
Seorang wanita muda mendesah nikmat, melayani seorang pria dewasa yang sudah tidak lagi muda.
"Ah .... Om pelan-pelan," ujar Cindy, wanita itu tengah penuh peluh.
"Sshh... Ah ...!" bukannya pelan pria paruh baya itu semakin liar menyodok bagian belakang Cindy.
Permainan terus memanas, pria dengan perut buncit itu terus mengerakkan tubuhnya menikmati kemolekan tubuh Cindy.
Cindy tak ubahnya pel**ur meskipun ia menolak untuk disebut seperti itu. Pria itu adalah salah satu Sugar Daddy Cindy, tentu saja dia punya lebih dari satu sugar Daddy untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang glamor.
Sejak Guntur membatasi jumlah Limit kartu kreditnya, Cindy memutar otak. Dia tidak bisa meninggalkan kehidupan yang serba mewah dan penuh hingar-bingar itu, mau taruh dimana mukanya, jika ia bertemu dengan teman-temannya. Cindy sudah terbiasa hidup seperti itu, dia tidak bisa tanpa uang.
Toh apa susahnya, menjadi sugar baby seperti ini hanya butuh bermanja dan menemani om-om yang kurang belaian istrinya. Tinggal buka paha dan uang akan datang dengan sendirinya.
"Uang jajan kamu sudah Om transfer," ucap laki-laki sambil kembali memakai bajunya, setelah puas bermain dengan Cindy.
"Makasih, Om," ucap Cindy dengan manja. Tubuhnya masih polos tertutup dengan selimut hotel.
Brak.
Pintu kamar terbuka dengan kasar, seorang wanita dengan wajah garang masuk bersama beberapa orang yang memegang ponsel.
"Ma- Mama," ucap pria paruh baya itu dengan terbata, wajahnya pucat pasi melihat wajah nyalang sang istri.
"Hebat kamu ya, laki-laki nggak tau malu. Hidup kamu cuma numpang! Dan kamu!"
Wanita itu berjalan mendekati ranjang, menatap marah bercampur jijik pada Cindy. Tatapannya begitu tajam dengan senyum yang mengerikan.
"Agh ... sakit!" pekik Cindy saat wanita itu menarik rambutnya.
"Kamu p**acur nakal, berani-beraninya kamu merayu bandot tua itu. Apa Kamu tahu, dia bayar kamu pake uang saya!" teriakannya marah.
"Apa salahku, aku hanya muasin dia, kamu aja yang nggak bisa jaga suami jangan salahkan aku," Cindy ikut meninggikan suaranya, meskipun dengan wajah yang meringis menahan sakit.
"Dasar wanita murahan." Wanita itu menyeret Cindy turun dari ranjang dengan paksa.
Cindy berusaha meronta, tetapi tenaga wanita itu lebih kuat. Cindy melihat ke arah Sugar Daddy-nya untuk meminta pertolongan, tapi pria itu hanya menunduk ketakutan.
"Nih, hati-hati para istri. Sekarang pelakor nggak harus cantik, model begini aja sudah bisa lho. Asal bisa goyang di kasur." Wanita melepaskan tangannya dari rambut Cindy dengan kasar, kemudian ia mengisyaratkan pada beberapa teman yang mengikuti dia untuk merekam Cindy.
__ADS_1
Cindy berusaha untuk menutupi bagian inti dan dada dengan kedua tangannya, ia sungguh ketakutan. Cindy hanya bisa terus menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Kita lihat, apa setelah ini kamu masih punya muka bertemu orang. Dan kamu Mas, aku tunggu penjelasan kamu di rumah, jika tidak memuaskan aku. Tunggu saja surat cerai dariku."
"Mama, Maafin papa ... Papa khilaf, dia yang selalu godain papa Ma," kilah pria itu.
"Om kok gitu, kita sama-sama enak. Kenapa sekarang aku yang salah!" sahut Cindy tidak terima.
"Diam kamu ******!"
Pria itu pergi mengejar sang istri, yang sudah melangkah keluar dari kamar meninggalkan Cindy sendirian.
"Agh ....!" teriak Cindy frustasi. Hancur sudah semuanya, bagaimana dia bisa bertemu dengan orang lain jika berita ini sampai menyebar.
.
.
.
.
.
