
Brugh
Brugh
Pukulan demi pukul diterima Aric tanpa perlawanan. Lusius, bukan laki-laki pirang itu tidak menyentuh Aric. Dia menyuruh tiga anak buahnya untuk menghajar Aric. Sedangkan dia sendiri berdiri dibelakang Lily, dengan sebilah belati yang ia tekankan di leher wanita itu.
"Pemandangan yang indah bukan," bisik Lusius dari belakang telinga Lily.
"Hentikan, tolong hentikan. Apa sebenarnya yang kau mau? lepaskan kami, lepaskan Aric," mohon Lily dengan sangat.
Wanita itu terus saja menangis, bagaimana dia tega melihat suaminya babak belur, penuh luka dan darah. Adam juga masih belum sadar, anak kecil itu tergeletak di lantai dengan di jaga satu anak buah Lusius.
"Aku mau dia, tapi sepertinya dia tidak akan pergi bersamaku." Lusius menekan belati kecil lebih dalam pada leher Lily.
"Emg ...." Lily merasa perih di lehernya.
"Mati kau!"
Brugh.
Aric membalas pelukan anak buah Lusius dengan satu tendangan, sesuai perjanjian semula. Tiga serangan satu balasan, Aric mengambil satu balok kayu kemudian memukulkannya tepat di tengkuk salah satu dari mereka. Orang itu jatuh dan tak sadarkan diri.
Aric menyeringai, ia menyerang dua orang yang tersisa. Satu dari mereka berusaha mengunci tangan Aric. Namun, dengan sigap Aric menghindar kemudian membalas serangan deh sebuah pukulan di kepalanya.
Lusius tersenyum, ia sangat menyukai Aric seperti itu. Beringas, tak kenal ampun. Lily merasa tidak mengenal Aric, ekspresi wajah itu belum pernah Lily lihat sebelumnya. Aric terlihat sangat kejam dan menakutkan.
"Lihatlah, itulah Aric yang sebenarnya. Aric milikku," bisik Lusius, seperti sangat puas dan senang dengan pertunjukan yang ada dihadapannya.
Aric bersimbah darah, selain darahnya. Darah dari musuhnya juga berbaur di tubuhnya, Aric terus memukul pria yang sudah terkapar di lantai. Tiga lawan satu, Aric memenangkan pertarungan itu.
"Aric," panggil Lily lemah.
Suara lembut yang membelai indra pendengarannya, membuat Aric tersadar. Ia menoleh kearah Lily yang tengah melihatnya dengan tatapan bingung, antara takut dan senang.
Aric melemparkan balok kayu ke lantai, ia berjalan mendekati Lily.
"Hey ... mau kemana? diam di sana atau pisau ini akan dengan senang hati menggores kulit J*lang ini," ancam Lusius,ia semakin menekan pisau leher Lily. Hingga cairan merah meleleh dari sana.
Lily meringis merasakan sakit. Mata Aric membeliak, sorot matanya kembali memancar tajam. Dia terpaksa menghentikan langkahnya yang tinggal sedikit lagi dari Lily.
"Jauhkan tanganmu darinya Lusius!" tegas Aric.
"Hahaha ... dia hanya seorang wanita Aric, ini tidak sebanding denganmu. Kembalilah, kita bisa bersama seperti dulu," bujuk Lusius dengan wajah memelas dan penuh harap.
"Semua bisa berubah Lusy, aku sudah selesai. Kau juga, perjalanan hidup masih panjang. Jangan terjebak di sini."
"B*"lshit ... Diam! kau berubah, kau meninggalkanku!' Teriak Lusius dengan marah.
"Dengar, aku tidak pernah meninggalkanmu, aku hanya tidak bisa berkerja sama denganmu jika soal bisnis itu Lusy. Tapi jika kau mau kita masih bisa melakukan hal lain." Aric mulai berjalan perlahan mendekati Lusius.
"Kau mau bersamaku lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja, sejak kecil kita bersama. Kenapa aku tidak mau bersamamu lagi."
Aric semakin mendekat. Lusius, laki-laki itu menatap lekat pada Aric.
"Ya kita tumbuh bersama. Kau masih ingat itu A."
"Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa dengan masa lalu kita."
Tinggal sejengkal dan ...
Dor
Aric dengan cepat mengeluarkan pistol, dan menembak kepala anak buah Lusius yang menjaga Adam.
Dor
sedetik kemudian, ia melepaskan tembakan ke bahu kanan Lusius. Pisau yang tadinya mengalungi leher Lily akhirnya terjatuh.
"Kau! demi J***ng ini kau menipuku A," geram Lusius.
"Dia hidupku!"
Brugh!
