Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Menempuh Hidup Baru


__ADS_3

Perjalan lima jam dari Emertown ke Heren harus dilalui Bia dan Divan. Sebelum pergi, mereka pamitan dengan keluarga Kenan yang tinggal di Emertown juga pada Mrs. Carol dan Melvi. Berat pasti, apalagi Bia belum pernah menginjak Heren sebelumnya. Ia hanya mendengar betapa megahnya kota itu.


Divan tak hentinya bercerita. Ia mengingat hampir setiap detail kota itu saat pergi dengan Mrs. Carol dulu. "Ada lumah tigi. Mallna kaca cemua. Divan ke cini. Sama nenek," ucapnya saat memasuki batas kota Heren.


Jauh berbeda dengan Emertown. Tak ada bangunan bergaya klasik di sini. Hanya ada gedung-gedung bertingkat, perumahan mewah dan ruko-ruko. Heren punya kereta cepat dan juga mesin-mesin digital canggih. Robot-robot mulai dipekerjakan di restoran hingga perkantoran untuk membantu manusia.


Jalanan di kota ini terhitung lebar karena padatnya kendaraan. Bahkan jalanan layang dibangun agar tak bentrok dengan aktivitas perekonomian di bawahnya.


Mata Bia terbelalak. Kota ini memang sangat kontras dengan Emertown. "Lumah tigi!" tunjuk Divan pada bangunan tertinggi di kota itu.


"Itu kantor Kakek," timpal Dira sambil masih menyetir.


Bia berdecak kagum. "Iya kah? Itu kantor Kenan grouph yang disebut Black Tower?" tanya Bia. Gedung itu memang berwarna hitam. Dira mengangguk.


"Cantik, ya?" Mata Bia berbinar melihat gedung itu bersinar ketika diantara gelapnya malam. Mobil Dira melewati jalanan kota. Tiba di sebuah gerbang perumahan mewah.


"Aku bangun rumah di daerah sini. Aku pikir tinggal di apartemen gak baik. Gak ada lapangan tempat Divan main. Lebih dari itu, keamanannya. Aku takut Divan ke balkon tanpa sepengetahuan kita," jelas Dira. Bia mengangguk.


Mobil itu masuk melalui pintu gerbang berwarna hitam yang sangat tinggi. Empat orang pertugas keamanan menunggui gerbangnya. Tanah taman yang memisahkan gerbang dan bagian depan rumah. Bia yakin, berjalan dari depan rumah ke gerbang saja akan membuat kaki pegal.


Sampai di depan rumah, ketiganya turun dari mobil dan disambut beberapa pelayan. Rumah dengan desain modern dan mewah. Saking besarnya terasnya saja seluas rumah Bia di rusun Mrs. Carol.


"Ini rumah kita." Sambil menggendong Divan, Dira menuntun keluarga kecilnya masuk. Langit-langit rumah yang tinggi, lampu kristal yang tergantung di bagian entrance ruangan dan tangga yang melingkar dengan anak tangga yang lebar. Bia sama sekali tak pernah membayangkan akan tinggal di rumah seperti ini lagi.


Dira berjalan menaiki tangga. Ada delapan pintu besar di lantai dua. Dira membuka pintu pertama di sebelah kanan. Ada sebuah kamar dengan dinding berwallpaper pororo. Tempat tidur senada dengan dinding. Dira sepertinya tahu benar apa yang disukai anaknya itu.

__ADS_1


"Pololo!" seru Divan. Anak itu turun dari pangkuan Dira dan melihat-lihat mainannya.


"Apa ini gak berlebihan?" tanya Bia melihat betapa mewahnya kamar Divan.


"Dia anak pertamaku, masa aku itung-itungan." Di kamar Divan ada tempat mandi bola, perosotan hingga kereta mainan juga mobil-mobilan mainan yang menyala otomatis.


Bia geleng-geleng kepala sedang Dira terkekeh melihat Divan begitu senang mencoba mainan barunya. Dira menghampiri Divan yang tengah berada di kolam bola plastik. "Kamu senang, gak?" tanya Dira.


