
Divan menarik napas panjang. Ketika turun dari mobil, ia melihat Silvina dan Davina tengah mengobrol dengan ayah mereka. Tak ingin menemui Silvina akibat masalah tanda tangan, Divan berlari masuk ke dalam hingga lupa tak pamitan pada papahnya.
"Divan!" panggil Dira. Ia bingung karena selama di mobil putranya tak marah sama sekali, tapi begitu turun langsung lupa pamitan.
Sementara itu, Divan terus berlari ke kelas. Jantungnya berdebar takut ketahuan Silvina. Sudah beberapa minggu bahkan dipotong waktu liburan Divan ke Emertown, ia masih belum tahu apa itu tatakan tangan. Meski sudah mencoba lupa, melihat Silvina tetap membuat Divan kepikiran.
Bel masuk berbunyi. Divan menyimpan tas di dalam rak, kecuali botol minumnya. Ia bersyukur berbeda kelas dengan Davina, takut Silvina menagih lewat adiknya.
"Divan, mana gambarnya?" tanya guru saat mereka mendapat tugas menggambar apel saat mempelajari tema tanaman. Divan berlari ke depan kelas dan menunjukan gambarnya.
Guru Divan memberikan tiga stempel lalu menggunakan pulpen membuat coretan di sana. "Ini napa dicoret-coret lagi?" protes Divan karena gambar bagusnya harus jadi jelek akibat coretan pulpen gurunya.
Ibu guru tertawa. "Ini tanda tangan, sayang. Tanda kalau Divan sudah menunjukkannya pada guru," jelas ibu gurunya.
Divan mengedip-ngedip. "Tanda tangan?" tanyanya. Gurunya mengangguk. Divan menepuk jidat. Pantas saja orang tuanya tak ada yang mengerti, ia salah bicara.
"Ayok, Divan ceritakan gambarnya di depan teman-teman," pinta gurunya. Divan mengangguk. Ia memegang buku gambar di depan dada dan menunjukkan di depan kelas. Teman-temannya lekas memperhatikan Divan.
"Hai, gaess! Aku mau nunjukkin gambar ini. Ini apel, bentuknya lope-lope di udara. Warnanya merah. Rasanya manis, Divan juga. Mamah Divan suka makan apel buat diet karena gendut," ceritanya.
Gurunya sampai menahan tawa akibat cerita Divan. Ini efek kebanyakam ngevlog. "Apa itu lope-lope di udara?" tanya gurunya.
__ADS_1
Divan menyimpan kertas gambar di atas meja. Ia membentuk love dengan lengkungan jemari di kedua tangannya. "Kata Oom Matteo, ini namanya lope-lope di udara. Tuh sama Bu Guru sama apel," cerita Divan. Gurunya mengangguk.
Ia memberikan Divan tambahan stempel. "Kamu cerdas sudah bisa menyamakan bentuk geometri dengan benda," puji gurunya. Divan mengangguk. Ia mengambil kertas gambarnya lalu kembali ke meja.
Sampai duduk kembali di kursi belajar, Divan berpikir keras. "Ini tanda tangan," ucapanya. Jari telunjuk ia gunakan untuk mengikuti coretan pulpen buatan gurunya itu.
"Gampang, lah!" ucapnya. Divan mengambil pensil di dalam tempat pensilnya. Ada kertas HVS di sisi kelas untuk anak-anak ini belajar mencoret.
Divan mencontek tanda tangan gurunya. Ia mencoba berkali-kali agar hafal. Awalnya agak sulit. Lama-lama ia bisa, persis sama seperti ia belajar meniru menulis huruf.
"Wouh, Divan bisa!" serunya senang.
Bel istirahat berbunyi. Divan lekas keluar kelas untuk bermain. Ia tertegun melihat Davina sudah berada di depan kelasnya. "Vina!" panggil Divan senang. Ia tak takut lagi karena sudah bisa tanda tangan.
Divan menggeleng. "Divan kemarin pulang payung ke Emertown. Tunggu sini, ada oleh-oleh," serunya.
Divan berbalik dan kembali ke kelas. Ia buka rak dan mengambil tasnya. Ada sebungkus keju Emertown di sana. Keju yang rasanya enak dan warnanya sedikit jingga.
"Vina, ini buat Vina. Dimakan, ya? Enak loh." Divan memberikan keju itu pada Davina. Tak lama Divan mengeluarkan selembar kertas yang sudah ia lipat segi empat kecil. "Ini buat Kak Silvina. Kasihin, ya," pesannya.
Davina mengangguk. Ia sangat senang karena Divan masih mau main dengannya. Lebih dari itu, ia juga diberi oleh-oleh hasil Divan pulang payung.
__ADS_1
Jadwal pulang sekolah saat itu, Davina berjalan sambil melompat-lompat girang. Ia melihat Silvina sudah berdiri di depan mobil sambil berkacak pinggang. "Kamu kenapa lama sih?" protesnya.
Davina menunduk. Ia sedih karena lagi-lagi membuat kakaknya kecewa. "Maaf Kak Sil, tadi Vina diminta Bu Guru nyanyi di kelas," jelas Vina.
"Iya gak apa-apa. Kita pulang sekarang, Vin. Mamah sudah menunggu di rumah," ajak papahnya. Davina mengangguk. Sementara itu Silvina naik duluan ke mobil dengan wajah kesal.
Mobil itu berjalan meninggalkan lingkungan sekolah. Davina dan Silvina duduk di kursi belakang.
"Papah, Vina dapat oleh-oleh dari Divan," cerita anak itu.
"Benarkah? Mana?" tanya papah tirinya. Pria itu memang sayang pada Davina. Ia tidak membeda-bedakan antara Davina dengan putrinya.
Vina mengeluarkan kemasan keju dari tasnya. "Ini, Pah. Keju kata Divan. Nanti di rumah bagi-bagi makannya, ya?"
Tak lama Davina mengingat sesuatu. Ia kembali mengeluarkan kertas dari tasnya lalu ia berikan pada Silvina. "Ini kata Divan buat kakak," ucap Vina.
Silvina manyun. "Ih, kamu dapat keju kenapa aku cuman kertas. Gak mau, ah! Ini ambil saja, aku mau ini!" Silvina melempar kertas pemberian Divan ke pangkuan Davina lalu merebut keju dari tangan adik tirinya.
Davina menunduk sedih. Bukan karena keju, tapi kakaknya tak mau menghargai pemberian Divan yang menurut Davina tulus.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Masalah bocah jangan baper dulu, ya? 🤣🤣😆