Sebuah pukulan keras Lusius terima di dadanya, Aric menyeret tubuh Lusius menjauh dari Lily, dengan brutal Aric terus menghajar pria bertubuh tinggi itu.
"Ugh ... Terus A, terus menyentuhku," ujar Lusius dengan kepuasan di wajahnya.
Tak ada raut wajah kesakitan, walaupun Aric terus memukulnya.
Tangan Aric yang sudah mengepal pun tertahan di udara, sesuai permintaan Lily. Aric menghempaskan tubuh Lusius ke lantai, ia berbalik menghampiri istrinya.
"Kenapa berhenti, pukul aku A. Pukul aku!" teriak Lusius.
Aric tak menggubrisnya, Aric bersimpuh didepannya sang istri. Membuka ikatan tangan dan kakinya, Lily mengusap lembut pipi Aric kemudian memeluknya erat.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Aric.
"Terima kasih, Terima kasih sudah menyelamatkanku." Lily kembali menangis.
"Sst ... jangan menangis, kita harus keluar dari sini sekarang. Apa kau baik-baik saja? Aku akan mengendong Adam. Kita keluar sekarang," ujar Aric sambil mengusap air mata Lily.
Bau anyir darah tercium dari tangan Aric, entah darahnya sendiri atau darah musuh Lily pun tidak pasti.
Lusius berusaha untuk berdiri, ia sungguh geram melihat kemesraan Aric dan istrinya.
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat." Lusius berdiri dengan susah payahnya.
Aric tidak menoleh atau mendengarkan Lusius, ia fokus membantu istrinya berdiri. Perlahan mereka berdua berjalan menghampiri Adam, Aric berjongkok. Ia melepaskan semua ikatan Adam, kemudian mengendongnya.
"Aric! dengarkan aku, bunuh aku atau kau yang akan mati!" Teriak Lusius marah, Aric mengabaikannya lagi.
__ADS_1
Aric melihat sekilas pada Lusius dengan tatapan datar, acuh. Seolah menyatakan dia tidak perduli lagi dengan laki-laki itu, atau apapun yang ia ucapkan.
Aric mengandeng tangan sang istri, mereka melangkah menuju gerbang.
"Berhenti di sana, lawan aku pengecut! Apa J***ng itu membuatmu lemah, heh!"
Aric menghentikan langkahnya, amarahnya kembali memuncah mendengar Lusius mengatakan istrinya adalah wanita ******. Lily mengeratkan genggaman tangannya, Aric menoleh. Lily menggeleng, sudah cukup Lily melihat orang mati hari ini.
"Keluar dan ribuan anak buahku akan menyambut mu!"
"Aric!"
"Anak buah yang mana Lusius? di luar sepertinya sepi." seorang laki-laki berambut panjang hitam masuk, dengan di temani oleh sang kekasih yang Helena.
"Maaf sedikit terlambat." Marquis mengacungkan jari berbentuk V pada Aric..
Aric hanya bisa mengambil nafas, sementara Lily dia menatap Marquis, Helena dan Aric secara bergantian.
Lusius merasa geram, rencananya gagal begitu saja. Tidak, ini tidak boleh terjadi! Jika Aric bukan miliknya, maka tidak ada siapapun yang bisa memilikinya.
Lusius dengan sekuat tenaga berlari kearah Aric.
"Aric awas!" pekik Marquis.
Jleb.
Sebuah pisau menancap punggung Aric, Lusius menyeringai puas.
"Haaaa....!" Lily berteriak sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Helena segera menolong Lily, Marquis mengambil Adam dari gendongan Aric.
Aric terhuyung, ia membalikkan badannya. Menarik pelatuk pistol, menembakkannya kedua paha Lusius.
Lusius jatuh bersimpuh, dia menatap Aric dengan penuh rasa kecewa dan sedih.
"Kenapa kau tidak bisa bersamaku, A?"
"Aku tidak bisa sepertimu!" tegas Aric.
"Kalau begitu, bunuh aku, A. Aku akan puas mati di tanganmu."
Aric menggeleng.
"Aku tidak bisa, kau temanku. Aku menghargai persahabatan kita."
"Menghargai, tapi kau tidak bisa membalas rasaku padamu. Kau menyiksaku."
Aric tidak menjawab. Ia berbalik, menyimpan kembali pistolnya.
Marquis menatap iba pada Lusius. Pria itu, sungguh mengenaskan, hidup dalam obsesinya sampai seperti ini.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan Lusius di gudang itu sendirian. Pria pirang itu tergeletak, darah mengalir dari luka-lukanya.
Hawa di sekitar mulai terasa dingin, ia menatap langit-langit gudang yang lapuk dan berlubang. Pada akhirnya Lusius sendirian. Dari dulu dia selalu sendirian.