"Senang! Divan senang! Papah makacih," ucap Divan sambil berlari ke arah Dira, memeluk leher papahnya lalu mengecup pipi Dira dengan gemas.


...🍁🍁🍁...


Awalnya mungkin Divan tak masalah bermain dengan senang di kamarnya. Begitu malam larut, ia mulai terlihat manja mendekati Bia. Divan tak mau turun dan terus duduk di pangkuan ibunya.


Divan masih terpikir kata-kata Dira yang meminta ibunya jangan tidur di kamar Divan. Namun, kamar ini luas sekali dan Divan merasa kecil. "Mamah, main ja sini. Mainan buat mamah. Bobokna sini, ya?" pinta Divan yang merasa ketakutan.


Bia mengangkat tubuh Divan agar terbaring di pangkuannya. "Masa Mamah biarin Divan tidur sendirian? Pasti Mamah jagain Divan, kok."


Barulah wajah Divan merasa senang. Tangannya menyentuh wajah ibunya. Bia merasa seperti kembali ke masa saat Divan baru lahir. Saat jemari putra kecilnya itu menyentuh wajah dan mengusapnya, Bia seakan tak punya keinginan apapun lagi selain membuat anak itu bahagia.


Bia mencium telapak tangan Divan. "Mah, dangan nangis," ucap Divan. Anak itu seakan tahu apa yang ada dalam hati Bia. Kesedihan, kebingungan, dan semuanya.


Langit masih gelap. Baru tiga jam sejak mereka tiba di Heren. Sekarang pukul sembilan malam dan Divan masih saja mengajak Bia mengobrol. Sementara Dira masih menata studionya.


"Nenek kapan cini?" tanya Divan.

__ADS_1


"Nanti kita ke rumah Nenek. Papah bilang kalau Papah libur. Sekarang Divan mainnya setiap hari sama Mamah. Kan Mamah gak kerja lagi."


Meski agak kecewa jauh dari Nenek yang mengasuhnya, ia senang karena akan menghabiskan waktu dengan ibunya. Hal yang selama ini tidak Divan dapatkan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Dira begitu membuka pintu kamar Divan masih mendengar suara anak itu. Lekas Divan bersembunyi dengan menggelamkan wajah di perut Bia.


Dira menghampiri istri dan anaknya. Ia usap kepala Divan. "Cepat tidur, jagoan. Ini sudah larut malam. Kamu pasti capek perjalanan jauh. Nanti kamu sakit lagi," saran Dira.


Wajah Divan menghadap ke Dira. "Bobokna sama Mamah. Dak sendili," pinta Divan dengan wajah memelas.


"Iya sama Mamah. Kamu pasti takut kalau sendirian," timpal Dira. Bibir Divan melengkung dan terlihat ada lesung di pipinya. Dira mengecup kening Divan. "Sekarang tidur, ya."


Dengan lembut Divan mengusap wajah Dira kemudian mengecup pipi Papahnya. "Divan bobok duyu. Malam Papah," ucapnya.


Dira bangkit. "Kamu temani Divan tidur. Aku juga mau tidur, capek. Seharian nyetir tangan sampai kebas," pamit Dira. Setelah itu Dira ke luar dari kamar Divan dan menutup pintu.


Divan turun dari pangkuan Bia lalu naik ke tempat tidur. "Mamah, tepuk-tepuk," pinta Divan. Lekas Bia berbaring di samping Divan dan menepuk-nepuk punggungnya.


Divan memeluk Bia dengan erat. Sementara Bia menggertakan giginya. Lagi-lagi Dira bersikap begitu dingin. Bukan seperti ini kehidupan pernikahan yang Bia impikan. Tidak ada kecupan selamat malam juga ucapan yang manis dari Dira. Dalam pikiran Dira hanya ada Divan dan seakan mempertegas alasan Bia ada di rumahnya hanya karena ada Divan.


"Kalau seperti ini terus, aku juga akan menganggap keberadaanku di sini hanya sebagai ibunya Divan, bukan istrimu!" batin Bia.


Sementara itu Dira terbaring di kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar. Kemudian tangannya meraih bantal dan memeluknya. "Sabar Dira, anakmu lebih butuh ibunya sekarang," ucapanya menenangkan diri.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2