkat kedua alisnya, melihat kedua perempuan itu yang tersenyum bahagia.


Lily meletakkan cangkir tehnya, ia kemudian bangkit dari duduknya.


"Faktanya keluarga Wiguna memang sudah merawatku sejak kecil, memberi makan, pendidikan, tempat tinggal dan kasih sayang."


Senyum kemenangan semakin tersungging


lebar di wajah Ana, dadanya membusung, dagunya semakin naik. Rencananya berhasil, Lily pasti akan menerima mereka lagi, wanita itu begitu bodoh dan gampang sekali merasa iba pada orang lain.


"Tapi seingatku, aku juga tidak gratis hidup di keluarga Wiguna. Aku berkerja paruh waktu saat aku kuliah, aku tidak pernah menghabiskan lebih dari 20 ribu untuk uang makanku dalam sehari, aku membantu mengerjakan semua pekerjaan rumah kalian, bahkan tugas sekolah Cindy juga aku yang mengerjakannya. Saat aku berkerja, aku juga memberikan gajiku untuk kalian."


"Setelah kalian mengusir dan memutuskan hubungan denganku, sekarang kalian datang dan mengatakan biarkan semua berlalu. Apa yang membuat Anda yakin saya akan percaya? Setelah bertahun-tahun berlalu, kalian datang setelah melihatku seperti ini. Apa kalian ingin mengemis uang dariku?


Hemp ... Aku katakan pada kalian, berhentilah bermimpi!"

__ADS_1


Mata Ana melotot mendengar perkataan Lily, ia tidak menyangka wanita itu akan seperti ini.


"Jaga mulutmu! Aku ibumu, kau sungguh tega mengatakan hal seperti itu padaku," ujar Ana dengan wajah sendu, air matanya berderai membasahi pipi. Cindy merangkul pundak sang Ibu.


"Kau! Dasar wanita tidak tahu malu. Aku tahu kau cuma wanita simpanan, Kami dengan datang dengan baik-baik, tapi kau malah berkata kami ingin mengemis padamu. Hem ... baru jadi sugar baby aja sombong!" tukas Cindy.


Lily menatap kedua wanita itu dengan senyum mengejek, ia tidak akan lagi termakan air mata buaya ibu angkatnya.


"Nyonya Wiguna, Anda tidak perlu bersandiwara di sini. Suamiku tidak suka dengan pertunjukan seperti itu, sebaiknya Anda pulang sebelum saya memanggil orang untuk menyeret kalian berdua." Lily berdiri dengan angkuhnya, dia melipat kedua tangannya sambil menatap dingin pada kedua wanita itu.


Ana mengusap air matanya dengan kasar, ia menatap geram pada Lily.


"Kamu jangan keterlaluan, Lily!" teriak Ana.


"Keterlaluan? Anda yang mengusir seorang wanita hamil saja tidak keterlaluan.Tapi aku keterlaluan karena mengusir dua penipu dari rumahku sendiri. Logika yang bagus, Nyonya," Sindir Lily.


"Tidak perlu berteriak, kami bisa pulang sendiri." Cindy bangkit dari duduknya, ia menarik lengan sang Ibu untuk ikut berdiri.


"Ingat, kau akan menyesal!" Ana menegangkan telunjuknya pada Lily, wanita itu menatap Lily dengan penuh amarah.


Lily hanya melihat kedua perempuan itu dengan wajah datar. Dua orang laki-laki bertubuh tegap datang, Lily memerintahkan kedua orang itu untuk mengantarkan kedua tamunya sampai ke luar mansion.


Setelah dua orang itu keluar, Lily terduduk lemas. Ia mengambil nafas dalam, sambil menatap langit-langit.


"Apakah yang aku lakukan ini benar? ya Tuhan, apa aku sudah keterlaluan pada merasa?" Lily memijit pelipisnya.


.

__ADS_1


.


.


.


.


"Dasar wanita j***ng, bukannya bersyukur aku sudah mengakuinya sebagai anak malah bilang aku mau minta uang dia, Dasar sombong!" teriak Ana.


Keduanya terus menggerutu, dan mengeluarkan sumpah serapah untuk Lily. Ana sudah menurunkan egonya untuk minta maaf pada Lily, jika bukan karena Lily lebih kaya dari dia sekarang. Ana tidak sudi bertemu dengan anak angkatnya itu lagi, tetapi melihat rumah dan perhiasan yang di pakai Lily. Ana yakin dia memiliki suami yang sangat kaya raya.


"Nggak usah pegang-pegang!" sentak Cindy pada dua penjaga yang mengantarkan mereka.


Kedua laki-laki bertubuh besar itu mengerutkan keningnya, mereka bahkan tidak menyentuhnya, bagian bisa di bilang pegang-pegang?


Ana segera masuk mobil di ikuti oleh Cindy, gadis itu menutup pintu mobil dengan keras.


"Jangan keras-keras, nanti mobilnya rusak gimana?" tegur Ana


"Cindy sebel, Bu. Lily sombong banget sih sekarang.Terus gimana, Bu? rencana kita buat morotin Lily gagal."


"Nggak tau, ibu juga bingung, kota pikirkan di rumah aja."


Cindy mengangguk, kemudian mulai menyalakan mesin mobil. Seorang wanita memperhatikan mereka dari dalam mobil, dia tersenyum kecil.


"Aku bisa memanfaatkan mereka," gumamnya saat melihat mobil Ana keluar dari masion Aric.

__ADS_1


__ADS_2