Guntur Wiguna masih terduduk lemas, sementara sang istri, Ana sudah menghapus air matanya. Dia sadar posisinya sekarang. Tidak ada yang bisa membantu mereka kecuali Lily.
Ana bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Lily. Ia menggenggam tangan wanita itu, menatap Lily dengan memohon.
"Li, kamu bilang sama suami kamu untuk tidak mengambil aset Ayahmu. Kamu sudah kami asuh dari kecil, memenuhi semua kebutuhan kamu sampai kamu kuliah. Apa kamu tidak ingin membalas budi pada kami?"
Hati Lily seolah tersayat mendengar semua yang Ana ucapkan. Tadinya, Lily mengira Ana akan meminta maaf atau setidaknya berkata lembut padanya, tetapi ternyata dia salah. Wanita malah menagih hutang budi padanya.
"Balas budi? budi mana lagi yang harus saya kembalikan? sejak kuliah saya sudah berkerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri, bahkan sisa gaji saya juga saya berikan pada Anda."
Lily melepaskan tangan Ana dengan kasar.
"Setiap hari di rumah itu, saya berkerja sebagai babu, apa itu yang kamu sebut mengurus saya dengan baik!"
Aric membiarkan Lily meluapkan semua emosi yang ia pendam selama ini. Lily menatap nyalang pada Ana, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu hanya mengadopsi saya dari panti asuhan untuk menjadi pengganti pembantu di rumah kamu tidak lebih!" teriak Lily.
"Setelah itu kamu dengan mengusir saya, membuang saya ke jalanan. Dan sekarang kamu datang meminta balas budi, apa kamu tidak tahu malu!"
"Jangan kurang ajar kamu Ly. Jangan mentang-mentang kamu sekarang kaya, kamu bisa menghina saya, kamu hanya wanita Ja**ng, perempuan murahan yang nggak jelas!"
"Kurang ajar! kamu belum melihat seberapa kurang ajar saya!"
"Hakim seret mereka keluar! jangan biarkan mereka ada masuk ke perusahaan ini lagi!" perintah Lily.
Hakim segera turun tangan, dia menyuruh dua sekuriti yang sudah bersiap di depan ruangan Presdir. Dua orang bertubuh gempal itu memegangi kedua tangan Ana yang terus meronta. Menyeret dia keluar.
"Heh, L***e! kamu berani mengusir saya, dasar wanita murahan. Lihat saja, aku akan membalas semua perbuatan kamu!" teriak Ana.
Aric segera memeluk erat tubuh Lily, menutup kedua telinganya agar tidak mendengar kata-kata kotor yang Ana ucapkan.
Hakim membantu Guntur berdiri, tetapi laki-laki itu menolaknya. Dia bangkit dengan bertumpu pada kedua lututnya.
"Atas Nama keluarga saya, saya bener-benar minta maaf." Guntur membungkuk dihadapan Lily, menunjukkan
bertapa dia merasa bersalah.
Lily hanya menatap sekilas pada pria paruh baya itu. Ia tahu Guntur tulus meminta maaf pada Lily, tetapi hatinya terlalu sakit untuk mengatakan sesuatu.
Hakim mengantarkan Guntur keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Aric dan istrinya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih," ucap Aric dengan tangan yang mengusap lembut rambut Lily.
Lily menggeleng pelan, ia tahu Aric melakukan ini semua untuknya.
"Aku tidak apa-apa, Terima kasih. Tapi apakah kita tidak keterlaluan melakukan ini?"
"Apa kau merasa kasihan pada mereka?"
"Aku tidak perduli dengan wanita itu, tapi Ayah. Dia satu-satunya orang yang perduli padaku di keluarga Wiguna, meskipun aku harus bekerja keras untuk itu,"jawab Lily.
"Tapi pada akhirnya dia juga mengusir mu."
Lily tersenyum getir, apa yang dikatakan Aric benar. Namun, hati kecil Lily merasa tidak tenang. jika Lily melakukan ini, apa bedanya dia dengan mereka.
__ADS_1
Lily menarik sedikit wajahnya, agar bisa melihat Aric dengan jelas. Ia menatap mata hazel itu dalam.
"Apa yang kau inginkan? katakan saja." Aric tahu Lily ingin mengatakan sesuatu dari sorot matanya.