
"Bi, cium!" Dira terus mengucek-ucek pipi Bia dengan pipinya. Niat Bia ingin membaca buku akhirnya batal karena sejak tadi Dira terus menganggu sampai nekat memancing keinginan Bia untuk main boneka-bonekaan di atas tempat tidur.
Bia membelai rambut Dira. Sementara Dira malah sudah main menyingkap rok tidur Bia. "Pelan-pelan, Dir."
"Nunggu apa lagi, kejadian langka Divan gak di rumah." Dira terus saja memelas. Bahkan tali dress Bia diturunkan hingga ke sikut. Seperti biasa Dira selalu bermain dengan dada Bia seperti bayi.
"Kamu masa gak puas, sih? Tiap hari lho kita kayak gini." Bia memindahkan tangan Dira dari dadanya.
"Kalau Divan pulang pasti kamu di suruh tidur di kamar dia lagi." Dira melingkarkan lengan di perut Bia. Rambutnya diusap-usap ke perut dan membuat Bia merasa geli.
Kini tangan pria itu berpindah ke bagian belakang kepala Bia. Ia tarik agar wajah istrinya mendekat. Setelah berjarak lima senti meter, Dira memajukan bibirnya dan mengindra bibir Bia dengan jaringan kulit di bibirnya.
Lama bibir mereka berpagutan. Dira melepas sentuhan itu lalu duduk menghadap Bia. Ia kecup kening Bia sebelum membaringkan tubuh Bia di tempat tidur.
Dimulai dengan membuka sleting di bagian punggung dress, Dira menurunkan kain yang sudah terjahit itu dan membuat tubuh putih Bia tanpa kemasan selain pelindung dada dan segitiga bermuda.
Dira lebih senang bermain seperti itu dulu untuk mengantar Bia ke tengah perjalan agar membuka pintu. Hingga Bia mulai terbiasa dengan permainan, barulah Dira melepas seluruh kemasan hingga isinya polos seperti bubur tanpa pelengkap. Tinggal Dira mulai membawa Bia menuju stasiun selanjutnya.
"Jangan main-main terus, donk!" pinta Bia. Ketika Dira hanya menggunakan tangan dan bibir untuk menjaring kenikmatan.
Dira tertawa. "Mau suruh masuk sekarang keretanya?" tanya Dira. Bia mengangguk meski wajahnya merona malu. Tak mau menunggu lama, setelah pintu terowongan terbuka, Dira langsung memajukan keretanya. Mungkin karena sudah lembab dan licin, kereta mudah sekali lewat di sana.
Desau Bia menghiasi kamar Dira. Mereka saling bersahutan mengucap interjeksi sebagai simbol kenikmatan. Dira masih memaju mundurkan tubuhnya dan Bia berusaha membandingi. Berkali-kali kereta itu maju dan mundur masuk keluar stasiun.
"Kamu suka, sayang?" tanya Dira. Bia hanya mengangguk karena tak bisa menahan sensasi luar biasa ketika Dira memasukan kereta hingga ke bagian dalam dan menetap lumayan lama di sana.
"Keluarin sebentar donk, Nyet! Gak tahan." Bia memukul pelan dada bidang Dira. Pria itu menurut saja. Ia dengan pelan memundurkan keretanya. Justru itu semakin membuat Bia mengerang saking terasa sedap hingga ke otak.
Ponsel berdering. Ada telpon dari Matteo. Dira tak ingin malamnya terganggu. Ia tutup telpon itu dan melemparnya ke karpet.
Tangan kuat Dira membalikan tubuh Bia. Ia posisikan Bia sebagai kuda dan ia jadi penunggangnya. Dira menciun bagian tengkuk Bia dan membuat Bia semakin sensitif ketika disentuh.
__ADS_1
Malam itu juga pertahanan Bia ambyar. Ia ikuti permainan Dira dimulai ganti posisi hingga pindah tempat di sofa, ayunan hingga di meja.
"Kamu kenapa masih nafsu begini?" Kalimat Bia tersendat-sendat karena lelah.
"Kamu yang bikin begitu," bisik Dira begitu seksi dan membuat Bia kembali tertarik ke arena permainan. "Cukup kamu saja sudah. Aku gak butuh yang lain. Kamu saja sudah bikin gak mau keluar kamar."
