
Divan terbaring sambil memegang perut. Dokter sudah memeriksanya. Tepat seperti perkiraan Bia, perut Divan keram karena makan sesuatu yang dingin terlalu banyak. Syukur karena tahu salah, Divan mau minum obat. Tak seperti biasanya, kalau minum obat meski dipaksa, dipuji, diberi hadiah dulu baru mau.
Satu lagi fakta yang Bia baru tahu, Divan sangat menurut pada Dira. Bahkan hanya karena Dira melotot saja, Divan langsung menurut untuk tidur dan berbaring. Lain dengan Bia. Mereka pasti harus berdebat hingga beronde-ronde hingga akhirnya Divan setuju atau Bia mengalah.
"Dasar anak-anak, lihat es krim saja langsung semangat sampai gak sadar nyiksa badan," omel Bia.
Dira terkekeh. "Kayak kamu gak gitu saja. Umur Divan belum tiga tahun, pantas saja. Kamu sendiri ulang tahun ke tujuh belas makan es krim satu ember sampai muntah. Lupa?" ledek Dira.
Wajah Bia langsung memerah. Kalau ingat kekonyolannya saat itu rasanya gak percaya Bia bisa jadi seorang ibu. "Gak usah bahas itu bisa, kan?" protes Bia. Meski kesal, ia tetap menunduk malu.
Bia mengompres kening Divan sementara Dira mengusap perut putra kecilnya itu. Mereka setengah terbaring menghadap Divan yang terlelap di antara keduanya. Divan sesekali mengusap hidung.
Karena Divan mengusap keningnya, handuk pengompres jatuh ke kasur. Hendak Bia mengambil dan Dira juga melakukan hal sama. Jadilah tangan keduanya saling bersentuha. Bia dan Dira berpaling. Wajah keduanya berubah malu.
Kamar pengantin mereka sangat luas. Ada kamar mandi yang luas juga ruangan tidur dan santai. Di balkon ada kolam renang. Fasilitas lainnya juga sangat lengkap, dari wifi hingga keperluan makanan bintang lima yang tersedia dan tinggal kirim ketika kita minta.
"Dir, gordennya bisa tolong tutup?" pinta Bia. Dira mengangguk. Ia turun dari kasur pengantinnya yang bernuansa putih lalu berjalan ke pintu kaca besar yang menghadap langsung ke balkon dan pantai.
__ADS_1
Gorden abu-abu itu Dira tutup lalu kembali lagi berbaring di samping Divan. "Kamu masih takut hantu?" tegur Dira.
Bia menggeleng dengan mantap. Ia sudah lupa apa itu hantu sejak hidup sebatang kara. "Kenyataan hidup lebih mengerikan tahu! Apalagi kenyataan kau tinggalkan daku sendirian," kelakar Bia.
Dira menoyor jidat istrinya. "Sama sekali gak lucu untuk dibuat bahan bercandaan. Aku hanya memastikan saja. Kamu tahu perkerjaanku, kan. Nanti aku manggung bisa sampai tengah malam dan baru pulang menjelang pagi. Kalau kamu masih takut hantu, bagaimana nanti kalau ditinggal di rumah."
Bia menggeleng. "Selama ini aku 'kan hanya tinggal berdua dengan Divan. Aku masih baik-baik saja. Kalau mau kerja, pergilah. Aku tak masalah," timpal Bia.
Dira mengangguk-angguk. Ia yakin sekarang wanitanya ini sudah jauh lebih dewasa daripada dulu. "Maaf, ya," ucap Dira pendek. Bia mengerutkan keningnya. "Karena tidak bisa langsung mengumumkan pada publik soal hubungan kita."
"Kalau capek tidur saja, biar aku yang kompres," saran Dira. Ia bisa melihat garis hitam di bawah mata Bia. Pasti semalam kemarin, Bia tak bisa tidur karena banyak pikiran.
"Gak, kamu saja tidur sana. Aku sudah biasa jagain dia kalau sakit."
Divan menepis handuk basah di keningnya lagi. Bia menarik napas panjang. Kalau dia sudah nolak dikompres sampai dua kali artinya sudah mendingan. Divan berbalik. "Nah, kalau tidurnya sudah miring gitu artinya sudah baikan. Dia kalau sakit tidurnya pasti terlentang gak mau ngebalik," jelas Bia.
Dira mengangguk. Banyak hal yang harus ia pelajari tentang Divan. Kadang ia merasa sudah sangat dekat dengan putranya. Lain saat Divan tiba-tiba kesal karena Dira melakukan hal yang tidak sesuai keinginannya. Saat itu Dira merasa telah gagal menjadi ayah.
__ADS_1
"Aku ingin tahu sebenarnya anakku ini seperti apa," celetuk Dira.
Bia tersenyum geli. "Tanya saja pada diri kamu sendiri. Kalian ini 'kan sifatnya sangat mirip. Bahkan dengan masalah kebersihan. Kotor sedikit saja pasti minta dicuci," timpal Bia.
Dira mengangguk. "Ya sudah kamu tidur kalau gitu. Pasti capek. Besok dia pasti masih ingin diperhatikan."
"Iya, ini mau tidur." Bia menarik selimut hingga menutupi tiga perempat tubuh Divan lalu memeluk anak itu.
Dira bangkit, ia ambil bantal. "Kamu tidur sama Divan, biar aku di sofa saja. Kasian dia," saran Dira. Tanpa menatap Bia, dia langsung pindah ke sofa lalu berbaring dan tertidur.
Bia mendengus. "Bahkan gak ucapin selamat tidur! Dasar!" batin Bia. Ia masih menatap Dira dari kejauhan. Pria itu terlihat lelap tertidur. Semakin lama semakin kesal juga.
"Apa habis nikah dia nyesel?" gerutu Bia dalam hati. Ia remas ujung selimut karena kesalnya. Dira yang tertidur pulas berbalik membelakangi Bia. Justru itu semakin membuat hati Bia menyala-nyala. "Dari awal dia memang gak niat nikah kayaknya!" omel Bia dalam hati.
Bia menarik selimut lalu menutup mata dengan paksa sambil memeluk Divan. Ia mencoba terlelap meski susah karena kekesalan dalam hatinya memuncak. Suaminya sama sekali tak romantis.
🍁🍁🍁
__ADS_1