Bia tersenyum. Ia lingkarkan lengan di leher Dira. Bia pasrah saja ketika Dira menaik-turunkan tubuh Bia di atas pangkuan Dira. Dalam posisi itu, kereta semakin lancar masuk ke dalam terowongan.
...🍁🍁🍁...
Suara burung terdengar dari luar kamar. Bia terbangun di pelukan Dira. Berniat bangkit, Dira malah semakin kencang memeluk tubuhnya.
"Aku mau mandi," keluh Bia sambil menekan pipi Dira. Pria itu menelusup ke leher Bia sambil mengeluarkan lenguhan manja. "Dira kalau gak bangun aku kasih kecoa."
"Gak ada kecoa di rumah ini," jawab Dira serak.
"Di luar ada ulat." Mendengar jenis serangga, Dira langsung bangun. Dia duduk menghadap Bia sambil memeluk selimut dengan rambut berantakan.
"Bangun terus mandi. Nanti Divan keburu pulang."
Bia mengangguk saja. Mereka berjalan ke kamar mandi berdua dan berendam di bathtub yang sama. Bia memainkan gelembung sabun yang melimpah. Sementara Dira lebih senang menikmati hangatnya air untuk melepas kepenatan. Hari ini dia sudah harus kembali kerja setelah satu minggu hanya mengerjai istrinya.
"Bi, tahu gak? Dulu aku sangat ingin jadi penyanyi. Setelah tahu rasa lelahnya, rasanya aku ingin berhenti dan menyanyi sesuka hati seperti saat sekolah dulu," keluh Dira sambil memeluk Bia dari belakang.
"Itu pilihan kamu. Aku gak bisa maksa. Lagipula bukannya kamu bilang kalau jadi penyanyi itu hobi bukan cari popularitas. Kalau sekarang, bukannya malah jadi kebalikannya?"
Dira mengangguk. Begitu masuk dalam dunia entertaiment Dira sudah lupa pada tujuan sebenarnya. "Kamu sendiri? Gak mau kuliah lagi?"
Bia berbalik. Ia rebahkan kepalanya di bahu Dira. "Dulu aku mau jadi guru TK agar bisa mendidik anakku sendiri dengan benar. Sekarang aku punya anak dan semua ilmu parenting aku dapat di internet. Apalagi yang mau aku cari?"
"Anak ke dua?" celetuk Dira sambil mengecup bibir Bia.
__ADS_1
Bia terkekeh. "Kamu tahu bikinnya saja. Ngurusnya gak mau!"
"Kata siapa?"
"Lha, emang selama ini kamu ngurus Divan?"
"Kan kamu yang sembunyiin, gimana aku ngurus?"
Perdebatan mereka berakhir saat bunyi telpon terdengar. Telpon itu ada di sisi dinding dekat bathtub. Dira mengangkatnya.
"Dir? Ini Papah." Di seberang sana Ernesto bicara dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Kenapa, Pah? Tenangkan diri dulu," saran Dira mendengar napas cepat ayahnya.
"Nenekmu masuk rumah sakit. Keadaannya semakin parah. Papah dalam perjalanan ke Emertown. Kamu susul dengan Bia, ya?" jelas Ernesto.
Seketika Dira ikut muram. "Iya, Pah. Dira siap-siap dulu."
Dira keluar dari bathtub dan membersihkan diri di shower room. Sementara Bia masih terdiam kebingungan di dalam bathtub.
"Ada apa, Dira?"
Selesai membersihkan diri, Dira melingkarkan handuk di tubuhnya. "Kita ke Emertown, Nenek masuk rumah sakit."
Bia menutup mulutnya. Lekas ia keluar dari bathtub dan membuka sumbatan bak mandi itu kemudian membersihkan diri.
Dengan penuh kekhawatiran, Bia dan Dira mengemasi pakaian mereka. Bia membantu mengabsen keperluan Dira takut ada yang terlewat.
"Aku suruh pelayan siapkan mobil dulu. Kamu sarapan dulu biar gak lemas," saran Bia sambil membawa sepiring menu sarapan untuk Dira.
Dira mengangguk. Pandangannya menurun sejak ia mendengar kabar Neneknya. Bia menutup pintu kamar. "Kasihan dia, pasti gelisah."
__ADS_1
🍁🍁🍁
aku mo ngemis poin nih. Ya kali saja masih ada receh habis vote yang lain, sisain juga buat vote Bia, ya? 🙏